Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 102 - Koga vs Gama part 1


__ADS_3

Setelah Gama menghabiskan sebuah Apel di tangannya, dia melirik ke arah Adel.


“Kamu serius Del?” tanya Gama.


“Aku serius. Aku akan memperoleh tiketku sendiri. Aku tak mau berhutang budi ke orang lain,” jawab Adel.


Memang sejak kematian Aju, Adel sempat terpukul. Selama ini, dia dan Aju dekat sekali, bukan dalam artian sebagai pasangan secara emosional, tapi lebih ke arah partner dalam bertarung. Ketika Aju tewas di tangan Tsa, Adel sempat mengalami kesulitan untuk beradaptasi dan menutupi celah yang ditinggalkan Aju.


Strategi combat mereka berdua adalah, Aju sebagai close combat fighter dan Adel akan membantu Aju dari jauh sebagai Archer. Tapi sejak kematian Aju, Adel tentu saja punya kelemahan luar biasa sebagai Archer.


Archer melayangkan serangannya kepada musuh dari jarak jauh dan sangat lemah untuk petarungan jarak dekat. Karena itu, untuk mencegah musuh menyerang Adel saat dia sedang mempersiapkan panahnya dan membidik musuhnya, seorang tanker atau penahan serangan sangat dibutuhkan, Aju mengisi posisi itu.


Tapi setelah posisi itu kosong, Adel sebagai seorang Archer memiliki celah yang luar biasa. Tak ada lagi tanker yang bisa melindungi dia dan menjadi pembatas antara dia dan musuhnya.


Dan Adel berusaha sekuat tenaga untuk merubah itu selama bertahun-tahun belakangan ini. Adel sangat ingin membuktikan bahwa seorang Archer bisa juga menjadi lone fighter yang mampu bertarung dalam jarak dekat sekaligus mematikan dalam serangan jarak jauh.


“Kalau begitu, aku duluan ya?” kata Gama dan dengan cepat dia tiba-tiba berlari ke arah Komplek.


Koga melihat semua gerak-gerik Gama dari atas atap, “Humph!! Kita lihat seberapa kuat sekarang dirimu, Hitam!!” gumam Koga dengan suara pelan.


Booommmmmm.


Koga tanpa berpikir panjang langsung melesat dan meloncat dari atap Gedung. Kakinya menghentak dan menimbulkan bunyi suara ledakan dan sedikit retakan terlihat di tempat tadi dia menjejakkan kaki.


Tubuh Koga terbang melesat di udara dan dengan cepat menuju ke arah Gama yang berlari di tengah tanah lapang. Tanah lapangan berumput yang menjadi batas pemisah antara Komplek dan Hutan. Tanah berumput yang dulu digunakan saat Professor memulai Ujian Tahap Kedua.


Gama melihat dengan tatapan rileks ke arah Koga yang melesat cepat. Sebuah senyuman tipis terlihat di bibirnya. Dia tak lagi takut kepada Koga, dan dia tahu itu.


“Armor!” teriak Gama sambil meloncat menyongsong Koga yang juga melesat kearahnya.


Tanpa mengubah momentum loncatannya, Gama menarik tangan kanannya kebelakang dan bersiap untuk melepaskan sebuah pukulan ke arah Koga yang melayang ke arahnya.


Koga sedikit tak percaya saat melihat tingkah Gama.

__ADS_1


“Bukankah dia selalu mengandalkan Armor-nya? Tanpa benda itu, dia sama sekali tak lebih dari seorang petarung lemah,” cibir Koga dalam hati dan tanpa ragu dia juga berniat mengadu pukulan dengan Gama.


Wuuuuuusshhhhhhhhh.


Tiba-tiba, puluhan benda seperti terjatuh dari langit dan dengan cepat, seperti memiliki kecerdasan sendiri, benda-benda itu terbang ke arah Gama dan langsung melindungi seluruh permukaan tubuhnya. Mulai dari kepalan tangan kanan yang terayun ke arah Koga, lengannya, tubuhnya, lalu ke semua bagian tubuh yang lain.


Meskipun semuanya terlihat lama saat ditulis dan diceritakan, tapi pada kenyataannya, semua kejadian ini berlangsung dengan sangat cepat. Dimulai saat Gama berlari dengan gagah berani ke arah Komplek, hingga kini seluruh tubuh Gama sudah tertutupi oleh Armor kebanggaannya, semuanya terjadi tak lebih dari 5 detik.


Boooooommmmmmmmmmm.


Suara ledakan yang luar biasa keras terdengar di telinga semua orang yang ada di sekitar sini. Beberapa kaca di ruangan Gedung bahkan pecah karena sonic boom sesaat setelah serangan Koga dan Gama saling berbenturan barusan.


“Armor?” tanya Gama dengan cepat sesaat setelah dia berhasil menguasai keseimbangan badannya dan melayang tegak setelah terdorong selama beberapa puluh meter ke belakang.


“Analysing…”


“Cepat!! Lambat sekali!” kata Gama tak sabar.


“Analisa selesai. Estimasi energy kinetic maksimal sebesar 41.5 Mega Joule.”


“Energi kinetic maksimal lawan lebih besar 30% dari energy maksimal dari host.”


“Humph. Kau pikir aku takut karena kau lebih kuat? Bermimpilah!!” teriak Gama sambil kembali melesat ke arah Koga.


Koga melihat kearah Gama dengan kebingungan. Dia tak seperti Gama yang mempunyai Armor untuk membantunya menganalisa seberapa kuat lawan yang ada di depannya. Koga hanya bisa memperkirakan apakah dia lebih kuat atau lebih lemah berdasarkan insting saja.


Karena itu, dia kebingungan dengan kata-kata yang diteriakkan Gama barusan.


Booooommmmm.


Booooommmmmmmm.


Booommmmm.

__ADS_1


Suara ledakan demi ledakan terdengar memekakkan telinga. Suara yang berasal dari serangan Koga dan Gama yang saling beradu satu sama lain selama beberapa kali. Setiap kali mereka beradu pukulan atau tendangan, daun-daun di pepohonan sekitar mereka, seperti terhempas oleh angin yang berasal dari titik temu serangan mereka berdua. Debu juga beterbangan kesana kemari dan membuat tempat ini menjadi seperti medang perang.


Koga meloncat ke belakang dengan napas terengah-engah. Setelah empat kali dia beradu serangan dengan Gama, dia tahu kalau si Hitam yang bersembunyi di balik baju pelindungnya itu memang sekuat seperti yang telah diberitakan dalam isu yang beredar di Pulau. Koga harus mengakui kalau Gama adalah petarung terkuat yang pernah dia hadapi.


“Jadi?” tanya Gama.


Tak seperti Koga yang sedang terengah-engah, Gama dengan santainya sedang berdiskusi dengan Armor. Mungkin Koga menganggap kalau Gama adalah petarung terkuat, tapi kenyataannya, Gama lebih mirip seorang ilmuwan yang melihat semuanya dari segi teknis dan numeris.


“Serangan rata-rata musuh sudah dikalkulasi. Musuh hanya mampu mengeluarkan 70-80% dari total kemampuan ototnya.”


“Apakah ada indikasi kalau dia dengan sengaja menyembunyikan kekuatannya?” tanya Gama.


“Tidak ada indikasi kalau dia sengaja menyembunyikan kekuatannya. Subyek memang diperkirakan mengalami kesulitan dalam mengeluarkan output maksimal dari total kapasitas ototnya,” jawab Armor.


“Metode bertarung paling efektif?” tanya Gama.


“Hit and Run, dengan peluang kemenangan 76%,” jawab Armor.


“Oke, manual override, saatnya beraksi,” perintah Gama dengan raut muka yang terlihat sangat senang, seperti seorang bocah yang tak sabar untuk segera bermain dengan mainan barunya.


Selama beberapa kali clash tadi, pergerakan Gama dan Armornya memang dikendalikan oleh Artificial Intelligence bukan oleh Gama. Gama hanya bersikap pasif dan memperhatikan hasil analisa dari beberapa kali clash yang terjadi antara Koga dengan dirinya.


Ketika Gama mengeluarkan perintah untuk mengembalikan kendali Armor dari AI kepada dirinya, saat itulah Gama akan bertarung dengan skill yang sesungguhnya. Dia mengendalikan semua pergerakan dan serangan yang akan dia lakukan terhadap Koga.


“Manual override rejected,” jawab sang Armor tiba-tiba.


“Huh?” Gama kaget, “Armor!! Apa-apaan ini?” tanya Gama dengan nada kesal.


“Peluang menang dengan taktik Hit and Run sebesar 76% diambil dengan asumsi bahwa kita bertarung dengan mode AI. Jika pertarungan dilakukan dengan mode manual, maka…” Armor terdiam dan sengaja menggantung kata-katanya.


“Apa?” tanya Gama tak sabar.


“Maka peluang kemenangan kita akan turun drastis menjadi 19%,” jawab Armor tegas.

__ADS_1


“Jadi, menurutmu, kemampuan bertarungku hanya 25% kemampuanmu?” tanya Gama sambil mengatupkan rahangnya kuat-kuat karena menahan amarah.


“Benar sekali, tumben kamu cerdas?” tanya Armor yang disambut Gama dengan diam dan muka merah padam.


__ADS_2