
“Gaju, maukah kamu membuat kesepakatan denganku?”
Gaju yang sedang mengalami situasi emosional terendahnya sejak berada di Pulau mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal terdengar dari belakangnya. Suara seseorang yang selama ini menjadi musuh terbesar sekaligus mimpi buruknya. Seseorang yang membuat dia dan semua Kandidat lainnya merasakan jenis kehidupan yang mereka rasakan.
Sang Professor.
Gaju menolehkan kepalanya dan kini bisa melihat sosok lelaki tua itu di belakangnya. Sekalipun sosok itu terlihat sangat nyata, hanya dengan sekali lihat, Gaju tahu kalau itu hanyalah hollogram saja.
Pengurus pasti memperhatikan semua kejadian dan pertarungan di tempat ini tadi.
Gaju juga menduga kalau semua rahasianya sudah diketahui oleh Sang Professor dan Pengurus, tapi dia tak peduli. Karena dia tahu kalau apa yang dia dilakukan tadi adalah suatu keharusan. Dia tak mungkin membiarkan Tian tewas tanpa melakukan apa-apa, tidak setelah apa yang gadis kecil itu lakukan untuknya.
Gaju dengan cepat menganalisa semua kemungkinan kenapa Sang Professor muncul disini. Hanya butuh beberapa detik bagi Gaju untuk menduganya. Yang pertama, tentu saja karena performa Gaju yang selalu tersembunyi telah terkuak, jadi Pengurus sekarang pasti menempatkan nama Gaju sebagai Kandidat terkuat di Pulau.
Alasan yang kedua pasti terkait dengan cidera Tian. Apapun ceritanya, Tian adalah kandidat dengan Intelligence Capability terbaik diantara rekan-rekannya. Tak akan mungkin bagi Pengurus untuk membiarkannya mati. Jadi Professor kesini untuk menyelamatkan Tian.
Professor memperhatikan semua gerak gerik Gaju dan tersenyum kecil.
“Kamu mengaanalisa motifku datang kesini? Bagus, tak seperti strategist lain, kamu bisa melakukan tugas seberat itu dengan metode simultaneous thinking tanpa kehilangan focus kepada lingkungan sekitar seperti Tian dan Adel,” puji Professor.
Gaju paham apa yang dikatakan oleh Professor, untuk strategist lain, mereka akan mengalami momentary blank saat melakukan analisa. Kondisi ini adalah keadaan dimana, strategist memfokuskan semua kemampuan otaknya untuk mengakses memory dan knowledge yang mereka miliki dan menggunakannya untuk analisa.
Pada kondisi seperti ini, kesadaran sang strategist pada kondisi di sekitarnya menghilang. Mereka berubah menjadi target serangan yang sangat mudah untuk diserang.
Tapi, Gaju lain, sejak dulu, dia tak pernah mengalami kesulitan untuk melakukan atau memikirkan dua hal yang sama di saat yang bersamaan. Saat melakukan analisa sekalipun, Gaju tak mengalami momentary blank seperti strategist lain. Dia masih bisa melihat dan waspada kepada ancaman bahaya dari lingkungan sekitarnya. Inilah yang dimaksud dengan kata-kata Professor barusan.
“Oke, sekarang katakan padaku apa hasil analisamu!” kata Professor dengan nada memerintah.
Gaju menatap Professor tajam dan sama sekali tidak membalas kata-katanya. Dia hanya diam saja tanpa mengedipkan mata.
“Kamu benci aku ya?” tanya Professor sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Asal kamu tahu, aku tak pernah peduli apa perasaan kalian kepadaku atau perasaan kalian kepada Pengurus. Kami disini untuk menciptakan prajurit super yang melebihi batasan yang diketahui oleh sains saat ini. Aku tak peduli dengan hal sepele seperti perasaan,” lanjut Sang Professor yang lebih menyerupai ceramah itu.
“Oke, kalau kamu tak berniat menjawab pertanyaanku. Aku akan mengatakannya langsung,” lanjut sang Professor setelah tak mendapatkan reaksi dari Gaju.
“Let’s make a deal,” kata sang Professor mengulangi ucapannya di awal tadi.
Senyum tipis tersungging di bibirnya dan entah kenapa, Gaju seperti melihat bayangan Iblis di belakang hollogram sang Professor. Iblis yang sedang menawarkan jebakannya sambil tersenyum kepada calon mangsanya.
Gaju melirik ke arah Tian, “Sekalipun kesempatan itu datang dari Iblis, aku akan membuat kesepakatan dengannya asalkan Tian bisa diselamatkan,” gumam Gaju dalam hati.
Gaju berdiri dan menghadap Professor, dia mencoba sekuat tenaga untuk menekan rasa benci dan marahnya kepada sosok itu.
Professor tersenyum lebar, "Aku bisa menyembuhkan soulmate-mu, tapi semua ada harganya," kata sang Professor sambil tertawa kecil.
"Lihat ini! Ada beberapa item yang bisa menyelamatkan nyawa Tian dari item yang kami tawarkan," kata Professor sambil melambaikan tangan.
Di sebelahnya tiba-tiba muncul sebuah layar hollogram yang memiliki ukuran setengah kali satu meter dan memperlihatkan sebuah daftar panjang.
Gaju membacanya sekilas dan tertegun, "Pulau memiliki kemampuan medis secanggih itu?" kata Gaju dalam hati setengah tak percaya.
"Kekekekekekeke," Professor hanya terkekeh melihat raut muka Gaju yang seperti tak percaya dengan apa yang baru saja dia tunjukkan.
"Tapi, di dunia ini, ada istilah yang harus kamu ketahui, no free lunch. Jadi, semua ada harganya," lanjut Sang Professor sambil menyeringai.
Gaju melirik ke arah bagian paling bawah dari deskripsi item yang ada di layar dan tertegun ketika melihatnya.
500 poin.
Sebuah harga yang sangat fantastis dan di luar jangkauan nalar Gaju untuk saat ini.
500 poin, itu artinya, Gaju harus membantai creature level 3 sebanyak 5 ekor untuk mendapatkan poin itu dan berhak meminta Pengurus untuk melakukan Advanced Medical Treatment kepada Tian.
__ADS_1
5 ekor mahluk seperti Griffin.
Membayangkannya saja membuat Gaju merinding, tapi dia tak punya pilihan lain.
Masalahnya, Gaju saat ini tak memiliki sebiji poin pun dibawah namanya, tidak Adel, tidak juga Aju, bahkan Gaju yakin kalau saat ini, mungkin tak ada seorang Kandidat pun yang sudah memiliki poin.
Kalaulah Gaju memutuskan untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya mulai saat ini, di saat Gaju mungkin berhasil mendapatkan poin yang dibutuhkan, apakah Tian masih bernyawa?
Gaju terdiam. Tapi otaknya berpikir dengan keras. Satu yang dia yakini, Professor tak akan datang kesini tanpa rencana. Dia tahu itu.
"Apa maumu?" tanya Gaju dengan nada datar.
"Smart!" puji Professor.
"Aku menawarkan sebuah kesepakatan untukmu. Aku akan meminjamimu poin dan merawat Tian. Tapi..." Professor melihat ke arah Gaju dan dengan sengaja menahan kata-katanya.
"Tapi?" kejar Gaju.
"Tapi ada syaratnya," jawab sang Professor sambil tertawa lantang.
"Aku tak punya waktu untuk bermain tebak-tebakan. Katakan syaratmu dan rawat Tian secepatnya," kata Gaju dengan nada meninggi.
"Kakakakakakakaka," Professor tertawa mendengar kata-kata Gaju.
"Yang pertama, seperti yang dilakukan semua kreditor di permukaan Bumi. Interest. Aku meminjamimu poin dan aku tak mau rugi. Jadi Prosedur Advances Medical Treatment akan berubah menjadi 1000 poin untuk kasusmu, anggap tambahannya sebagai interest untukku," kata sang Professor.
"Bedebah!!" rutuk Gaju dengan suara pelan dan tatapan tajam ke arah Professor.
Tapi sang Professor seolah tak mendengar kata-kata Gaju dan meneruskan kata-katanya.
"Syarat kedua, mulai saat ini, kamu akan dianggap sebagai creature level 2. Siapapun Kandidat yang bisa membunuhmu, akan mendapatkan nilai yang sama, 1000 poin," kata Professor.
__ADS_1
Gaju terdiam. Saat ini, dia menjadi satu-satunya Kandidat yang mempunyai nilai poin minus 1000 poin.