
Tahap Ketiga, Day 9.
“Selamat pagi kepada seluruh Kandidat.”
“Peringkat pertama untuk perolehan poin ditempati oleh Kandidat Tiga Tujuh dengan total perolehan pon sebanyak 439 poin.”
“Sistem Charity dan Robbery aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan.”
“Reward 1000 poin untuk Kandidat yang berhasil mengeliminasi Kandidat Tiga Tujuh, aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan.”
“Selamat berjuang.”
Notifikasi rutin yang sama kembali masuk kedalam mini komputer semua Kandidat yang ada di Pulau. Tapi tidak ada yang meyangka kalau hari ini mereka akan mendapatkan sebuah berita yang membuat mereka semua gempar.
\=\=\=\=\=
“Sialan!!” maki Koga sambil membanting sebuah piring di depannya.
Songnam dengan cepat mendekat dan memeluk kekasihnya itu. Dia ingin meredakan emosi Koga. Tia hanya melirik ke arah kedua Kandidat itu dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi.
Mereka bertiga baru saja membuka notifikasi pagi ini bersama-sama. Dan ketika Koga mendengarkan tentang perolehan poin Gaju, dia langsung meradang. Sebodoh-bodohnya Koga dia sadar akan satu hal.
Jika Pulau masih mengumumkan Gaju sebagai peraih skor tertinggi pagi ini, itu artinya Gaju masih hidup. Dan jika Gaju masih hidup, maka cuma ada satu kemungkinan yang terjadi kepada anak buahnya yang dia kirimkan untuk memburu Gaju.
Mereka gagal.
Koga memang tak menggantungkan semuanya kepada Songlan dan timnya. Dia juga berburu poin sendiri. Dan selama beberapa hari ini, Koga hanya mendapatkan poin tak lebih dari 100, lebih tepatnya hanya 93 poin.
Alasannya sederhana, Koga tak seperti Gaju, Gama ataupun Koma yang bergerak dalam Hutan secara bebas.
Koga hanya bisa berburu di sekitar Komplek lalu kembali lagi ke Komplek malam harinya. Populasi binatang buas di sekitar Komplek tentu saja tak seperti area tempat Kandidat monster lain berburu. Itulah kenapa dia hanya mendapatkan perolehan poin yang sangat jauh dari Gaju.
"Kemana si Bedebah Songlan dan tim yang kukirimkan?" teriak Koga dengan penuh emosi.
Teriakan yang tentu saja tak akan dapat dijawab oleh Tia dan Songnam.
\=\=\=\=\=
Songlan menarik napas dalam.
Sejak pertarungannya dengan Gaju dihari ketujuh, Songlan masih terjebak dalam Hutan. Tak seperti dugaannya, dia selalu beranggapan bahwa dengan terus bergerak ke Selatan dia akan kembali ke Komplek.
Tapi, kenyataan berkata lain.
Songlan baru menyadari betapa pentingnya peran seorang tracker seperti Sadu, karena dia sedang tersesat sekarang.
"Arrrgghhh."
Songlan menoleh ke arah suara erangan di sampingnya. Dia menghempaskan napas panjang. Duma bersandar ke sebuah pohon dan seluruh tubuhnya berkeringat.
__ADS_1
Songlan terdiam.
Dia berpikir keras.
Songlan gagal dalam menjalankan misinya. Dia seharusnya memburu Gaju dan mendapatkan reward 1000 poin untuk Koga. Alih-alih kembali dengan kemenangan, Songlan justru membawa pulang kegagalan.
Dia kehilangan Tutu dan Sadu, Duma juga mengalami cidera parah. Songlan bisa membayangkan perlakuan apa yang akan didapatnya dari Koga.
"Aaarrgghhhh. Songlan... Aku lapar..."
Songlan membuka tas ranselnya dan tersenyum kecut. Bekalnya sangat terbatas. Saat itulah, sebuah ide sinis masuk ke dalam kepala Songlan.
Daripada dia kembali ke Komplek dan menerima hukuman dari Koga, kenapa tidak...
Songlan mendekat ke arah Duma sambil membawa makanan ransum di tangannya. Duma tersenyum ketika melihatnya.
Krakkkkkk.
Tiba-tiba saja, Songlan mengayunkan tangan kanannya ke arah kepala Duma dan membunuh anak itu seketika.
Darah terlihat membasahi kepalan tangan Songlan yang baru saja memukul Duma. Tangan satunya yang memegang makanan terlihat bergetar. Perut Songlan juga terasa diaduk-aduk dan mual.
Ide yang muncul tiba-tiba dan hanya sekilas terlintas di benaknya tadi tanpa ragu dia eksekusi tanpa berpikir panjang.
Saat ini, Songlan resmi menjadi seorang predator.
Dengan mata yang kebingungan, Songlan melihat kepalan tangannya yang dilumuri darah. Lalu dia melirik ke arah tubuh Duma yang sekarang tak bernyawa dan mata menatap tajam ke arah Songlan. Rasa kaget jelas terlihat di raut wajah Duma sampai akhir hayatnya.
Bip.
"Selamat kepada Kandidat Kosong Sembilan yang telah mengeliminasi Kandidat Dua Lima."
"Reward sebesar 50 poin akan diberikan kepada Kandidat Kosong Sembilan."
"Selamat berjuang."
Songlan masih tertegun di tempatnya ketika notifikasi itu datang ke mini komputernya.
Sebuah hadiah kejutan yang tak dia sangka setelah memutuskan untuk mengkhianati rekannya sendiri. Sebuah tanda kalau sejak saat ini, dia tak lagi berada dalam bayang-bayang Koga.
Songlan bergerak menuju ke masa depannya sendiri.
\=\=\=\=\=
"Soon," gumam Adel pendek setelah melihat angka di mini komputernya.
234 poin.
Jumlah yang fantastis dan berhasil dikumpulkan pasangan Aju dan Adel sejak memutuskan berpisah dengan Gaju beberapa hari lalu.
__ADS_1
Seperti yang semua orang duga. Kombinasi antara real strategist selevel Adel dan real fighter seperti Aju merupakan pasangan paling mematikan di Pulau.
Mereka dapat dengan mudah bahu membahu saat berburu binatang buas. Dengan kemampuan analisa Adel dan eksekusi oleh Aju, mereka dengan mudah dapat mengumpulkan poin sebanyak itu.
Eye Implant 150 poin.
Basic Archery 10 poin.
Intermediate Archery 20 poin.
Advanced Archery 50 poin.
Tactical Longbow 50 poin.
"Berapa poin lagi yang kita butuhkan?" tanya Aju.
"46 poin lagi," jawab Adel sambil tersenyum.
"Humph. Paling lambat dua hari lagi kamu akan jadi seorang archer," jawab Aju sambil tersenyum.
"Terima kasih. Setelah itu, kita akan mengumpulkan poin untukmu," jawab Adel.
"Tapi..."
"Aku tak habis pikir, bagaimana caranya si Gaju bisa mengumpulkan poin sebanyak itu," gumam Aju sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Adel hanya tersenyum pahit. Dia sama sekali tak merasa iri dengan perolehan poin milik Gaju. Karena dia tahu, Gaju melakukan semua itu demi Tian.
Sesuatu yang membuat Adel merasakan sedikit sesak di dadanya.
"Gaju, apakah kamu akan melakukan hal yang sama untukku?" gumam Adel dalam hati.
\=\=\=\=\=
Tian berdiri dan tersenyum sambil menatap cermin.
Dia membelai bekas luka yang ada di dadanya perlahan-lahan. Dia tak merasa jijik dengan bekas luka itu, karena dia tahu darimana bekas luka itu berasal.
Apalagi saat Tian mendapatkan notifikasi dari mini komputernya pagi ini.
"Gaju..."
Tian bahagia saat tahu kalau Gaju baik-baik saja. Tian juga tak sabar untuk kembali mendampingi soulmatenya itu.
"Kandidat Tiga Delapan..." panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan dan mengagetkan Tian.
"Kami akan mengantermu kembali ke Hutan. Tolong bersiap-siap dalam waktu beberapa menit," kata Pengurus dengan outfit mirip tentara itu.
Tian tersenyum cerah.
__ADS_1
"Gaju, kita akan segera bertemu. Do you missed me?" gumam Tian.
Padahal kan mereka baru berpisah selama beberapa hari saja.