Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 64 - True Goal


__ADS_3

"Seharusnya aku sudah mati. Kenapa aku masih hidup?" gumam Tian kebingungan.


"Ruangan apa ini?"


"Kenapa luka di tubuhku bisa sembuh?"


"Gaju?"


Hanya keheningan yang menjawab semua pertanyaan Tian.


Tapi, keheningan itu tak berlangsung lama. Pintu ruangan tempat Tian berada tiba-tiba terbuka.


Tian dengan cepat membalikkan badannya dan melihat ke arah pintu.


Tubuh Tian bergetar.


Dia melihat sosok itu. Sosok yang sangat ditakuti oleh semua Kandidat di Pulau. Seorang laki-laki tua dengan rambut sedikit acak-acakan dan mengenakan pakaian berwarna putih yang terlihat awut-awutan.


Sang Professor.


Yang membuat tubuh Tian bergetar adalah karena Tian sadar, saat ini, sosok Professor yang berdiri di depannya bukanlah hollogram seperti biasanya.


Professor sekarang benar-benar berdiri di depannya.


Professor yang sebenarnya, dalam tubuh manusianya.


Real Professor.


"Gadis kecil, kenapa kau terlihat takut sekali? Apakah kau berpikir aku akan memakanmu?" tanya sang Professor sambil menyeringai dengan nada bercanda.


Tapi candaan itu sama sekali tak membuat Tian menjadi lebih rileks.


Siapa yang bisa tetap tenang dan santai di hadapan orang gila seperti Professor tua ini?


Tian hanya bisa terdiam tanpa kata-kata. Dia menatap Professor dengan tatapan curiga dan memasang sikap waspada.


Professor hanya tertawa kecil melihat reaksi Tian.


"Gadis kecil atau aku sebaiknya memanggilmu Tian?" tanya sang Professor.


"Tian, kamu sekarang ada di dalam Komplek. Lebih tepatnya Komplek Pengurus," lanjut Professor.


"Seperti yang kamu tahu, kamu seharusnya sudah meninggal. Tapi soulmate-mu, membuat kesepakatan denganku," Professor melihat ke arah Tian untuk menunggu reaksi gadis itu.


Seperti dugaannya, raut muka Tian sedikit berubah ketika mendengar kata-kata Professor barusan.


"Kesepakatan?" tanya Tian dengan muka terkejut dan kebingungan.


Professor tersenyum lebar, dia lalu mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Matikan kamera pengawas dalam ruangan ini!" kata Sang Professor entah kepada siapa.


Tak lama kemudian, Professor kembali melihat ke arah Tian.


"Gaju, soulmate-mu, berhutang kepadaku sebesar 1000 poin dan sekarang menjadi target buruan seluruh Kandidat di Pulau demi dirimu..." Professor menahan kalimatnya dan kembali melihat reaksi Tian.


Tian terpana ketika mendengarnya.


"Gaju... Dia..." hanya dua patah kata yang bisa keluar dari mulut Tian.


"Dari dulu, aku selalu penasaran dengan konsep kerja emosi manusia. Apalagi emosi terkuat antara sepasang laki-laki dan perempuan. Emosi yang mungkin disebut dengan 'cinta' atau 'sayang', aku sangat tertarik dengan hal itu," potong sang Professor.


"Saat melihat apa yang kamu lakukan untuk Gaju, aku tahu kalau kamu mungkin memiliki emosi itu untuk Gaju."


"Awalnya aku pesimis kalau seorang anak dengan sikap apatis seperti Gaju juga bisa memiliki emosi yang sama sepertimu."


"Tapi aku salah besar."


"Hahahahahaha."


"Melihat apa yang dilakukan oleh Gaju untukmu, aku tahu kalau seseorang yang sangat egois dan apatis seperti Gaju juga mampu memiliki emosi yang sama."


"Semua ini menjadi sangat menarik sekarang."


"Tahukah kamu, apa tujuan dari konsep soulmate yang kubuat?" tanya sang Professor mengakhiri ceramahnya.


Tian hanya diam.


"Tapi, kenapa harus ada konsep soulmate. Kenapa kalian harus dipasang-pasangkan?"


"Bukankah itu terlihat bertentangan?"


"Kenapa Pulau mengajarkan kepada para Kandidat untuk saling membunuh tanpa perasaan, di lain pihak, Pulau juga meminta kalian untuk menjaga soulmate masing-masing dan saling melindungi?"


Tian masih terdiam dan tak menjawab. Sama seperti Gaju, Tian sampai saat ini juga tak memahami tujuan dari konsep soulmate yang dibuat oleh Pulau.


"Aku ingin menciptakan prajurit tanpa emosi."


"Aku membuat konsep soulmate untuk menghapus emosi terkuat yang dimiliki oleh manusia."


"Cinta."


Professor lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan.


Tian masih terlihat diam dan berdiri di tempatnya. Perasaan Tian bercampur aduk dan kebingungan.


"Kamu kebingungan?" tanya Professor.


"Gadis kecil, Tian, jika suatu hari, aku memberimu dan Gaju masing-masing sebuah pisau, lalu aku meminta kalian saling membunuh, apa yang akan kamu lakukan?" Professor berhenti melangkah dan suaranya terdengar datar tanpa emosi sedikit pun tapi Tian yang mendengarnya bagaikan seperti mendengar suara petir yang menyambar.

__ADS_1


Tubuh Tian bergetar.


"Jadi? Sedari awal?" Tian tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Kini dia paham semuanya. Semua pertanyaan dan tujuan dari semua ini. Pelatihan tidak manusiawi dan juga konsep soulmate yang tidak masuk akal.


Professor ingin menciptakan prajurit sempurna tanpa emosi, membunuh tanpa berpikir, tanpa rasa bersalah, sekalipun itu orang terdekatnya, sekalipun itu orang yang dikasihinya, pasangan hidupnya sendiri.


Professor ingin menciptakan monster yang sesungguhnya, dengan semua kelebihan yang dimiliki oleh manusia, dan tanpa emosi layaknya sebuah mesin.


"Aku... Aku tak perlu berpikir. Aku tahu apa yang akan aku lakukan," teriak Tian histeris.


"Aku akan memberikan nyawaku jika Gaju memintanya."


"Aku akan membiarkan dia membunuhku."


"Aku tak akan melawan sama sekali. Demi dia, aku akan melakukan apa pun."


"Aku sudah memutuskan itu dari dulu," teriak Tian ke arah Professor.


Professor terdiam.


Hanya keheningan yang kini mulai diisi isak tangis Tian yang terdengar dalam ruangan ini.


"Aku tahu kamu akan melakukan itu. Tapi menurutmu apa yang akan Gaju lakukan?" tanya Professor.


Tian masih terisak-isak dan mengusap air matanya.


Dia tak tahu.


Kini, dia benar-benar tak tahu apa yang akan Gaju lakukan. Setelah apa yang Gaju lakukan untuk menyelamatkan nyawanya, Gaju bukan lagi sosok anak kecil yang dengan percaya diri berkata kalau dia akan melakukan apapun demi bertahan hidup.


Sosok Gaju dimata Tian kini berubah menjadi seorang bocah laki-laki yang tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya ke arah Tian.


"Gaju..." bisik Tian pelan di sela-sela tangisnya.


"Kamu tak tahu kan?" tanya sang Professor.


"Hahahahahahaha."


"Aku akan menunggu. Aku ingin tahu apa yang akan Gaju lakukan saat dihadapkan pada pilihan itu," kata sang Professor sambil tertawa.


Professor lalu berjalan kembali ke arah pintu ruangan itu, meninggalkan Tian yang masih terisak-isak dalam tangisnya.


Tangan Professor terhenti ketika membuka pintu itu.


"Tian, semua yang kita bicarakan, tak akan pernah meninggalkan ruangan ini. Kamu mengerti?"


"Jika kamu memberitahu Gaju atau siapapun tentang ini, aku akan membunuh Gaju. Percayalah, aku dapat melakukannya dengan mudah dan aku selalu mengawasi kalian semua," Professor memberikan ancaman terakhirnya sebelum meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Tian tak berhenti menangis. Dia benar-benar sedih dan kecewa. Di saat kini dia sadar kalau Gaju juga sekarang benar-benar menganggap dia sebagai soulmate-nya, dia dihadapkan pada kenyataan bahwa pada akhirnya, mereka berdua tak akan pernah bisa hidup bahagia dan saling melindungi untuk selamanya.


__ADS_2