Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 113 - The End part 2


__ADS_3

Tian hanya menangis dan menundukkan kepalanya. Dia juga tak menyangka kalau semuanya terjadi secepat ini.


Tian berpikir mungkin setelah Tahap Ketiga, akan ada Tahap Keempat dulu selama beberapa waktu. Tapi, ruangan, meja dan dua buah pisau diatasnya membuat dia yakin kalau waktunya perpisahan tiba.


Dan Tian tak bisa membendung airmatanya karena semua itu.


\=\=\=\=\=


"Aku ingin Prajurit sempurna tanpa kelemahan yang disebut emosi," tiba-tiba terdengar sebuah suara dalam setiap ruangan yang dimasuki oleh para Kandidat dan semua orang tahu suara siapa itu, suara si Gila, Professor MoMu.


"Kalian semua adalah prajurit sempurna, sebagian dari kalian bahkan sudah menjadi Petarung Level 2, seorang Super Human yang setara dengan Knight dan Beast King."


"Dengan kekuatan yang kalian miliki, kalian lebih dari layak untuk mulai memimpin pasukan Dunia Bawah yang sudah disiapkan."


"Tapi..."


"Sebagai seorang Pemimpin, cepat atau lambat, kalian akan dihadapkan pada sebuah pilihan dalam mengambil keputusan."


"Dan aku ingin kalian bisa menggunakan kepala kalian saat itu terjadi."


"Aku ingin kalian mengambil keputusan tanpa dipengaruhi perasaan."


"Sebagian dari kalian, mungkin saling mencintai, mungkin saling membenci, dan bahkan mungkin sama sekali acuh tak acuh."


"Tapi semua itu adalah bentuk dari sebuah emosi."


"Kelemahan terbesar yang dimiliki oleh ras kita."


"Aku ingin kalian menghilangkan batasan emosi itu."


"Aku ingin kalian meninggalkan penjara tak berwujud yang selalu membelenggu logika kalian."


"Ambil pisau itu dan habisi soulmatemu."


"Saat ini semua berakhir, aku hanya ingin memiliki 5 orang Jenderal yang pemberani, kuat dan tak terbelenggu oleh emosi."


"Ini adalah batu asahan terakhir yang harus kalian lewati, lakukan dan bebaskan diri kalian. Setelah ini, tak ada lagi yang membatasi kalian. Kalian akan menjadi petarung yang sudah dibaptis dan siap untuk bertarung untuk umat manusia," kata sang Professor mengakhiri ceramahnya.


\=\=\=\=\=


Di dalam ruangan ketiga, Gama tersenyum kecil.


"Pada akhirnya, ini semua harus terjadi. Maafkan aku Tien. Tapi bagiku, kamu bukanlah apa-apa. Aku tak membencimu, tapi aku juga tak pernah menganggapmu. Kamu sudah cukup menikmati indahnya hidup bersama Koga kan?" gumam Gama pelan.

__ADS_1


Tien melihat ke arah Gama dengan mata terbelalak ketakutan, sekejap mata kemudian, Tien merasakan rasa sakit luar biasa di bagian dadanya.


Sebuah pisau tertancap disana dan Gama sudah kembali berdiri di tempatnya semula.


"Kalau boleh jujur, aku memimpikan hal ini ribuan kali selama beberapa tahun ini. Betapa memuaskannya menancapkan sebuah pisau ke dadamu. Seorang wanita tanpa integritas yang hanya ikut kemana angin membawanya," kata Gama sambil tersenyum.


"Dan jujur saja, rasanya sangat memuaskan, sama seperti dalam bayanganku selama ini," bisik Gama sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Kau?" gumam Tien di sela-sela hembusan napas terakhirnya.


Tien tak menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini.


Tapi semua sudah terlambat, hanya kegelapan yang menantinya saat ini.


Gama menjadi Kandidat pertama yang tanpa ragu menghabisi soulmatenya.


\=\=\=\=\=


Di dalam ruangan keempat.


Koma berdiri dan saling berhadapan dengan Songnam. Dia menatap gadis itu dengan dingin. Sebuah pisau tergenggam di tangannya dan terlihat siap terhunus untuk menusuk lawannya.


Songnam hanya terdiam dan menatap Koma tanpa menyentuh pisau di atas meja.


Koma mendengarkan kata-kata Songnam dan tak menjawabnya.


"Aku... Aku... Aku sebenarnya tak pernah sekalipun disentuh oleh Koga selama beberapa tahun ini. Aku berani bersumpah kalau itu benar," lanjut Songnam.


"Tapi aku tahu kau membenciku. Mmm. Setidaknya bolehkah aku mempunyai permintaan terakhir?" tanya Songnam.


Koma terlihat berpikir sebentar lalu dia menganggukkan kepalanya.


"Katakan, tapi aku tak berjanji kalau aku bisa memenuhinya," jawab Koma dingin.


"Huft," Songnam menghembuskan napasnya.


"Aku tak akan meminta sesuatu yang sulit," kata Songnam.


"Aku hanya ingin menciummu. Setidaknya untuk yang terakhir kali," lanjut Songnam.


Koma terdiam dan terlihat ragu-ragu.


"Kalau kamu tak percaya, aku akan melepas semua senjataku dan bahkan bajuku. Kamu juga boleh memegang pisau itu ditanganmu. Apakah kamu masih ragu?" tanya Songnam.

__ADS_1


"Terserah," kata Koma akhirnya.


Dengan tangan bergetar, Songnam melepas semua senjata ditubuhnya dan bahkan membuka baju camou miliknya. Dua buah tonjolan yang tadi tertutup kini terlihat jelas di depan mata Koma.


Koma laki-laki normal tentu saja dia bereaksi, tapi Koma tak sebodoh itu untuk lengah dan terpancing oleh nafsu.


Koma berdiri diam saja dan membiarkan Songnam berjalan mendekat ke arahnya. Wajah cantik khas Korea dipadu dengan rambut panjang berwarna hitam miliknya, membuat Koma merasakan sensasi aneh yang dengan susah payah dia tekan.


Koma seorang Assassins dan Assassins macam apa yang akan tergoda oleh hal di depannya.


"Humph," Koma mendengus dan semua hasrat yang tadi mulai mengaburkan logikanya kini terbang menghilang.


Songnam seolah-olah tak terpengaruh oleh tingkah Koma dan terus mendekat perlahan.


Ketika mereka berdua berdiri hanya dalam jarak setengah meter, Songnam maju dan mencium bibir Koma.


Koma terdiam dan bibirnya mengatup, sama sekali tak membalas ciuman Songnam.


Songnam tak patah semangat, dia terus mengulum bibir Koma dengan mesra dan menutup matanya. Songnam mendesah perlahan dan terlihat menikmati ciuman satu arah itu.


Lama kelamaan, Koma juga mulai tak sanggup menahan gelora dalam dirinya. Dia mulai membuka bibirnya dan membiarkan lidah Songnam yang dengan cepat masuk ke dalam.


Setelah beberapa menit, Songnam melepaskan ciumannya dengan muka memerah.


"Koma, itu adalah ciuman terindah yang pernah kulakukan. Sayangnya aku tak bisa menikmatinya lagi," bisik Songnam pelan.


Koma masih berada dalam dekapan sensasi yang asing dan nikmat tadi ketika mendengarkan kata-kata Songnam barusan.


"Aku juga. Maafkan aku, tapi aku harus menghabisimu," gumam Koma sambil menggenggam erat pisau di tangannya.


"Tidak. Kau tak mengerti maksudku. Maksudku, aku tak bisa menikmatinya lagi karena semua orang yang berciuman denganku akan mati setelah melakukannya," jawab Songnam sambil tersenyum.


"Aku berkata jujur tadi. Aku memang tak pernah disentuh oleh Koga sejak beberapa tahun lalu, lebih tepatnya sejak aku mendapatkan Poison Implant dan menggunakannya," kata Songnam.


"Implant terkutuk itu membuat siapapun yang terkena cairan dari tubuhku dan masuk ke organ dalamnya akan mati dalam hitungan detik, sekalipun jumlah cairan itu hanya beberapa tetes," lanjut Songnam dengan nada sedih.


"Kau!!" kata Koma yang tiba-tiba saja merasakan seluruh tubuhnya lemas tanpa tenaga.


Koma lalu merasakan sekelilingnya mulai diselimuti kegelapan saat dia mendengar kata-kata terakhir Songnam.


"Setidaknya, kamu bisa mati tanpa merasakan sakit apa pun. Dibandingkan dengan diriku yang harus hidup dalam kesendirian tanpa ada siapa pun yang mau berdekatan denganku. Aku rasa, kamu jauh lebih beruntung."


Songnam menyusul Gama menjadi Kandidat kedua yang berhasil menghabisi Soulmatenya.

__ADS_1


__ADS_2