Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 106 - Songlan vs ... Part 1


__ADS_3

Sebuah anak panah tertancap beberapa meter di sebelah kiri Songlan. Dengan cepat Songlan melihat ke arah panah itu berasal dan akhirnya dia menemukan Adel yang masih memegang busur panah dengan tangan kirinya. Tangan kanan Adel masih dalam posisi baru saja melepaskan anak panah itu.


“Adel, apa maksudnya ini?” teriak Songlan dengan suara yang keras.


Aen yang terduduk di rerumputan mendongakkan kepalanya ke arah Adel ketika mendengar Songlan meneriakkan kata-kata itu.


Saat Aen melihat sosok berambut kemerahan dan berwajah khas latin itu yang dengan penuh percaya diri menatap ke arah Songlan, tubuh Aen bergetar pelan, “Adel…”


Jika ada orang lain yang bisa dianggap dekat dengan dirinya selain soulmate-nya, maka Aen akan dengan cepat menyebutkan satu nama. Dan nama itulah yang baru saja keluar dari mulutnya.


Adel melihat ke arah Aen dan melambaikan tangan kanannya, isyarat agar Aen pergi ke arah Adel. Aen melihat ke arah Songlan dan dengan cepat tahu apa yang terjadi.


Aen menarik napas dalam. Dia memang kehilangan Duma. Songlan bahkan sudah mengakui kalau dia yang membunuh soulmate Aen. Tapi, masih ada sahabatnya disana. Sahabat yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari serangan Songlan.


Tanpa berpikir panjang dan setelah merasa cukup mengumpulkan tenaga, Aen tiba-tiba bergerak dengan cepat dan melesat ke arah Adel yang berada di sebelah kirinya. Songlan yang sedari tadi memfokuskan perhatiannya ke Adel sedikit terkejut saat Aen yang sedari tadi hanya duduk pasrah dan tak bergerak di depannya tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Adel.


“Kau pikir semudah itu lari dari cengkeramanku?” suara Songlan terdengar bergetar menahan emosi.


Dia meloncat dan melayangkan pukulan ke arah Aen.


Speed Songlan sebesar 3.25, sedangkan Aen hanyalah 0.8, tanpa mempertimbangkan Agility sekalipun, Songlan mampu bergerak lebih cepat 4 kali lipat dibandingkan Aen.


Artinya, ketika Aen sudah melesat sejauh 4 m karena factor kejutan tadi, Songlan hanya butuh sekejap mata untuk menyusul Aen yang sudah bersusah payah untuk berlari sekuat tenaga.


Tapi tentu saja Adel tak akan membiarkan Songlan begitu mudahnya melukai Aen. Tangan kanan Adel bergerak secara aneh untuk mengambil mata panah yang ada di punggungnya. Gerakan tangan Adel juga sempat membuat seorang Assasins seperti Koma terpaku di tempatnya.


Tangan kanan Adel seolah-olah bergerak pelan dan pasti, tapi jika diperhatikan dengan teliti, sebenarnya, Adel bergerak sangat cepat sekali saat mengambil panah dan memanahkannya ke arah Songlan.


Hanya dalam sekejap mata, beberapa anak panah melesat tanpa bayangan ke arah Songlan.


Aen mungkin sama sekali tak bisa menangkap bayangan anak panah yang diarahkan oleh Adel, tapi Songlan, Koma, Songnam, dan juga Koga yang memiliki nilai atribut fisik yang tinggi, dapat dengan jelas melihatnya.


Beberapa anak panah itu melayang cepat bagaikan sebuah kilat yang menyambar dan mengeluarkan bunyi berdengung di udara seperti ribuan lebah yang mengejar seorang anak yang menghancurkan sarang mereka.

__ADS_1


Wajah Songlan kehilangan warna. Kini hanya raut pucat pasi ketakutan dan lutut yang gemetaran yang dialaminya.


“Arrrggghhhhhhhh,” Songlan meraung keras dan menarik sebuah benda dari dalam tas ranselnya sambil meloncat mundur.


Benda itu berupa seperti sebuah potongan pizza yang berbentuk runcing dan ada sebuah gelang yang terpasang di ujungnya. Songlan langsung memakainya dan dengan cepat, benda itu membuka dan membentuk sebuah lingkaran penuh yang menutupi sebagian tubuh Songlan.


Ternyata itu adalah sebuah perisai.


Booommmmm.


Boooommmmmmm.


Boommmmm.


Suara ledakan terdengar bertubi-tubi ketika semua anak panah Adel mencapai sasarannya. Entah itu perisai di tangan Songlan ataupun lapangan rumput yang ada di sebelah kiri dan kanan Songlan.


Songlan sendiri merasakan seluruh pergelangan tangannya bergetar karena terasa sakit dan dia hanya bisa menghempaskan napas panjang.


“Ini Plasma Shield, perisai andalanku untuk menghadapi serangan musuh yang berbahaya, tapi bisa kehabisan energy karena serangan Adel,” gumam Songlan cepat.


Semua kejadian diatas berlangsung dengan sangat cepat. Mulai dari Aen yang meloncat ke arah Adel, Songlan menyerang Aen, Adel memanah Songlan, dan kini Songlan yang hanya berdiri sambil meratapi nasih perisainya yang terlihat tak berfungsi lagi, semuanya terjadi hanya dalam hitungan detik saja.


Aen yang mendapatkan kesempatan untuk terus berlari setelah Songlan dihalang-halangi oleh panah Adel tadi, kini sudah berada di depan Adel.


“Adel?” bisik Aen sambil melihat wajah sahabatnya yang kini semakin cantik itu.


“Tenang Aen, kamu aman sekarang,” kata Adel sambil tersenyum manis ke arah Aen.


Aen lalu tanpa ragu berlari dan memeluk Adel yang ada di depannya. Adel sendiri hanya menepuk-nepuk punggung Aen pelan tapi tetap mengarahkan pandangan matanya ke arah Songlan. Dia bersiap untuk menghadapi serangan mendadak dari Songlan kapan pun saatnya.


“Adel, apa maksudmu melakukan ini? Aen buruanku. Kalau kau menghalangiku, berarti kita musuh!!” teriak Songlan sambil menunjuk ke arah Aen dengan tatapan kelaparan.


“Sejak awal, kita semua adalah musuh! Aku selalu menganggap kalian semua seperti itu. Kalau selama ini kau menganggapku kawan dan bukan musuh, itu bukan salahku,” jawab Adel tegas.

__ADS_1


“Apakah itu berarti kau akan melakukan apa pun untuk melindungi gadis itu?” tanya Songlan dengan tatapan yang mulai terlihat beringas.


Songlan lalu meraih ke arah kedua saku celananya dan mengeluarkan dua buah belati pemburu pendek yang berwarna kehitam-hitaman. Semua orang bisa melihat kalau belati itu adalah benda yang sangat berharga dan tajam.


Adel dengan cepat mendorong tubuh Aen agar sahabatnya berada di belakang tubuhnya.


Songlan lalu merunduk dan melesat cepat ke arah Adel dan Aen. Kali ini, dia menyadari kesalahannya yang tadi. Songlan mengganti strategi dan berlari zig zag untuk menghindari serbuan anak panah Adel.


Dengan berlari zig-zag, anak panah Adel akan susah untuk menemukan sasarannya. Seperti itulah kira-kira isi kepala Songlan.


Pemikiran yang wajar dan mungkin juga akan terlintas di kepala semua Kandidat yang menjadikan seorang archer sebagai lawannya.


Tapi.


Anggapan itu salah. Salah besar.


Adel seorang Advanced Archer, yang dikenal juga dengan sebutan Master Archer. Bagi seorang Archer sekelas Adel yang sudah melatih kemampuannya selama bertahun-tahun, pemikiran seperti itu adalah sebuah lelucon anak kecil.


Bzzzzttttttt.


Sebuah anak panah meluncur dari busur Adel. Tapi kali ini lain, saat Songlan bergerak zig zag dan membanting tubuhnya ke arah kiri, panah Adel tiba-tiba melengkung dan juga mengikuti gerakan tubuhnya.


Terror terlihat di wajah Songlan.


"Tipuan apa ini?" teriak Songlan dalam hati sesaat sebelum sebuah ledakan kembali terdengar dan membuat Songlan terpelanting kebelakang.


Adel menarik napas dalam-dalam.


Dia melakukan trik yang sederhana dengan menambah putaran saat melepaskan anak panahnya dan membuat anak panah itu melesat dengan jalur parabolic sesuai dengan gerakan Songlan.


Tapi.


Adel harus mengakui kemampuan fisik Songlan, alih-alih panah itu menancap ke tubuh Songlan, karena kerasnya tubuh musuhnya itu, panah Adel hanya mampu membuat Songlan terpelanting ke belakang dengan luka yang tidak terlalu signifikan.

__ADS_1


__ADS_2