
Gaju dan Tian bergerak cepat ke bawah dan menerobos rerimbunan dedaunan yang ada di bawah mereka. Tian masih saja bersikap tenang dan sama sekali tak terlihat takut.
"Tian, kamu tidak takut?" goda Gaju ke arah soulmatenya.
Tian menggelengkan kepalanya tanpa suara dan Gaju tertawa kecil untuk kesekian kalinya.
Gaju mengangkat tangan kanannya dan melirik ke arah pohon. Tian melihatnya dan sedikit kebingungan. Sedari awal, Tian tak pernah ketakutan karena dia tahu kalau dengan bantuan jarum dan benang logam Gaju, ketinggian tadi tak berarti apa-apa bagi mereka.
Tian juga tahu kalau tangan kanan Gaju berisi jarum untuk menyerang dan bertahan.
Tangan kiri Gaju berisi jarum yang tersambung dengan benang logam dan digunakan untuk manouver di udara dan memasang jebakan.
Tapi saat ini, Gaju sama sekali tak menggunakan jarumnya. Dia mengangkat tangan kosongnya, kemudian.
Kraaaaakkkkkk.
Telapak tangan Gaju membentuk cakar dan bergerak cepat ke arah pohon lalu terbenam ke dalamnya. Tangan Gaju terbenam sampai ke batas pergelangan tangan lalu seperti mencengkeram pohon itu. Hanya dalam hitungan detik laju mereka berdua tertahan dan ada bekas cakaran memanjang di batang pohon yang disebabkan oleh ulah Gaju tadi.
Gaju tersenyum kecil. Seperti seorang anak kecil yang baru saja memperlihatkan kemampuannya dan ingin dipuji oleh sang kekasih.
Tian terpana.
Dia kini sadar apa yang baru saja Gaju lakukan. Gaju menunjukkan kemampuan sebenarnya kepada Tian.
Setelah terpana untuk beberapa saat, Tian tersenyum. Dia sadar maksud dari soulmatenya barusan. Dengan menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya di depan Tian, itu artinya, tak ada lagi pembatas yang sejak dulu memisahkan Tian dan Soulmatenya.
Kini Gaju mempercayai Tian sepenuhnya dan sejak saat ini, mereka resmi menjadi pasangan soulmate yang saling mempercayai.
Gaju melepaskan pegangan tangannya lalu menendang ke batang pohon.
Tian terpekik kaget. Gaju lalu mengangkat tubuh Tian dan membopongnya. Dengan posisi itu, Gaju lalu dengan sigap melompat dari dahan ke dahan dan menuruni pohon.
Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah berdiri di atas tanah di dekat lubang persembunyian Gaju.
"Tunggu disini," kata Gaju pendek.
Tian menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Gaju yang kini sudah menghilang. Beberapa detik kemudian, Gaju sudah berdiri di depan Tian dengan sebuah ransel di punggung.
"Ayo," kata Gaju sambil mengulurkan tangannya.
Tian tersenyum dan menyambut uluran tangan Gaju. Tapi, sesaat kemudian, gadis kecil itu sudah kembali berada dalam dekapan Gaju yang membopongnya, Tian melingkarkan tangannya ke leher Gaju dan membiarkan Gaju membawanya.
__ADS_1
"Aku bisa berjalan sendiri," bisik Tian pelan dengan muka memerah.
"Aku tahu. Tapi kamu terlalu pelan," jawab Gaju sambil tertawa kecil.
"Dasar tukang pamer," sungut Tian.
Mereka berdua bergerak dalam Hutan seperti itu selama setengah jam sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
Gaju menurunkan Tian dan membuka ranselnya.
Mereka berdua lalu memakan ransum yang mereka miliki. Tanpa berkata apa-apa tapi saling melihat satu sama lain.
"Gaju, berapa skormu yang asli?" tanya Tian ketika makanannya sudah habis.
Gaju tersenyum, "aku tak tahu berapa skor IA-ku karena tak pernah sungguh-sungguh mengerjakan ujian dengan seluruh kemampuanku."
"Tapi untuk skor fisik. Mmmm. Kurasa aku punya nilai kumulatif 7.34, dengan Strength 2.38, Speed 2.48, dan Agility 2.48 poin," lanjutnya.
"Kamu..." Tian kehabisan kata-kata.
Tian menarik napas dalam, "Kurasa Koga pun cuma seperti anak-anak di depanmu kan?" kata Tian pelan dengan nada sedih.
"Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Gaju.
"Aku... Aku takut kalau aku cuma akan menjadi beban untukmu," jawab Tian lirih.
Gaju terdiam untuk sesaat lalu tertawa keras. Tian memonyongkan bibirnya ketika melihat tingkah Gaju.
"Kamu!! Kamu tu memang... Suka ya liat Tian sedih?" sungut Tian.
"Tian,"
"Kamu sudah melihat daftar item yang bisa ditukar dengan poin dari mini komputermu?" tanya Gaju.
Tian menganggukkan kepalanya pelan.
"Lalu... Kamu seharusnya paham kalau strategist dan fighter hanyalah permulaan saja. Skor PA dan IC hanyalah sebatas angka. Setelah melakukan advancement dengan bantuan item yang disediakan oleh Pulau, kemampuan fisikku bahkan mungkin hanya sekedar candaan bagi seorang petarung yang sudah berkembang sepenuhnya," kata Gaju.
Tian masih belum terlihat yakin dengan kata-kata soulmatenya.
Gaju menarik napas dalam.
__ADS_1
"Aku bertemu Gama kemarin. Si Genius Gila. Kamu tahu apa yang dia lakukan?" tanya Gaju.
Tian menggelengkan kepalanya.
"Gama menciptakan sebuah armor yang memberikan amplifier untuk menutupi kelemahan fisiknya. Dan tahukah kamu? Dia kuat sekali," kata Gaju.
"Aku memukulnya dengan sekuat tenaga dan dia masih bisa berdiri seolah tak terjadi apa-apa," lanjut Gaju dengan nada penuh kekaguman.
"Hanya Griffin yang sanggup menerima pukulanku sekuat tenaga dan tetap bisa berdiri seperti sedia kala seolah tak terjadi apa-apa."
"Dan itu semua Gama lakukan hanya dengan armor ciptaannya sendiri. Bagaimana jika Gama mampu membeli intelligence armor yang disediakan oleh Pulau?" tanya Gaju.
"Aku tak yakin akan mampu mengalahkannya jika dia memiliki armor itu," kata Gaju dengan nada bergumam.
"Kamu melawan Griffin?" tanya Tian.
Gaju kaget, apa yang ingin dia sampaikan keliatannya tak digubris oleh Tian dan justru soulmatenya lebih tertarik dengan Griffin.
"Aku melawannya dan hanya berhasil melukai matanya. Dia masih berhutang padaku karena hampir membuatmu kehilangan nyawa. Next time, aku akan membalasnya, ditambah dengan bunganya sekalian," jawab Gaju.
"Tapi poinnya bukan itu Tian," lanjut Gaju cepat.
Tian tersenyum, "aku tahu Gaju. Dengan advancement aku juga bisa sekuat Gama dan tak akan menjadi beban bagimu. Tapi aku tak ingin menjadi petarung yang dibalut armor seperti itu," jawab Tian.
"Lagi pula, aku tak ingin wajah cantikku tertutupi helm seperti itu sepanjang waktu," lanjut Tian dengan nada bercanda.
Gaju tercengang dengan mulut ternganga. Apakah semua gadis mempunyai pikiran yang sama soal kecantikan mereka? keluh Gaju dalam hati.
"Aku strategist. Aku akan memanfaatkan kelebihanku di sana. Sejak aku tersadar beberapa hari lalu. Aku sudah memikirkan bagaimana caranya agar bisa membantumu bertarung dan bertahan hidup," kata Tian.
"Dan juga memberikan nyawaku untukmu jika saatnya tiba," lanjut Tian dalam hati dengan mantap, karena dia teringat kata-kata sang Professor saat dia terbangun di ruang perawatan medis waktu itu.
"Dan... Jalan apa yang kamu pilih?" tanya Gaju ke arah Tian penasaran.
"Aku ingin menjadi psychic," jawab Tian mantap.
Otak Gaju segera bekerja dan mencari tahu jawaban tentang psychic dalam memorinya.
Sosok Tian yang cantik bagaikan seorang angel dengan rambut berkibar tanpa tiupan angin sedang melambaikan tangannya dan benda-benda di sekelilingnya bergerak tanpa disentuh karena kekuatan telekinetic milik seorang psychic tergambar jelas di kepalanya.
"Not too bad," gumam Gaju sambil tersenyum lebar.
__ADS_1