
Adel dan Aen saling berpandangan, tak ada satupun diantara mereka berdua yang bergerak untuk mengambil pisau yang ada di meja.
"Adel, kamu adalah orang terpenting bagiku di dunia ini. Duma sudah lebih dulu meninggalkan aku. Aku tak mau mengalami hal yang sama dua kali," gumam Aen sambil menundukkan kepalanya.
Adel tetap terdiam dan sama sekali tak menjawab kata-kata Aen.
"Ambil pisau itu dan bunuh aku!!" teriak Aen histeris ke arah Adel.
Tak lama kemudian, dia mulai menangis sesenggukkan dan menggunakan punggung tangan untuk mengusap air matanya.
"Adel... Kamu sudah memberikan keceriaan dalam beberapa hari terakhirku. Kebahagiaan yang kupikir tak akan bisa kudapatkan lagi sejak Duma pergi," kata Aen di sela-sela tangisnya.
Adel masih saja terdiam. Dia mengalami konflik batin yang terhebat dalam dirinya. Haruskah dia menghabisi Aen dan hidup dengan menanggung rasa bersalah karena sudah menghabisi nyawa sahabatnya sendiri?
Adel tak sanggup membayangkannya.
Karena itu, Adel masih saja terdiam dan tak bergeming di tempatnya.
Seorang gadis yang sedang kebingungan dan seorang gadis lainnya yang menangis sesenggukan masih saling berdiri berhadapan dalam ruangan kedua.
"Adel, kamu adalah sahabatku dan aku ingin kamu tetap hidup. Kejar Gaju-mu, live on, and live happily for me," gumam Aen.
Lalu dengan cepat, Aen meraih pisau di meja dan menyayat lehernya sendiri.
"Aen!!!" teriak Adel ketika dia melihat ulah sahabatnya.
Tubuh Aen terjatuh sesaat dengan darah mengalir dari luka di lehernya. Adel menangkapnya dan langsung memeluk tubuh Aen. Dia tak peduli dengan darah yang mengalir dan membasahi baju dan tubuhnya.
"Aeennnnnnnnnnn," raung Adel sekeras-kerasnya.
Untuk sesaat tadi, Adel mempunyai pikiran yang sama dengan Aen dan berniat mengakhiri hidupnya sendiri demi Aen, tapi dia kalah selangkah.
Adel terus menangis dan memanggil nama Aen yang berada dalam pelukannya dan bersimbah darah.
Adel merasakan kehangatan dalam tubuh Aen berangsur-angsur menghilang dan hanya sensasi dingin yang kini dirasakannya.
"Arrggghhhhhhhhh," Adel meraung sekeras-kerasnya.
Air mata membasahi seluruh wajahnya tapi sama sekali tak bisa menghapus kesedihan dan penyesalan dalam dirinya.
Kini, Adel sadar akan satu hal. Dia masih sangat lemah. Lemah sekali.
Betapa kini Adel sangat membenci dirinya sendiri karena itu. Adel juga membulatkan tekad, dia harus menjadi lebih kuat, lebih kuat dan lagi.
__ADS_1
Hingga tak ada seorang pun yang berani mempermainkan nyawanya dan juga nyawa orang-orang terdekatnya seperti ini.
Adel mengatupkan rahangnya kuat-kuat tanpa berniat menghapus air matanya.
Dia ingin mengingat dan menyimpan semua kenangan ini sejelas-jelasnya, sebagai pengingat bahwa dia harus menjadi lebih kuat agar semua ini tak perlu terulang lagi.
"Tunggu pembalasanku!!" rutuk Adel dari sela-sela giginya.
Adel menjadi Kandidat ketiga yang berhasil melalui tahap ini.
\=\=\=\=\=
Di ruangan kelima.
Em terlihat berkeringat dan tersengal-sengal. Di depannya, Koga berdiri dengan satu tangan terlipat ke belakang dan satu tangan teracung ke depan.
Mereka berdua tak punya ikatan apa pun. Jadi, Em tanpa ragu meraih pisau di meja dan menyerang Koga tadi.
Koga dengan harga dirinya yang setinggi langit, tentu tak akan sepenuh hati melayani Em. Dia mencoba untuk berbuat adil dan memberikan Em kesempatan.
"Kamu boleh menyerangku selama sepuluh kali dan aku tak akan menghindar atau menyerang balik, aku hanya akan menggunakan satu tangan saja untuk menangkis seranganmu," kata Koga tadi.
Em menyerang Koga sekuat tenaga dan segenap kemampuannya, tapi kenyataan memang tak berpihak kepadanya. Dari sembilan kali serangan yang dia lakukan, Em hanya berhasil melukai tubuh Koga sebanyak tiga kali.
Darah mengalir dari ketiga luka itu, tapi Em tahu kalau semua itu sama sekali tak membahayakan nyawa si Monster di depannya.
"Ini yang terakhir. Gunakan dengan bijak," kata Koga datar.
Em mengatupkan rahangnya dan menunduk. Memang benar kata Koga, hidup dan mati Em, ditentukan oleh serangan terakhir ini. Kalau dia gagal, Em tahu kalau nyawanya akan melayang.
Wusshhhhhh.
Bayangan Em menghilang dan Koga kembali memasang konsentrasi penuh. Tak lama kemudian, dia menepis sebuah benda yang melesat kearahnya dengan tangan kanan.
Bangggg.
Sebuah pisau yang dilempar oleh Em berhasil ditangkis oleh Koga dan mencelat ke arah dinding. Tetapi belum sempat Koga menarik tangannya ke belakang, Em muncul di sebelah kiri Koga dan melayangkan sebuah serangan ke arah perut Koga.
Timing antara dua serangan Em sangatlah presisi, antara pisau yang dilempar tadi dan serangan keduanya hampir bersamaan. Serangan pertama hanyalah sebuah distraksi atau pengalih perhatian saja, sedangkan serangan kedua adalah serangan yang sesungguhnya.
Koga menyeringai lalu menggunakan kecepatan maksimumnya.
Bangggggg.
__ADS_1
Sebuah suara keras terdengar dan sesaat kemudian sosok Em sudah berdiri di depan Koga.
Lebih tepatnya, Koga mencekik Em dengan tangan kananya dan menggantung tubuh gadis itu dengan satu tangan saja.
"Serangan terakhirmu memang sangat baik, mungkin akan berhasil menghabisi orang lain. Tapi tidak untukku," gumam Koga dengan sebuah seringai di bibirnya yang tak hilang dari tadi.
Em terdiam dan memegang tangan kanan Koga dengan kedua tangannya. Semua usahanya sia-sia saja, tapi yang terpenting dia sudah melakukan yang terbaik. Em tak menyesalinya.
"Lakukan!!" desis Em pelan.
Krakkkkkkk.
Sebuah suara sesuatu yang retak terdengar saat Koga mematahkan leher Em dengan tangan kanannya.
Nyawa Em tak tertolong lagi.
Koga melihat ke arah tubuh Em yang tak bernyawa dan melemparkannya ke salah satu sudut ruangan tanpa belas kasihan, seolah-olah menyentuh tubuh Em adalah sesuatu yang menjijikkan baginya.
Tak ada kejutan, hasil dari pertarungan ini memang sudah ditentukan dari awal. Dan Koga lah yang menjadi pemenangnya. Seperti yang seharusnya terjadi.
"Humph," Koga mendenguskan napas dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Dia menunggu.
Koga menjadi Kandidat keempat yang lolos setelah menghabisi soulmate yang sama sekali asing baginya.
\=\=\=\=\=
"Professor, ada empat orang Kandidat yang sudah selesai dengan misi terakhir mereka," kata salah seorang Pengurus.
Professor seakan-akan tak peduli dan sama sekali tak menjawab kata-kata Pengurus itu.
Dia memperhatikan dengan seksama salah satu monitor yang menunjukkan keadaan di dalam sebuah ruangan.
Ruangan pertama yang berisi Gaju dan Tian.
"Kamu adalah yang terbaik. Aku ingin lihat keputusan apa yang akan kamu ambil," gumam Professor.
Dia sama sekali terlihat tak peduli dengan semua sumpah serapah dan caci maki yang dikeluarkan oleh Gaju untuknya.
Dia juga tak peduli dengan kebencian Gaju yang juga ditujukan kepada dirinya.
"Gaju. Aku menunggu. Keputusan apa yang akan kau ambil," gumam Sang Professor.
__ADS_1