Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 112 - The End part 1


__ADS_3

"Gaju, menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan? Kamu percaya dengan apa yang Professor Gila itu katakan?" tanya Adel.


"Sepertinya, yang dia katakan itu benar. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Dan itu sesuatu yang penting, tapi aku tak tahu apa itu," jawab Gaju.


Gaju sendiri sebenarnya lebih bingung dengan sikap Tian. Sejak live broadcast tadi, Tian terlihat aneh dan mendadak berubah jadi pendiam. Gaju tak tahu sebabnya karena itu dia kebingungan.


"Mmm. Tian, bisa kita bicara berdua," bisik Gaju pelan ke telinga soulmatenya.


Tian hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab, lalu mereka berdua berjalan meninggalkan Adel dan Aen.


Di atas tebing yang berada di belakang gua yang menjadi rumah mereka, angin berhembus pelan. Suara deburan ombak juga sayup-sayup terdengar dari bawah sana.


Matahari bersinar cerah ditemani langit biru dengan awan putih yang berarak pelan.


Indah dan sempurna, tapi saat Gaju teringat kalau semua itu hanyalah sebuah kepalsuan, sesuatu yang berat terasa menghimpit dadanya dan membuatnya susah bernapas.


"Huft," Gaju menghempaskan napas panjang dan menggenggam erat tangan Tian.


"Tian, kenapa kamu terlihat sedih?" bisik Gaju.


Tian terdiam.


"Gaju, kamu masih ingat dulu saat kita berdua di dalam gua yang gelap. Kamu pernah bertanya, jika suatu saat keadaan memaksa kita untuk memilih dan kamu harus membunuhku demi bertahan hidup. Kamu tak akan ragu untuk melakukannya kan?" kata Tian.


Gaju terdiam dan bingung dengan pertanyaan Tian yang tiba-tiba.


"Maksudmu apa?" tanya Gaju.


"Aku ingin memintamu berjanji. Jika saat itu tiba, jangan pernah berubah pikiran. Bunuh aku tanpa ragu. Janji?" tanya Tian lagi dengan tubuh yang mulai bergetar dan dia mulai menangis.


"Tian?" kata Gaju lalu dengan cepat dia memeluk Tian dan mendekapnya erat.


"Aku janji kalau hal itu tak akan terjadi. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama dan survive bersama-sama. Ya?" bisik Gaju.


Tian masih tetap menangis dalam pelukan Gaju.


"I maybe an angel, but a fallen angel. A fallen angel that can't life without her demon," bisik Tian.


"I know," jawab Gaju pendek.


\=\=\=\=\=


Sebelas orang berdiri di depan komplek pengurus keesokan paginya. Mereka terbagi menjadi empat kelompok.


Koma berdiri seorang diri.

__ADS_1


Koga berdiri bersama Em, Tien dan Songnam.


Gama berdiri bersama Tsa.


Gaju berdiri bersama Tian, Adel dan Aen.


Tepat 24 jam sejak live broadcast yang dilakukan oleh Professor kemarin, pintu gerbang komplek Pengurus terbuka. Sosok Sang Professor terlihat berjalan keluar dari gedung Komplek dan berdiri beberapa meter dari kesebelas orang itu.


Tatapan mata Professor MoMu langsung menuju ke sosok Tsa yang berdiri di sebelah Gama.


"Hitam, kenapa dia ada disini?" tanya Ptofessor MoMu dengan nada setengah bercanda.


Gama mengangkat dadanya dengan bangga dan melirik ke arah Tsa lalu tanpa ragu melihat ke arah Professor.


"Dia budakku," jawab Gama.


"Budak? Atau Kekasih," tanya sang Professor yang berdiri dengan kedua tangan di belakang badannya.


Crackle..


Tak ada yang tahu, tapi kilatan petir mulai terkumpul di tangan Sang Professor. Jika Gama salah menjawab pertanyaannya, Professor tak akan ragu untuk menghabisi Tsa saat itu juga.


"Budak!" jawab Gama tegas.


"Jika dia melawan atau menentangmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Professor.


"Bagus! Bagus! Bagus!" jawab Professor MoMu sambil tertawa kecil, dia sangat puas dengan jawaban Gama dan yang lebih membuatnya puas lagi, Gama mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.


Apa gunanya dia mendidik prajurit tangguh yang dia siapkan menjadi Jenderal perang melawan ras lain jika mereka justru berada di bawah ketiak ras lain?


Karena itu dia puas sekali dengan jawaban Gama dan mengucapkan tiga kali pujian untuk si Hitam itu.


"Hitam, kamu adalah contoh yang bagus untuk semua Kandidat yang lain. Sekarang waktunya kita memperbudak mereka, bukan sebaliknya!!" kata Sang Professor.


"Kalian semua juga, aku bangga kalian memutuskan datang kesini," kata Professor sambil mengedarkan pandangan matanya ke arah Kandidat lain.


"Akses keluar dari Pulau ini ada di bawah Komplek Pengurus. Kami menggunakan tunnel bawah laut untuk datang dan pergi," kata Sang Professor.


"Gama, biarkan budakmu disini, kami akan mengurusnya. Kalian semua ikut denganku," kata Sang Professor lalu membalikkan badan dan berjalan menuju ke arah Komplek Pengurus.


Kesepuluh Kandidat itu lalu berjalan mengikuti Professor ke dalam Komplek.


Tak lama kemudian, mereka sampai di dalam sebuah ruangan dengan lima buah pintu yang tertutup.


"Masuk ke dalam pintu itu bersama soulmate kalian. Adel masuk kesana bersama Aen. Di dalam sana ada transporter yang akan mengirimkan kalian ke Dunia Bawah melalui tunnel," kata sang Professor sambil menunjuk ke arah pintu-pintu itu.

__ADS_1


Gaju dan Tian saling berpegangan tangan dan tanpa ragu masuk ke pintu pertama.


Adel dan Aen melangkah pelan menuju ke pintu yang kedua.


Gama berjalan tanpa ragu dan tanpa menoleh kearah Tien lalu masuk ke pintu ketiga. Tien terlihat kebingungan tapi segera menyusul masuk ketika melihat pintu itu hampir tertutup.


Sama seperti Gama, Koma juga masuk pintu keempat tanpa menoleh ke arah Songnam. Tapi tak seperti Tien, Songnam tanpa ragu menyusul Koma.


Koga dan Em berjalan masuk ke pintu kelima seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.


Tak lama kemudian, kelima pintu itu sudah tertutup dan hanya Professor sendirian yang tertinggal. Sorot mata aneh terlihat untuk sesaat lalu bayangan Professor menghilang. Bukan karena sosok yang berdiri tadi adalah hologram, tapi karena kecepatan luar biasa yang dimiliki oleh Professor MoMu.


Semua Kandidat berdiri di dalam ruangan yang sempit dan hanya berukuran 2 x 2 m yang berwarna serba putih dan tidak ada benda apapun di dalam ruangan itu selain sebuah meja dan dua buah pisau di atasnya.


Gaju yang melihat ke arah pisau itu seperti terkena sengatan listrik.


Dengan kemampuan otaknya, dia langsung tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dengan kemampuan memori dan analisanya dia juga dapat menyimpulkan kalau Tian tahu semua ini akan berakhir seperti ini.


Semua keanehan yang ditunjukkan Tian. Percakapan mereka kemarin. Program Soulmate yang digagas oleh Pulau. Semuanya kini menjadi jelas bagi Gaju.


Gaju menggenggam erat tangan Tian dan melihat ke arah soulmatenya, bukan, Gaju melihat ke arah kekasihnya, Angel-nya, Belahan Jiwa-Nya.


"Kamu sudah tahu?" tanya Gaju dengan suara bergetar.


Tian diam tak menjawab. Dan Gaju tahu kalau itu artinya iya.


"Sejak kapan?" tanya Gaju dengan suara yang bergetar karena amarah yang memuncak dalam dadanya.


Tian membuka bajunya dan bekas luka goresan mengerikan yang ada di dadanya terlihat jelas.


"Sejak aku mendapatkan luka ini," jawab Tian sambil menundukkan kepalanya dan mulai menangis.


"Bedebah!!" teriak Gaju penuh amarah.


Banggggggggg.


Gaju memukul dinding ruangan itu dan retakan terlihat di sekitar kepalan tangannya yang mengenai dinding.


Dia tak pernah semarah ini seumur hidupnya.


"MoMu keparat!! Aku akan mengulitimu hidup-hidup jika aku punya kesempatan!!!" teriak Gaju dengan suara yang menggelegar.


Membayangkan Tian selama ini hidup dengan mengetahui bahwa pada akhirnya mereka harus saling membunuh dan harus tetap berusaha tersenyum bahagia untuk dirinya?

__ADS_1


Siksaan apalagi yang lebih keji dari hal itu?


__ADS_2