Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 25 - Ular Daun


__ADS_3

Bip bip bip.


"Gaju, bangun!!" bisik Tian pelan tapi mukanya memerah seketika.


Semalam bukannya aku yang meluk Gaju ya? Kok sekarang posisinya terbalik sih? batin Tian.


"Ehmm," Gaju membuka matanya dan dia tersadar kalau dirinya sedang memeluk Tian.


Gaju dengan canggung melepas pelukannya. Untungnya kondisi goa agak gelap. Hanya sedikit cahaya pagi masuk dari mulut goa. Jadi mereka berdua tidak bisa melihat raut muka masing-masing.


Tapi ini kan masih pagi sekali, kenapa Tian membangunkan aku? batin Gaju.


"Alarm perimeter yang kuset-up berbunyi. Ada yang mendekat ke tempat ini," bisik Tian.


"Oke, kamu di sini aja, aku akan melihatnya keluar," jawab Gaju dan beranjak berdiri.


"Nggak, aku ikut," jawab Tian, dia kan dah janji mau ngikut Gaju.


Gaju terdiam dan tidak menjawab, kemudian dia mengendap-endap keluar. Tian mengikutinya dari belakang, Gaju tahu dari suara langkah kaki Tian tapi dia membiarkannya.


"Yang terpicu alarm sebelah Barat Laut," bisik Tian.


"Tapi itu kan dari arah tebing di sebelah air terjun?" balas Gaju setelah berpikir beberapa saat.


"Aku tak tahu, tapi mini komputerku memberikan feedback seperti itu," jawab Tian, dia jujur soal itu, karena dia juga penasaran apa yang mengenai alarmnya.


"Oke," kata Gaju pelan.


Setelah itu dua buah bayangan bergerak dari belakang air terjun dan bersembunyi dari satu tempat ke tempat yang lain.


Mereka menggunakan kondisi alam yang ada disekitarnya untuk loncatan saat menyembunyikan diri. Batu besar, pohon besar, pohon yang tumbang dan semak-semak belukar. Seolah-olah mereka berdua sudah hapal sekali dengan kondisi di sekitar tempat ini.


Tak lama kemudian, mereka tiba di lokasi tempat alarm yang disetting oleh Tian terpicu. Dan ketika sampai di tempat itu, mereka terpana.


Seorang gadis kecil berada dalam keranjang menimpa seorang bocah laki-laki di bawahnya. Mereka berdua keliatannya jatuh dari tebing setinggi 5 meter yang ada di sebelah air terjun.


Si bocah laki-laki merintih kesakitan dan terlihat mengaduh. Sedangkan si gadis kecil dengan cueknya memakan buah yang ada dalam keranjang dan sama sekali tidak berniat membantu rekannya.


Mereka Aju dan Adel.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


"Adel, aku capek sekali Del," keluh si Aju.


"Keling, kamu pikir aku ini seorang gadis polos yang bisa kamu tipu dengan akting setengah hatimu itu?" balas Adel.


"Aku Strategist no 1 di Pulau.." tapi belum sempat Adel meneruskan kata-katanya, sudah dipotong oleh Aju, "nomer 2," nomor satunya kan Tian.


Adel mendengus, "oke, fine. Aku Strategist No 2 di Pulau. Jadi tahu betul kalau kamu baru menggunakan tak lebih dari 20% kekuatanmu, jadi jangan mencoba pura-pura capek ya?"


"Aku ini kan juga manusia, meskipun fisikku nggak capek, tapi hatiku yang kelelahan Del," jawab si Keling.


Kata-kata sok puitis yang sama sekali nggak mempan untuk si Adel. Hasilnya si Keling kena sambitan biji buah dari Adel.


Beberapa jam kemudian,


Aju terlihat lelah sekali dan Adel tahu itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat untuk bermalam. Mereka mempunyai prinsip yang sama dengan Tian. Cari tempat tertinggi dan dekat dengan air.


Mereka berkemah di dekat sungai tapi bukan di permukaan tanah. Si Adel menyuruh Aju memanjat pohon setinggi mungkin dan beristirahat disana.


Aju tahu alasan Adel. Sekuat apapun dirinya, dia tak akan sanggup melawan kawanan binatang buas yang suka berburu di malam hari dan cara teraman untuk menghindarinya adalah dengan memanjat pohon untuk bermalam.


Tapi, saat menjelang pagi, Adel tiba-tiba berteriak kencang dan membangunkan Aju yang masih terlelap.


"Aju!!!! Ular Daun!!"


Aju langsung membuka matanya. Di depan mereka seekor ular yang berwarna hijau polos dan berkilat menatap kedua bocah itu dengan tatapan seekor pemangsa kepada mangsanya.


Ular Daun bukanlah jenis ular yang berukuran sangat besar. Diameter tubuhnya hanya berukuran seperti pipa 3" atau 88.89 mm saja. Tak sampai 10 cm. Tapi Adel dan Aju tahu kalau Ular Daun sebesar itu, mampu menelan mereka bulat-bulat.


"Adel, Analisa!" kata Aju pelan dan tangannya meraih ke sebuah pisau yang terbuat dari logam dan tergantung di pinggangnya.


Aju menemukan potongan logam itu dipinggir sungai dan membuat sebuah pisau sederhana untuk berjaga diri.


Adel melihat ke sekelilingnya dengan cepat dan menemukan beberapa benda yang bisa digunakan untuk menyelamatkan mereka dari situasi sekarang.


Tak lama kemudian, Adel berkata pelan ke arah Aju, "peluang terbesar, kita meloncat turun dari pohon ini dengan menggunakan sulur yang merambat di batang pohon untuk meredam laju kecepatan kita."


"Ular Daun memiliki kemampuan luar biasa dalam memanjat pohon tapi dia sedikit kesusahan untuk turun secara vertikal. Yang mungkin dia lakukan adalah paragliding. Jadi kemungkinan tempat dia mendarat akan berbeda jauh dengan kita. Atau dia akan turun dengan melakukan lompatan zig zag dari pohon ke pohon."

__ADS_1


Adel memberikan hasil analisanya kepada Aju.


Aju mendengarkan dengan seksama, "resiko dan unknown factor?" tanya si Aju.


"Resiko, yang terbesar, massa tubuh kita melampaui berat maksimal yang mampu ditahan oleh sulur. Kita jatuh dengan kecepatan penuh. Mati."


"Unknown Factor, kontur dan medan yang ada di bawah kita. Semalam saat mencari pohon ini kita bergerak dari pohon ke pohon. Aku tak punya cukup informasi tentang permukaan tanah di bawah kita."


"Oke, eksekusi hasil analisa dalam hitungan ketiga. Kamu tetap dalam keranjang dan posisimu. Tentukan posisi sulur yang harus kita raih."


Adel dan Aju adalah pasangan fighter-strategist paling efektif di Pulau. Banyak orang yang sudah menduga hal itu, tapi bila menyaksikan keseharian mereka berdua, tidak akan ada yang menyangka kalau mereka bisa bekerjasama seefektif saat ini.


"Tiga," kata Aju pelan dan dia menyambar keranjang tempat Adel berada.


"29 derajat arah kanan," kata Adel.


Aju meloncat ke arah yang ditunjukkan Adel dan meraih tumbuhan merambat yang ada di sana dengan tangan kanannya.


Aju menggunakan tangan kirinya untuk memegang keranjang berisi Adel. Sedangkan Adel sendiri bermuka datar dan tanpa eskpresi. Pandangan matanya bergerak ke sekeliling mereka seperti sebuah kamera scanner yang sedang merekam semua yang ada di sekitarnya.


Ular Daun itu meloncat ke arah Adel dan Aju yang turun dengan menggunakan sulur. Si Ular meleset dan menabrak ranting pohon di belakang Aju. Ular Daun itu membelitkan tubuhnya ke pohon dan kembali mengincar Aju dan Adel yang terus merosot turun ke bawah.


"Adel!" panggil Aju karena sulur yang dipegangnya terlihat tak kuat lagi menahan beban mereka berdua.


"38 derajat ke arah kiri," kata Adel pelan.


Aju mengatupkan rahangnya dan meloncat dengan menggunakan batang pohon sebagai tolakan kakinya. Dia meloncat ke arah yang diberitahukan Adel dan meraih sulur tumbuhan merambat yang paling besar disana.


Tak lama kemudian si Ular Daun melompat dari pohon ke pohon dengan arah zig zag mengikuti Aju dan Adel yang bergerak turun.


Tapi tiba-tiba, Adel kaget sekali ketika melihat kalau ternyata pohon tempat mereka meluncur turun ternyata tumbuh di tebing.


Dan detik berikutnya mereka berdua terjatuh ke dasar tebing dengan posisi Aju ditimpa oleh Adel.


Tapi, Adel melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah benang halus yang ditalikan pada sebuah ranting dan diujung ranting itu sebuah alat kecil ditalikan disana.


Adel tersenyum, cuma satu orang yang dia tahu selalu kemana-mana membawa transmitter serbaguna seperti itu.


Tian.

__ADS_1


__ADS_2