
Practices make perfect.
Ungkapan yang tepat sekali untuk Tian. Apalagi ditunjang dengan kecerdasannya yang luar biasa. Hanya dalam beberapa hari, Tian sudah mulai mahir dengan manipulasi energy-nya. Berawal dari batu kecil seukuran tangan, lama kelamaan ukuran obyek yang mampu dikendalikan oleh Tian makin bertambah.
Hingga akhirnya, hanya dalam waktu seminggu, Tian sudah mampu menggerakkan sebuah benda dengan bobot puluhan kilogram.
Dengan menggunakan petunjuk dari Mental Training Knowledge, Tian juga mencoba untuk melakukan berbagai hal yang terlihat sepele tapi sangat praktis, seperti membuat perisai, melayang turun, dan banyak lagi lainnya.
Seperti saat Tian melayang turun dari pohon tadi. Konsep yang digunakan oleh Tian sangat sederhana. Dia memanipulasi energy sebagai pijakan kakinya. Setelah itu, dia memampatkan energi yang ada di depannya dan bertindak seperti sebuah busa yang pelan-pelan akan membawanya turun ke permukaan tanah.
Di lain waktu, saat Tian memanipulasi energi yang ada di depannya dan membuatnya berpusar dengan diameter tertentu, lalu secara perlahan-lahan dia mengkompressinya menjadi lebih kecil, Tian berhasil menciptakan perisai pertamanya.
Sepuluh hari setelah Tian dan Gaju membeli serum itu, kini Tian bisa dikatakan sedang meniti jalan menjadi seorang psychic yang sesungguhnya.
"Berapa poin yang kita dapat sekarang?" tanya Tian tak lama kemudian ketika Gaju baru saja mengambil poin dari buruan mereka.
"243 poin," jawab Gaju sambil tersenyum.
Tian menarik napas panjang, "Setidaknya sebulan lagi," gumamnya.
Gaju sudah memberitahukan Tian, item apa yang ingin dia miliki. Dan itu adalah Undying Implant dengan harga 1350 poin. Sekalipun setelah Tian menguasai kekuatan psychicnya dan meningkatkan progress rata-rata mereka menjadi 30 poin/hari, tapi mereka masih tetap membutuhkan lebih dari 1 bulan untuk mendapatkan item yang diincar Gaju.
\=\=\=\=\=
"I'm the strongest!!"
Boooommmmm.
"I'm genius"
Boooommmmm.
"Aku yang paling tampan!!"
Boooommmmm.
Suara tiga kali ledakan yang mengikuti teriakan seseorang terdengar menggelegar.
"Armor, deteksi status musuh!!" perintah Gama.
__ADS_1
"Gama, kau lihat sendiri keadaan mereka. Macam kek bubur gitu, masih perlu statusnya kuberikan?" jawab si Armor.
“Emang nggak perlu, tapi aku kan juga pengen tampil keren,” sungut Gama dalam Armornya.
“Apaan pake sok keren segala,” balas si Armor.
Memang kemampuan si Armor sangat diluar dugaan Gama. Pada awalnya, sesuai dengan namanya Intelligence Armor Suit, Gama berharap bahwa Armor ini adalah sebuah upgrade dari armor ciptaannya sendiri. Sebuah Armor yang memiliki sebuah komputer yang akan membantunya menganalisis dan menyelesaikan masalah yang dia hadapi.
Tapi, tak seperti dugaannya, si Armor lebih dari yang dia kira. Armor ini dilengkapi dengan Artificial Intelligence yang sangat canggih dan komplek. Si AI bukan hanya menerima dan menjalankan perintah dari Gama, tapi dia juga bisa memberikan saran dan bahkan berkomunikasi layaknya seperti seorang manusia yang memiliki emosi dan kesadaran diri.
Jadi, komunikasi yang terjadi antara Gama dengan Armornya, lebih mirip komunikasi antara dua orang sahabat dibandingkan dengan hubungan master-servant yang seharusnya.
“Collect poin!!” perintah Gama.
“Iya. Nggak usah diberitahu pun, aku sudah tahu,” jawab sang Armor.
Gama hanya bisa mendengus kesal, tapi dia tak berkata apa-apa. Memang seolah terlihat mereka berdua seperti dua orang yang saling bertengkar dan tidak cocok antara satu sama lain. Tapi Gama menyadari sepenuhnya bahwa, jika ada sahabat yang paling setia dan rela mati untuknya, itu adalah sang Armor yang sekarang sedang menemaninya ini.
Lebih dari sebulan Gama dan Armor bertualang di Hutan dan mereka sudah menghadapi berbagai macam masalah yang beragam, dan Gama tetap yakin kalau dia akan survive dengan bantuan Armor miliknya ini.
Wooossshhhhhh.
Tiga buah lubang besar menganga di depannya dan Gama bisa melihat tubuh tak berbentuk dari binatang buas yang tadi diburunya itu. 3 ekor binatang buas level 5, hanya memberikan 3 point saja.
“Semakin hari, semakin susah saja untuk mendapatkan poin,” keluh Gama dalam hati.
Tapi ketika dia membalikkan tubuhnya setelah mengkonfirmasikan kalau dia sudah menerima 3 poin yang diperolehnya, tiba-tiba saja Gama mendengarkan alarm cepat dari Armor.
“Incoming Attack!!”
“Defense!!” teriak Gama tanpa berpikir.
Swiinnggggg.
Dengan cepat sekali, Armor mengambil alih kendali dan menggerakkan kedua lengan Gama untuk melakukan block untuk serangan yang datang dari sebelah kanannya.
Boooooooommmmmmmm.
Braaaaakkkkkkkkkkkk.
__ADS_1
Gama terbang ke belakang dengan cepat dan menabrak pohon-pohon yang ada di belakangnya sejauh 35m.
Dengan cepat Gama langsung memgambil posisi siaga.
"Berapa?" tanya Gama dengan suara bergetar, ini serangan terkuat yang pernah dia terima sejak memiliki Armornya.
"20 Mega Joule," jawab Armor pendek.
"****!! Siapa yang punya serangan dengan energi kinetik sebesar itu?" maki Gama.
Untung saja Gama memiliki armornya, kalau tidak, dengan energi sebesar itu, hanya satu hasil akhir saat Gama menerimanya.
Hancur tak bersisa.
Gama melihat ke arah serangan itu berasal dan matanya terbeliak kaget.
Seorang gadis, atau lebih tepatnya, sesosok mahluk yang menyerupai gadis masih dalam pose melakukan pukulan dan menyeringai kearahnya.
Sosok itu memiliki kepala harimau tapi terlihat cantik. Tubuhnya seksi dan sudah terbentuk sempurna. Loreng hitam putih tipis terlihat di sekujur tubuhnya dan membuat dia terlihat eksotis. Telinganya yang lancip dan menyerupai telinga seekor kucing tegak keatas dengan bulu-bulu lembut yang terhembus angin.
Cantik sekali.
Saat itulah, untuk pertama kalinya, Gama melihat sosok tercantik selama hidupnya. Gama merasakan geletar aneh di dadanya. Amarahnya hilang seketika ketika melihat mahluk yang masih saja tersenyum menyeringai itu.
"Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama?" gumam Gama dengan suara bergetar.
"Goblok!! Fokus!!" maki si Armor mencoba mengembalikan lagi khayalan parah si Negro.
Saat itulah Gama melihat sosok lain di belakang si gadis harimau, sosok yang sangat Gama kenal dengan baik, Adel.
"Tapi, dimana si Aju?" gumam Gama keheranan.
Sebuah pertanyaan yang belum sempat dia lontarkan ketika Gama tiba-tiba saja mendengar suara nyaring dari depannya.
"Kau ini manusia atau mahluk apa? Tubuhmu keras sekali. Aku mengerahkan separuh kekuatanku tapi kau kelihatannya sama sekali tak cidera," tanya Tsa dengan suara lantang dan dalam.
Tapi, alih-alih menjawab, justru mata Gama berbinar-binar, "suaramu merdu sekali, serak-serak basah dan dalam. Seperti erangan seekor harimau," puji Gama dengan suara pelan sekali.
"Hasil analisa sudah keluar. Musuh diperkirakan mempunyai Strength 6.4, Speed 2.5, dan Agility 3.8. Total maksimum Energi Kinetik yang mampu dihasilkan sebesar 40 Mega Joule. Musuh masuk kategori berbahaya," Armor memberikan hasil analisa yang kelihatannya sama sekali tak didengarkan oleh si Negro yang masih memandang Tsa dengan tatapan mata penuh cinta.
__ADS_1