Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 30 - End of Book 1


__ADS_3

"Kenapa kalian melakukan ini?" teriak seorang bocah laki-laki dengan luka di sekujur tubuhnya.


Mayat seorang bocah perempuan tergeletak di sampingnya. Beberapa anak panah menancap di tubuh mayat yang terbujur kaku itu.


Sepasang bocah laki-laki dan perempuan berdiri di depan mereka. Si Bocah Perempuan memegang anak panah di tangannya sedangkan si Bocah laki-laki memegang sebuah batang kayu yang diruncingkan.


Bocah Laki-laki yang memegang kayu bernama Tiga Satu dan memanggil dirinya Gasa, sedangkan si Bocah Perempuan yang memegang busur panah dari bambu bernama Tiga Dua.


Kalau Tian berada disini, dia akan langsung mengenali si Tiga Dua, karena dia adalah sahabat Tian yang memiliki panggilan Tia.


Gasa dan Tia memang bukan pasangan monster, tapi mereka berdua pernah merasakan serum genetis membantu proses evolusi tubuh mereka.


Tia berhasil masuk ke tiga besar untuk kategori Intelligence sebanyak 4 kali, sedangkan Gasa pernah masuk ke tiga besar untuk kategori Strength sebanyak 2 kali.


Tentu saja, Tia yang berperan sebagai Strategist dalam tim mereka. Meskipun dia belum layak dianggap 'real' Strategist seperti Tian dengan skor Intelligence Capability melebihi 5 poin, tapi nilai IC Tia telah melewati skor 3,3 poin. Dia memiliki kecerdasan 3 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa normal.


Tia jugalah yang memutuskan untuk melakukan serangan ke pasangan kandidat yang sekarang ada di depan mereka. Sama seperti Gaju dan Tian yang menyadari kejamnya aturan Ujian Eliminasi yang diciptakan oleh Pulau, Tia juga memahaminya.


Pulau memberikan kuota sejumlah 10 pasangan untuk lolos ke Tahap Tiga. Cara termudah adalah dengan membiarkan alam melakukan seleksinya sesuai keberuntungan masing-masing kandidat. Tapi ada cara yang lebih cepat dan efektif untuk melewati ujian ini, dengan membunuh kandidat lain yang lebih lemah dan mempercepat proses seleksi alam yang terjadi.


Yang kuat akan bertahan hidup, yang lemah akan disingkirkan.


Hukum rimba dan hukum paling dasar yang mengikat semua mahluk hidup yang ada di muka bumi, tak terkecuali manusia.


Itulah aturan dasar yang sedang ditanamkan oleh Pulau kepada para Kandidat.


"Jangan menyalahkan kami. Inilah yang diinginkan oleh Pulau. Dan kami hanya mengikuti apa yang mereka inginkan," jawab Tia dingin.


"Gasa!" lanjut Tia ke arah soulmatenya.


Gasa tahu apa yang Tia maksud. Dia berlari dengan tombak kayu di tangannya kearah Bocah Laki-laki yang terlihat berdiri pasrah di tempatnya. Dia sudah kehilangan soulmatenya, satu-satunya orang yang peduli dengan dirinya dan mengakui keberadaannya. Tanpa soulmatenya, Bocah Laki-laki itu sama sekali tak memiliki cukup motivasi untuk melanjutkan hidupnya.


Si Bocah memejamkan matanya saat Gasa tepat berdiri di depannya. Tak lama kemudian, dia merasakan sakit luar biasa di dadanya. Rasa sakit yang dia tahu berasal dari tombak kayu yang menancap di dadanya.


Cairan yang memberikan rasa asin dan amis terasa di rongga mulutnya, tapi Bocah itu tak peduli. Dia tahu kalau ajal sedang menjemputnya.


"Kuharap kalian tetap bisa bertahan hidup di tempat yang gila ini," bisik si Bocah lirih.


Dia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya sebelum akhirnya tumbang ke samping, ke sebelah soulmatenya, orang terpenting dalam usianya yang singkat itu.


Tiba-tiba, sebuah helikopter tanpa awak turun dari arah atas dan mendarat di dekat Gasa dan Tia. Sebuah hollogram terlihat diproyeksikan dari ujung depan helikopter itu, hollogram sang Professor yang tidak mengenakan topengnya.


"Selamat, kalian memenuhi kriteria untuk memenuhi persyaratan untuk lolos ke Tahap Tiga. Pesawat angkut ini akan membawa kalian ke Komplek sambil menunggu kandidat yang lain menyelesaikan Ujian Eliminasi ini," kata Sang Professor.


Tia terkejut, dia tahu kalau menghabisi nyawa Kandidat lain akan mempercepat proses eliminasi, tapi dia tidak menyangka sama sekali kalau Pulau akan memberikan tiket langsung untuknya dan Gasa.


"Kalau begitu, jangan-jangan, Gama, Koma, dan Koga?" Tia tersenyum pahit, dia sadar kini kalau para Kandidat itu lebih menakutkan daripada ancaman binatang buas yang ada di Hutan.


\=\=\=\=\=


Di tempat lain.


Seorang bocah laki-laki menggendong bocah perempuan di punggungnya. Bocah perempuan itu terlihat seperti sedang menahan sakit tapi tidak ada luka yang jelas terlihat di tubuhnya.


"Tinggalkan aku, kamu bisa lari lebih cepat tanpa aku," bisik si Perempuan lirih.


"Tidak. Aku akan selalu menemanimu. Hidup atau mati," jawab si laki-laki yang terlihat tersengal-sengal.


Tak jauh di belakang mereka, segerombolan laba-laba berukuran sekepalan tangan orang dewasa bergerak dengan cepat mengejar mereka berdua. Sesekali mereka akan meloncat menghindari ranting pohon dan semak belukar yang menghalangi laju mereka.


Mereka adalah segerombolan Laba-laba Api.


Tak seperti namanya, Laba-laba Api tidak tinggal di dekat kawasan yang 'berapi' atau daerah dengan suhu panas ekstrim. Mereka justru tinggal di daerah lembab, seperti goa, jurang atau celah bebatuan di dekat sungai.


Kedua bocah tadi tanpa sengaja bertemu dengan gerombolan Laba-laba Api ini saat sedang mengambil air di sungai untuk memuaskan dahaga mereka.


Saat itu, si perempuan yang sedang mengambil air dengan kantong air buatan mereka sendiri digigit oleh salah satu Laba-laba Api yang meloncat keluar dari sela-sela batu di dekatnya.


Bocah perempuan itu tahu kalau binatang yang menggigitnya adalah Laba-laba Api yang mematikan. Sangat mudah untuk mengenali Laba-laba Api karena warna tubuh mereka yang berwarna merah menyala terang seperti api. Sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.


Si Perempuan tahu kalau salah satu aturan terpenting untuk bertahan hidup di alam liar adalah jangan pernah cari masalah dengan mahluk yang memiliki warna mencolok karena itu artinya binatang tersebut punya cukup ancaman mematikan tanpa takut untuk menyembunyikan dirinya.

__ADS_1


Malang tak dapat dihindari, dia sudah terlanjur digigit oleh Laba-laba Api tersebut dan dia juga merasakan efek racun mulai bekerja di tubuhnya. Dia berjalan bersusah payah ke arah soulmatenya untuk menyuruhnya berlari.


Tapi, reaksi soulmatenya justru di luar dugaannya, tanpa ragu si bocah laki-laki langsung menggendong si bocah perempuan dan berlari menuju ke arah komplek dengan satu tujuan.


Memperoleh antidot untuk racun Laba-laba Api dari Pengurus di Komplek.


Naif.


Tapi hanya itu yang ada dalam pikirannya. Si Bocah laki-laki adalah seorang Strategist. Dia tahu kalau Ujian Eliminasi hanya akan berakhir saat kandidat tersisa hanya 10 pasangan. Dia hanya berusaha melakukan yang dia bisa karena hanya itu jalan keluar satu-satunya yang terpikirkan olehnya.


Dia berlari menggendong soulmatenya dan berharap dalam hati di saat yang sama akan ada kandidat lain yang berguguran, dengan harapan, saat mereka sampai di Komplek, mereka menjadi salah satu kandidat yang lolos dalam seleksi ini.


Tapi, dia lupa kalau dia adalah seorang Strategist. Kemampuannya ada pada kelebihan di kecerdasan otak, bukan kemampuan fisik. Setelah menggendong soulmatenya dan berlari menghindari kejaran Laba-laba Api sejauh 2 km, dia mulai kehabisan stamina dan kelelahan.


Dan disinilah mereka sekarang.


Seorang bocah laki-laki dengan bocah perempuan di punggungnya berhadapan dan dikepung oleh ratusan Laba-laba Api dengan warna merah menyala.


"Mengenalmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu sendirian menjemput ajalmu?" bisik bocah laki-laki itu yang disambut senyuman manis oleh gadis di punggungnya.


"Terima kasih, untuk semuanya," jawab si bocah perempuan lirih dan memeluk erat si bocah laki-laki dengan kedua tangannya.


Hari keempat Ujian Eliminasi.


4 pasangan lolos, 10 pasangan tereliminasi.


\=\=\=\=\=


Suasana hening menyelimuti training field yang ada di belakang gedung kelas. Training field yang sama untuk lokasi Physical test mereka dua tahun lalu dan digunakan untuk test yang sama berkali-kali selama Tahap Pertama dulu.


Dua puluh anak berusia 12 tahun terlihat berdiri berpasang-pasangan di lapangan itu. Mereka saling menjaga jarak dengan pasangan Kandidat yang lain.


Pemandangan yang sangat kontras dengan empat hari lalu saat mereka berkumpul sebelum Ujian Eliminasi dimulai. Dimana anak-anak itu masih berdiri bergerombol sesuai dengan grup mereka selama ini berinteraksi.


Sebuah hollogram muncul di depan mereka, hollogram sang Professor.


Begitu hollogram itu muncul, sebagian Kandidat langsung memperlihatkan sikap permusuhan dan sorot mata penuh kebencian. Orang yang di depan mereka saat ini yang telah membuat mereka mengalami pengalaman terburuk dalam hidup mereka selama empat hari terakhir.


"Selamat!!!!"


Tapi, tak satupun Kandidat tersenyum ketika melihatnya.


"Hahahahahahaha," Professor tertawa keras sekali saat melihat reaksi para Kandidat.


Setelah itu, raut muka Professor berubah serius. Semua mimik riangnya tadi menghilang seketika.


"Inilah yang diinginkan Pulau."


"Kalian bisa merasakannya?"


"Perubahan diri kalian, empat hari lalu dan sekarang. Kalian bisa merasakan bedanya?"


"Inilah inti dari Ujian Eliminasi. Membuat kalian 'dewasa'. Membuat kalian mengerti arti penting kehidupan. Membuat kalian mengerti aturan dasar dari Pulau."


"Nyawa kalian bukan di tangan Pengurus, bukan di tanganku, bukan di tangan orang lain."


"Nyawa kalian ada di tangan kalian sendiri."


"Kalian semua punya hak untuk bertahan hidup, tapi kalian sendiri yang wajib untuk mempertahankannya."


"Kalian semua adalah kompetitor."


"Kalian semua adalah pesaing."


"Itulah inti dari Ujian Eliminasi."


Tiba-tiba seorang kandidat melempar batu yang ada di bawah kakinya ke arah hollogram Professor. Hollogram itu terlihat 'blink' sedikit tapi kembali seperti semula.


"Ba***at!!!!"


"Kau pikir nyawa kami hanya mainan? Tahukah kau apa yang kami alami di dalam hutan?" teriak si Kandidat itu.

__ADS_1


Professor hanya tertawa kecil, "ada alasan kenapa aku selalu hadir di depan kalian dalam wujud seperti ini. Karena Kandidat sepertimu!"


"Kalian pikir kenapa Komplek Pengurus dikelilingi pagar pelindung yang lebih kuat dan memisahkannya dari Komplek Utama?"


"Kenapa selama Tahap Kedua yang berjalan 2 tahun ini kalian dibiarkan belajar mandiri tanpa Guru?"


"Karena kami tahu kalau kalian akan melampiaskan kemarahan kalian kepada kami."


"Hahahahahahahaha."


"Kalian terlalu naif jika berpikir bisa membalas kami atau melawan kami."


"Kami sudah memikirkan semuanya puluhan bahkan ratusan langkah jauh di depan kalian."


"Dan aku juga ingin memberi tahu kalian satu rahasia."


"Saat Program ini berakhir, jika ada separuh dari kalian yang sekarang berdiri disini tetap dapat bertahan hidup, maka itu adalah sebuah keajaiban."


Kedua puluh Kandidat yang berdiri di lapangan ini terdiam dan sebagian besar di antara mereka menunjukkan ekspresi sedih. Perjalanan mereka ternyata masih panjang.


Tian menggenggam erat jemari Gaju. Dia kini sadar, semua Kandidat yang ada disini adalah musuhnya. Satu-satunya orang yang bisa mereka percayai adalah soulmate masing-masing.


Kini mereka mulai sadar betapa pentingnya soulmate mereka dan kenapa Pengurus selalu menekankan untuk bekerja sama sebaik mungkin dengan soulmate masing-masing. Karena tanpa soulmate, tanpa seseorang yang bisa dipercaya, sebagian besar Kandidat pasti akan lebih memilih mengakhiri hidupnya saat dihadapkan oleh kondisi yang diciptakan oleh Pulau.


Professor kemudian melambaikan tangannya, sederet nama kemudian muncul di depannya.


"Tidak semua Kandidat yang lolos ke Tahap Tiga cukup punya keberanian untuk menjadi seorang penyerang. Kalian lebih memilih meringkuk bertahan dan menyerahkan semuanya kepada nasib dan alam."


"Itu pilihan kalian."


"Tapi, ada sebagian kandidat yang memilih menjadi penyerang, pemangsa, attacker, atau predator. Mereka layak mendapatkan penghargaan dari Pulau."


"Karena yang terkuatlah yang akan bertahan hidup."


"Para Predator, masing-masing akan mendaparkan 5 serum genetis sesuai dengan spesialisasinya."


"Yang lain, tidak akan mendapatkan apa-apa."


"Selamat kepada para Pemangsa. Jadilah kuat, makin kuat dan yang terkuat."


"Tiga Lima dan Tiga Enam."


"Kosong Lima dan Kosong Enam."


"Kosong Tiga dan Kosong Empat."


"Tiga Satu dan Tiga Dua."


"Para Pecundang yang memilih meringkuk dalam kandangnya. Yang membiarkan orang lain menentukan nasibnya. Jadilah batu asahan bagi Para Pemangsa."


"Kosong Sembilan dan Satu Kosong."


"Satu Satu dan Satu Dua."


"Satu Tujuh dan Satu Delapan."


"Satu Sembilan dan Dua Kosong."


"Dua Lima dan Dua Enam."


"Tiga Tujuh dan Tiga Delapan."


Professor menarik napas dalam. Dia mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.


"Selamat datang di Tahap Ketiga."


Setelah itu Professor tersenyum kecil dan hollogram itu raib dari hadapan 20 orang Kandidat yang ada di lapangan.


"Aku akan terus survive. Jika ada diantara kalian macam-macam denganku, kalian akan berakhir sama dengan kedua puluh orang itu," kata Koga keras dan setelah itu dia meninggalkan lapangan setelah mengeluarkan ancamannya.


Tian melihat ke arah Gaju dan tersenyum, "Gaju, kini akulah satu-satunya orang yang bisa kamu percayai. Bisakah kita mengulangi semuanya dari awal lagi?"

__ADS_1


Gaju menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum, "let's fight the world together."


Selesai


__ADS_2