
"Hari pertama Ujian Eliminasi."
"3 Pasangan lolos ke Tahap Tiga."
"3 Pasangan tereliminasi."
"Pasangan yang lolos: ......."
Gaju melihat pengumuman dari gelangnya dan Tian berada di sebelahnya. Tian ikut melihat pengumuman dari gelang Gaju.
"Hmmm, jadi Koga, Koma dan Gama sudah lolos ya?" gumam Tian, karena jaraknya yang deket banget dengan Gaju dan mereka berdua berada di dalam goa yang tak terlalu luas, Gaju bisa merasakan hembusan napas harum dari Tian.
Gaju juga bisa mencium aroma tubuh gadis kecil yang khas itu. Aroma yang sudah sangat akrab dengan Gaju selama dua tahun ini.
Gaju mematikan mini komputernya dan ruangan di dalam goa itu kembali menjadi gelap gulita. Hanya terdengar suara napas Gaju dan Tian dalam kegelepan.
Mereka berdua saling berdiam diri dalam gelap.
"Apakah kita harus berjaga bergantian?" tanya Tian ke arah Gaju.
"Tian," kata Gaju, "aku tahu kamu telah memasang perangkap pendeteksi dengan benang dan menyambungkannya dengan mini komputermu. Kalau ada yang masuk ke perimeter area ini. Kamu pasti akan tahu tanpa harus berjaga," lanjutnya.
Tian menghela napas panjang, "Gaju, aku hanya mencoba membuka percakapan denganmu. Kamu kan tahu kalau aku selalu melakukan itu selama ini?"
Terdengar suara Tian menyenderkan tubuhnya dalam dinding goa.
Tian menghempaskan napas panjang dalam kegelapan dalam goa, "aku melakukan apapun untuk membuat kita lebih dekat. Tapi selama dua tahun ini, aku merasa kalau kita sama sekali tak ada progress apa-apa."
"Satu-satunya yang bisa dianggap kemajuan adalah saat kamu memberitahuku kalau tempat favorit latihanmu adalah sebuah blindspot," lanjut Tian.
Gaju terdiam. Tian juga terdiam.
"Tian,"
"Kalau tiba-tiba goa ini runtuh dan kita terkubur di dalamnya. Lalu kita terjebak di dalam sini selama beberapa hari. Dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan saling memakan. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Gaju pelan.
Tian terdiam dan tak bisa menjawab. Dia masih bingung memikirkan apa yang akan dia lakukan sebelum akhirnya dia mendengar suara Gaju.
"Kalau aku, aku tidak akan menunggu selama itu. Aku akan membunuhmu dan memakanmu, meskipun itu hanya akan memperpanjang umurku selama beberapa hari lagi," kata Gaju pelan.
__ADS_1
Tian terdiam. Dia memejamkan matanya. Dia tahu kalau Gaju serius dengan kata-katanya.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu ingin sekali bertahan hidup? Apakah kamu sangat menyukai kehidupan seperti ini?" bisik Tian lirih.
Lama tak terdengar jawaban dari Gaju.
Tian mendengarkan dengan seksama suara napas dan detak jantung lemah Gaju yang masih teratur dan tanpa ada gejolak itu.
"Aku benci hidup seperti ini. Aku ingin hidup seperti orang normal. Seperti yang kubaca di buku-buku. Punya orang tua dan saudara. Tanpa harus berpikir untuk bertahan hidup. Tanpa harus berpikir bagaimana caranya untuk menjadi lebih kuat," kata Gaju pelan memecah keheningan di goa.
"Aku benci Pulau ini. Aku benci Pengurus. Aku benci Professor. Aku benci semua orang yang telah menciptakan semua ini," lanjut Gaju lagi setelah terdiam sebentar.
"Karena itu, aku harus bertahan hidup sebisaku. Aku harus menjadi kuat sebisaku. Sampai suatu saat nanti aku bisa menghancurkan siapa saja yang telah menciptakan Pulau ini,"
"Supaya nanti, tidak ada lagi anak-anak yang menggunakan nomor urut sebagai namanya. Supaya nanti, tidak ada lagi anak-anak yang dipaksa membunuh kawan-kawannya sendiri."
"Karena itu, aku harus survive," bisik Gaju pelan sambil mengakhiri kata-katanya.
Tian terdiam dan mencoba memahami kata-kata Gaju. Meskipun dengan kecerdasannya, Tian nggak pernah mengalami masalah gagal paham.
Gaju terdiam.
"Aku pernah baca sebuah buku kuno yang menurut banyak buku lainnya digunakan sebagai pedoman hidup oleh orang-orang pada masa itu," kata Gaju.
"Mereka menyebut buku itu dengan 'kitab suci', dalam buku itu terdapat sebuah cerita tentang seorang mahluk yang dikatakan sebagai pemimpin para penjahat, otaknya kejahatan, nafsu, angkara, kesombongan dan semua hal negatif lainnya."
"Dan dia dipanggil dengan sebutan 'Iblis' dalam buku itu."
"Iblis mempunyai bala tentara yang disebut 'setan'. Mereka lah yang dituduh sebagai biang keladi semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia pada jaman itu."
"Di lain pihak, kebaikan dijaga dan dijalankan oleh 'malaikat'. Dan untuk para manusia, selalu ada 'pembawa pesan' yang menjadi pengingat dan pengajak kepada kebaikan."
"Tapi, saat aku membaca tentang asal-usul Iblis, aku sangat terkejut. Karena ternyata si Iblis dulunya adalah seorang malaikat."
"Saat itu aku tahu, jangan pernah percaya siapapun secara berlebihan, karena seorang Iblis pun dulunya seorang Malaikat."
"Kamu mungkin malaikatku sekarang, tapi aku nggak tahu apakah suatu saat nanti kamu akan jadi iblisku."
__ADS_1
Tian mendengarkan kata-kata Gaju dengan penuh perhatian. Ini mungkin kata-kata terpanjang dari Gaju yang pernah dia dengar. Dan dia suka karena setidaknya dia tahu apa isi kepala soulmatenya itu.
Tapi dilain pihak, Tian tahu kalau akan sulit sekali bagi dia agar bisa membuat Gaju percaya padanya.
Dan sampai sekarang Tian juga belum bisa menjawab apa yang akan dia lakukan jika goa ini benar- benar runtuh dan membuat mereka berdua terjebak.
\=\=\=\=\=
"Gaju," panggil Tian sambil membawa dua ekor ikan di tangannya yang berukuran satu lengan orang dewasa.
Gaju sendiri sedang membuat api untuk membakar ikan itu. Dia sibuk menata kayu untuk membuat apinya makin membesar.
"Sudah dibersihin kan?" tanya Gaju sambil tersenyum ke arah Tian.
Tian menganggukkan kepalanya kearah Gaju, "bumbunya apa?"
"Nggak ada lah. Yang penting kan proteinnya," jawab Gaju.
Tian dan Gaju, dua bocah kecil itu kemudian melakukan barbeque ala alam liar dan tertawa-tawa kecil layaknya anak-anak.
"Mmmmm, aroma ikannya nanti ngundang hewan buas nggak?" tanya Tian dan suara keroncongan terdengar dari perutnya.
"Nggak lah," jawab Gaju, "aku udah nyebar feces predator kok tadi."
"Ish. Dah cuci tangan kan?" protes Tian.
"Ya udah lah," jawab Gaju.
Tian melihat ke arah Gaju dan ikan yang dibakar diatas api itu dengan penuh keceriaan. Untuk sejenak dia lupa kalau saat ini mereka tengah melakukan ujian eliminasi yang mempertaruhkan nyawa mereka.
\=\=\=\=\=
Somewhere else.
"Aku capek sekali Del," keluh si Keling.
"Nggak peduli, semua ini gara-gara kamu. Pokoknya nggak boleh berhenti sebelum ketemu sama Gaju," kata Adel.
Adel duduk didalam sebuah keranjang dari anyaman rotan dan akar yang dibuat seadanya. Keranjang itu berukuran cukup lebar dan terdapat banyak buah-buahan di dalamnya.
__ADS_1
Adel terlihat memakan buah tanpa berhenti dan sesekali akan melempar Aju yang sedang menggendong keranjang itu dibelakang punggungnya.