Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 90 - Kupu-kupu


__ADS_3

“Please confirm the purchase?”


“Confirm!” jawab Gaju dengan tegas.


Belasan menit kemudian sebuah pesawat helicopter yang terbang tanpa suara menjatuhkan sebuah kotak hitam ke arah Gaju dan Tian. Ini pembelian item pertama mereka sejak Tahap Ketiga dimulai. Mungkin bagi Kandidat seperti Gaju dan Tian, melakukan pembelian di saat Tahap Ketiga sudah berlangsung selama 3 bulan adalah suatu hal yang sulit dipercaya. Tapi, seperti itulah kenyataannya.


Setelah Gaju dan Tian berhasil melewati proses verifikasi dari si Kotak Hitam, kini dua buah benda berada di tangan Gaju. Sebuah suntikan lengkap dengan jarumnya yang siap untuk digunakan. Di dalam suntikan itu terdapat cairan berwarna biru gelap yang terlihat seolah menyejukkan mata.


Item kedua yang ada di dalam kotak hitam itu dan kini sudah berada di tangan Gaju adalah sebuah benda yang menyerupai flash disk. Gaju dan Tian bisa menebak apa yang tersimpan dalam benda itu.


Gaju mengulurkan suntikan yang ada di tangannya kepada Tian. Tian melihat ke arah serum itu dengan raut muka sedih tanpa sepatah katapun. Tangan Gaju tetap terulur meskipun Tian tak kunjung menyambutnya.


“Gaju bodoh!!” teriak Tian sambil menyambar serum yang diulurkan oleh Gaju dan berlari meninggalkan soulmatenya.


Air mata terlihat mengalir dari mata Tian saat dia membalikkan tubuhnya. Gaju melihatnya, tapi dia hanya bisa mengatupkan rahangnya. Ini semua demi masa depan mereka. Meskipun Gaju sedikit merasa aneh dengan kegigihan Tian saat menolak idenya untuk membeli serum itu.


“Silakan menangis, silakan benci aku. Tapi ini semua demi kebaikan dan keselamatanmu sendiri,” gumam Gaju pelan.


\=\=\=\=\=


Tahap Ketiga, Day 100.


Grusaaaakkkkkkkk.


Boooommmmmm.


“Uhuk uhuk,” seseorang terlihat sedang terbatuk-batuk setelah melesat keluar dari gumpalan debu yang beterbangan dan bercampur dengan daun-daun yang hancur.


Dia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mulutnya dan melirik tajam ke sesosok gadis manis yang tertawa kecil di atas sebuah dahan pohon tak jauh darinya.

__ADS_1


“Tian!!” teriak Gaju sambil mendelik.


Tian meloncat turun dari atas dahan pohon, tapi tidak seperti Gaju yang akan menggunakan kekuatan fisiknya untuk mendarat dan menyebabkan bekas injakan di tanah serta bunyi keras saat dia menjejakkan kaki, Tian melakukannya dengan berbeda.


Tian tidak bisa dikatakan meloncat, gerakan Tian lebih tepat disebut dengan melayang. Tian melayang turun, seperti seekor kupu-kupu yang dengan anggun melayang turun secara perlahan dan mendarat ke pucuk bunga tanpa suara, tanpa membuat sang bunga atau tangkai yang diinjaknya bergoyang sama sekali.


Anggun. Elegan. Menakjubkan.


Tian sudah melakukan hal itu berkali-kali, tapi sampai detik ini, Gaju masih juga belum bisa membiasakan diri.


“Psiko-Kinesis sialan!!” maki Gaju dalam hati dengan nada iri.


Tapi tentu saja bercanda. Tak mungkin kan dia iri kepada kekasihnya sendiri?


“Poin-nya sudah diambil?” tanya Tian dengan suara lembut dan tersenyum kecil ke arah Gaju.


“Belum. Bagaimana mungkin aku mengambilnya? Seranganmu saja hampir membunuhku tadi,” sungut Gaju.


Setelah Tian menyuntikkan Intelligence Enhancement Serum ke tubuhnya sepuluh hari lalu, selama dua hari Tian kehilangan kesadaran diri. Dia mengalami mimpi yang panjang dan melelahkan. Tapi Tian tak menganggapnya sebagai mimpi buruk yang menghantui. Karena Gaju menemaninya disana.


Ketika Tian tersadar dan membuka matanya untuk pertama kali dua hari kemudian, Tian kehilangan kata-kata.


Dunia di sekitarnya sudah berubah.


Daun terlihat lebih hijau. Udara terasa lebih segar. Angin terasa sejuk di kulit wajahnya. Tian seperti benar-benar datang ke dunia lain yang belum pernah disinggahinya. Dia tak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam sambil melihat ke sekelilingnya.


Satu-satunya hal yang membawa Tian kembali adalah sosok remaja laki-laki yang sedang sibuk menyiapkan makanan di dekatnya dan terlihat tak menyadari kalau Tian sudah terbangun, Gaju.


Tian melihat kearah Gaju dan ketika itulah dia sadar kalau ini masih dunia yang dia kenal. Dia masih berada di Pulau bersama soulmatenya dan dia juga kembali ingat bahwa dia baru saja kehilangan kesadaran setelah menyuntikkan serum ke tubuhnya.

__ADS_1


Tapi ketika Tian ingin memanggil kekasihnya, suara yang akan dia keluarkan dari mulutnya tiba-tiba saja tertahan di kerongkongan. Saat itulah dia melihat, bahwa dunia lebih tepatnya semuanya tak seperti yang selama ini Tian lihat.


Dibalik semua keindahan itu, Tian kini melihat ada ribuan bahkan jutaan garis-garis kecil yang saling tumpang tindih antara satu sama lain. Garis-garis yang beraneka warna dan tak kasat mata, menghubungkan sebuah benda yang satu dengan benda yang lainnya, menghubungkan air dan udara, menghubungkan pohon dan dedaunan.


Bahkan udara yang selama ini Tian anggap sebagai ruang bebas karena tidak ada material apapun, kini terlihat penuh sesak oleh garis warna-warni dengan alur yang tak beraturan itu. Pohon, batu, daun, tanah, serangga, hewan, langit, air, udara, semuanya, semua benda itu tak ada satupun yang terlepas dari garis warna-warni yang terasa sesak dan memenuhi setiap ruang yang ada.


Tian menarik napas dalam dan tak lama kemudian dia pun kembali pingsan.


Barulah setelah Tian mempelajari Mental Training Knowledge yang mereka beli bersamaan dengan Intelligent Enhancement Serum, Tian tahu tentang garis-garis itu.


Menurut para ilmuwan yang mendalami tentang psiko-kinesis, semua benda yang berada dalam ruang 3 dimensi sebenarnya terkoneksi satu sama lain. Dari sanalah muncul berbagai teori tentang hukum sebab-akibat, karma dan bahkan teori chaos.


Koneksi itulah yang oleh para ilmuwan disebut dengan mental energy. Ketika kecerdasan seseorang melampaui batasan tertentu dalam kapasitas otaknya, secara otomatis, otak akan memaksa tubuh untuk bekerja dan beradaptasi dengan keberadaan mental energy.


Itulah yang terjadi dengan Tian setelah dia terbangun. Garis berwarna-warni yang dia lihat sebenarnya adalah energy yang dimiliki oleh setiap benda dan disebut sebagai mental energy oleh para ilmuwan.


Setelah itu, latihan Tian pun dimulai sebagai seorang Pyschic.


Sesuai Mental Training Knowledge yang dia miliki, seorang Psychic sebenarnya hanyalah seorang manusia yang bisa memanipulasi mental energy yang ada disekitarnya. Dengan kata lain, psychic dituntut untuk memanipulasi garis-garis energy yang ada di sekitar mereka.


Dan Tian pun melakukannya.


Awalnya dia mencoba untuk menyentuh garis yang memenuhi setiap sudut ruang yang ada di depannya itu, tapi dia tak bisa melakukannya.


Setelah berlatih tanpa mengeluh, dengan jumlah yang tak terhitung, Tian pun berhasil melakukannya. Dan saat dia berhasil melakukannya, tanpa sengaja Tian menarik garis energy yang terkoneksi dengan sebuah batu seukuran kepalan tangan. Ketika Tian melakukannya, batu itu bergerak dengan sangat cepat dan melesat ke arah Tian.


Tian yang tadinya hanya berniat untuk menyentuh garis energy itu, dengan panik melambaikan tangannya yang masih memegangi garis energy yang terhubung dengan batu itu ke arah Gaju yang sedang melakukan latihan fisik rutinnya.


Boooommmm.

__ADS_1


Gaju menjadi korban pertama dari serangan tele-kinesis Tian.


__ADS_2