Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 16 - Unknown Factor


__ADS_3

Day-755


Sebulan lebih setelah program memasuki tahap kedua. Kehidupan para Kandidat di Pulau berubah drastis. Ada yang berubah ke arah yang lebih baik. Ada yang menjadi lebih buruk tapi banyak juga yang sama sekali tidak mengalami perubahan berarti.


Gaju adalah salah satu yang tidak banyak mengalami perubahan berarti. Dia tetap mengikuti rutinitas hariannya sebelum tahap kedua dimulai. Hanya mengganti waktu untuk kelas di pagi hari dengan menghabiskan waktunya untuk membaca buku di Library atau perpustakaan.


Sisa waktu yang lain digunakan sama seperti sebelumnya.


Hal lain yang berbeda adalah kini Tian selalu mengekor kemanapun Gaju pergi. Gaju awalnya risih dengan hal itu. Tapi setelah satu bulan berjalan akhirnya Gaju mulai terbiasa dengan kehadiran gadis kecil bernama Tian itu di sekitarnya.


Tian awalnya sangat penasaran dengan rutinitas harian si Aneh yang sama sekali tidak bisa dia prediksi itu.


Tapi setelah beberapa hari mengikutinya, Tian mulai paham dengan kegiatan sehari-hari Gaju.


Tian merasa sedikit kecewa, seperti yang dibilang Tia, sahabatnya, tidak ada yang istimewa dengan kehidupan Gaju. Dia membaca buku, belajar dan berlatih sama seperti umumnya kandidat yang lain.


Mungkin yang membedakan Gaju dengan kandidat yang lain adalah dia suka menyendiri. Dia juga tidak suka bergaul dengan kandidat lain. Selain itu dia senang berlatih di spot favoritnya yang memang memiliki pemandangan indah saat matahari terbenam di sore hari.


Tapi selain itu, tidak ada yang istimewa dengan latihan Gaju. Rutin gerakan bela diri, rutin gerakan power training untuk menambah massa otot dan semua rutin latihan normal lainnya.


Tian mulai bingung. Apakah otaknya sendiri sedang menipunya? Kenapa kemampuan analisa Tian selalu gagal saat mencoba menganalisa Gaju?


Selalu ada faktor 'x' yang tidak diketahui Tian dan membuatnya tidak bisa menerka apa yang akan Gaju lakukan dalam kondisi combat atau pertarungan.


Semisal kemampuan otaknya mengalami masalah saat menganalisa Gaju, kenapa Tian bisa dengan mudah melakukan hal itu untuk 38 orang kandidat lainnya? Ada apa dengan Gaju? Apa yang membuatnya spesial? Pertanyaan seperti itulah yang memenuhi kepala Tian beberapa hari belakangan ini.


Jangan salahkan Tian kalau dia menghabiskan waktunya untuk memikirkan masalah yang terlihat sepele ini. Sebagai Strategist, hal seperti itulah yang memang menjadi point utamanya.

__ADS_1


Strategist mengembangkan kemampuan mereka agar dapat mengenali karakter musuh dengan cepat, menentukan garis besar kemampuan dan kelemahan masing-masing musuhnya, kemudian dengan mengombinasikan faktor eksternal seperti lokasi pertarungan, cuaca, vegetasi, batuan, bahkan kondisi angin dan kelembaban udara juga. Setelah itu Strategist akan melakukan analisa menyeluruh agar mendapatkan sebuah rencana atau skenario pertarungan yang membawa dirinya atau timnya memperoleh kemenangan.


Karena itu, syarat terpenting bagi Strategist adalah memiliki knowledge dan memory yang baik untuk mengenali medan dan lingkungan. Serta mempunyai kemampuan analisa diatas rata-rata untuk bisa menghasilkan skenario pertarungan dengan cepat dan tepat.


Dan musuh utama Strategist seperti Tian adalah unknown factor, sesuatu yang tidak diketahui, faktor yang tidak bisa diperhitungkan dalam analisanya. Karena sebuah skenario dengan faktor ketidakpastian di dalamnya bisa menjungkirbalikkan semuanya.


Dari menang menjadi kalah, dari selamat menjadi mayat.


Gaju adalah unknown factor terbesar bagi Tian.


Dari dulu, Tian sangat memperhatikan Gaju karena hal itu. Setelah 2 tahun selama Tahap Pertama, Tian belum juga menemukan alasan yang membuat Gaju sangat misterius baginya.


Tian terus mencoba untuk menemukan rahasia yang coba disembunyikan oleh si Aneh itu. Waktu demi waktu, hari demi hari, dan tanpa gadis kecil itu sadari, Gaju bukan lagi sebuah obyek misterius yang bergerak diluar analisanya, Gaju menjadi sesuatu yang benar-benar istimewa di mata Tian.


Sampai detik ini, saat si Aneh itu sudah menjadi soulmate-nya selama sebulan lebih tapi Tian juga masih belum bisa menganalisa kemampuan yang dimiliki oleh Gaju, yang sekarang duduk didepannya.


"Kamu baca buku apaan sih?" tanya Tian ke arah Gaju yang duduk di depannya dan asyik membaca buku di atas meja.


"Kalau nggak penting, ngapain dibaca?" balas Tian sambil merengut, "ngeselin banget sih ni bocah, ada gadis cantik di depannya malah asyik baca buku nggak jelas gitu," batin Tian dalam hati.


Aneh memang, semua intelligence capability yang dimiliki Tian, seolah melempem saat dia berada di dekat si Aneh. Tian jadi mudah terbawa emosi dan kurang bisa menggunakan logikanya dengan baik dan benar sesuai tuntunan ajaran dalam buku.


Setelah membuang muka selama beberapa saat, Tian kembali lagi mengalihkan pandangannya ke arah sampul buku yang dipegang oleh Gaju.


'A Manual of Acupunture by Peter Deadman'


Wtf, buku apaan sih itu? Bahkan Tian pun baru sekali ini mendengar kata-kata 'acupuncture'.

__ADS_1


Rasa penasaran Tian sedikit terusik, "buku apaan sih itu?" tanya Tian ke arah Gaju.


Gaju meletakkan bukunya ke atas meja dan melihat ke arah Tian, "tadi kan dah nanya kaya gitu, Tian!!" kata Gaju sambil menarik napas panjang.


"Iya, tapi kamu jawabnya buku nggak penting, Gaju!!" jawab Tian sambil balas melotot ke arah Gaju.


"Buat kamu nggak penting, buat aku penting," jawab Gaju.


"Emangnya kamu tahu apa yang penting buat aku atau nggak?" jawab Tian dengan nada menantang.


"Kamu kandidat paling genius otaknya di Pulau. Aku yakin semua buku yang kamu anggap penting pasti sudah kamu baca. Kalau kamu nggak tahu ini buku apaan, itu artinya, buku ini bahkan sama sekali nggak kamu anggap ada," kata Gaju pelan.


Tian terdiam setelah mendengar kata-kata Gaju, "Gaju barusan menganalisaku?" tanyanya dalam hati sambil kebingungan.


"Bukankah Gaju barusan menganalisa aku dan analisanya tepat? Itu artinya, analytical capability Gaju sama atau mungkin lebih tinggi dari aku kan?" batin Tian masih dengan wajah terpana dan melihat ke arah Gaju.


"Tapi kalau memang seperti itu, kenapa Gaju tidak pernah sekalipun mendapatkan peringkat tiga besar? Ataukah dia sengaja menutupi kemampuannya? Berapakah nilai IC dan PA Gaju?" beberapa pertanyaan langsung bermunculan di otak kecil Tian yang bergerak dengan cepat untuk memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.


Duakkk.


Suara hantaman pelan sebuah buku dirasakan Tian di kepalanya, Tian mengaduh kesakitan dan melihat ke arah tersangka utama yang memukulnya barusan, Gaju.


Tian langsung merengut marah ke arah Gaju.


"Jangan berpikiran macam-macam," kata Gaju pelan dan langsung dirasakan seperti sebuah palu yang dipukulkan ke dada Tian.


Kata-kata Gaju 'spot on' dan tepat mengenai apa saja yang barusan terlintas di kepala kecil Tian. Tian mencibir ke arah Gaju sebagai balasan.

__ADS_1


Gaju melihat ke arah pergelangan tangannya kemudian berdiri untuk menuju ke Canteen. Waktunya makan siang.


Tian tersenyum dan mengikuti si Aneh itu dari belakang. Pagi itu, sebuah fakta tentang Gaju berhasil diketahui Tian. Sebuah fakta yang menunjukkan bahwa Gaju mungkin sama cerdas atau bahkan lebih cerdas daripada dirinya sendiri.


__ADS_2