Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 78 - Setia?


__ADS_3

Koga mendekat ke arah kotak hitam itu dan sama seperti yang terjadi dengan Adel, sebuah suara ‘bip’ lemah terdengar dan mengagetkan mereka berlima.


Bip.


“Scanning..."


“Identitas telah dikonfirmasi.”


“Kandidat Kosong Tiga berada di dekat Paket.”


“Apakah Anda ingin membuka paket?”


Kelima orang itu terdiam. Koga melihat kearah Tia dan Tia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Buka!” kata Koga pelan.


Tak lama kemudian, sebuah benda yang terlihat menyerupai sebuah suntikan lengkap dengan jarumnya terlihat di dalam kotak Hitam yang telah terbuka di depan mereka.


Tanpa menunggu penjelasan apa pun atau aba-aba dari Tia, Koga dengan cepat menyambar suntikan itu dan langsung menggulung lengan baju camou miliknya.


Mereka berlima sudah familiar dengan benda itu. Bukankah ini sama dengan serum yang dulu mereka dapatkan saat masih di Tahap Satu?


Tanpa berkata apa-apa Koga menyuntikkan serum itu ke lengannya. Dia lalu membuang bekas suntikan yang tidak lagi berisi apa-apa ke samping tubuhnya.


Koga memejamkan mata dan menunggu.


Tiba-tiba, seluruh tubuh Koga terasa seperti terbakar. Panas dan menyakitkan.


"Aaaaaarrgggghhhhhh," Koga berteriak panjang karena rasa sakit yang dialaminya.


Dia hanya mampu bertahan dalam hitungan detik sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Sebuah niat jahat sempat terbersit dalam kepala Tia saat melihat kondisi Koga yang sekarang tak berdaya sama sekali itu. Tapi, hanya sesaat saja, kilatan mata sinis itu kembali meredup ketika Tia menyadari keberadaan Tien dan Songnam.


Mereka berdua memang terlihat saling memusuhi, tapi ketika sesuatu mengancam Koga, Tia yakin kalau mereka berdua tanpa ragu akan melindunginya dan bekerja sama. Tia tak yakin kalau dirinya dan Gasa akan sanggup menghadapi mereka berdua.


"Ini bukan waktu yang tepat," gumam Tia dalam hati.


"Gasa, bawa Koga ke tempat aman. Dia vulnerable saat ini. Jangan sampai ada yang memanfaatkan kesempatan ini," kata Tia pelan.


Tien dan Songnam melirik ke arah Tia dengan tatapan berterima kasih. Mereka percaya kini kalau Tia adalah bawahan yang setia.


Tapi, dalamnya hati manusia, siapa yang tahu?


\=\=\=\=\=


"Gaju, di sebelah kanan. Ular Daun dewasa," kata Tian yang berdiri beberapa meter di belakang Gaju.


Gaju menganggukkan kepalanya lalu bergerak cepat ke arah kanannya tanpa ragu.


Sejak mereka berdua kembali bersatu beberapa hari lalu, Gaju memang memutuskan untuk fokus menjadi seorang fighter. Suatu hal yang sangat mudah bagi Gaju.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya dia mampu juga melakukan analisa dalam pertarungan, tapi dia membiarkan Tian melakukannya.


Bukankah mereka soulmate?


Soulmate yang harus saling mempercayai dalam kondisi apapun.


Karena itu, Gaju juga sudah memberi tahu Tian tentang hutangnya sebesar 1000 poin kepada sang Professor.


Gaju tak mengharapkan apa pun dari hal itu. Dia hanya berusaha untuk tidak menutup-nutupi apapun kepada soulmatenya.


Karena Gaju tahu, Tian, soulmatenya, sudah memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk dirinya. Dan itu dibuktikan dengan sebuah tindakan, bukan hanya ucapan.


Tindakan yang akan selalu Gaju ingat sampai kapan pun, karena ada bekas luka dari tubuh Tian yang akan selalu mengingatkan Gaju akan hal itu.


Bekas luka yang sekarang sangat disukai oleh Tian setelah gadis itu tahu apa alasan Gaju meminta tim Medis untuk tidak menghapusnya.


Grusaakkkkkkk.


Sebuah suara daun yang bergerak terdengar ketika Gaju melompat ke arah semak-semak di sebelah kanannya.


Gaju tahu kalau Ular Daun itu berusaha melarikan diri. Sama seperti puluhan bahkan ratusan binatang buas lain yang selama beberapa hari ini mereka buru.


Binatang buas memiliki instinct sebagai bagian dari nalurinya. Mereka tak butuh kecerdasan tingkat dewa atau analisa yang luar biasa untuk sekedar membedakan apakah mahluk yang berdiri di depannya adalah mangsa atau pemangsa.


Dan Gaju adalah pemangsa.


Pemangsa yang sanggup membuat tubuh semua binatang buas tingkat 4 bergetar karena rasa takut mereka.


Braaaakkkkkkk.


Tubuh seekor Ular Daun dengan diameter hampir 150 cm dengan panjang hampir mencapai 5 m terbang melayang dan mengenai sebuah batang pohon setelah terkena pukulan tangan Gaju.


Tak lama kemudian, bayangan Tian keluar dari persembunyiannya dan berdiri di sebelah Gaju.


"Monster," cibir Tian sambil menjulurkan lidahnya ke arah Gaju.


Ular Daun yang dulu sangat dia takuti, tak sanggup bertahan lebih dari satu kali pukulan di depan soulmatenya.


Gaju hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal ketika mendengar cibiran Tian.


"Kalau aku monster, kenapa kamu tidak takut padaku?" tanya Gaju setengah bercanda.


"Because you are my Demon," jawab Tian sambil mendekat ke arah Gaju.


"Aku jatuh dari surga untuk menemanimu. Apakah kamu tega melukaiku? Walaupun hanya sehelai rambut pun?" lanjut si gadis kecil manja sambil tersenyum mesra dan memeluk lengan soulmatenya.


"Aku tak perlu menjawabnya ya kan?" kata Gaju sambil tertawa kecil dan berjalan ke arah poin yang menunggunya.


Tian menghentakkan kakinya dengan kesal ke tanah. Bukan karena Gaju tak menjawabnya.


Tapi karena si Monster yang sama sekali tak terlihat takut saat berhadapan dengan binatang buas di Hutan itu, sampai saat ini seolah masih malu dan takut saat Tian berusaha menjalin kemesraan dengannya.

__ADS_1


Gaju melihat ke arah mini komputer di tangannya.


713 poin.


Gaju tersenyum cerah.


Sebentar lagi dia akan punya cukup poin untuk membayar hutangnya. Lalu dia akan mengumpulkan poin untuk mendapatkan item untuk advancement Tian, soulmatenya.


\=\=\=\=\=


Wusssssshhhhh.


Kuaaakkkkkkkk.


"Ke arah jam 11," teriak Adel.


Aju bergerak dengan cepat sesuai perintah Adel. Dan mengejar benda hitam yang terjatuh dari langit itu.


Adel baru saja memanah seekor Rajawali Kepala Putih yang sedang terbang di udara dengan Tactical Longbownya.


Aju sangat senang sekali selama beberapa hari ini sejak advancement Adel di hari ke 9 sebagai Archer. Kini, Adel justru seolah-olah menjadi main attacker dari tim mereka berdua.


Aju hanya berfungsi tak lebih sebagai protector bagi Adel dan pengumpul jasad hewan buruan mereka. Pekerjaan yang dilakukan si Keling dengan senyuman senang tiap kali dia melakukannya.


Bukankah setelah ini, dia bisa mendapatkan berserker implant yang selalu dia impikan?


Tak lama kemudian, Aju sudah kembali dengan membawa mayat seekor Rajawali di tangannya. Rajawali yang terlihat begitu kecil saat terbang di udara tapi ternyata berukuran besar saat berada di tangannya. Bentangan sayapnya mencapai 2 m, lebih panjang dari tinggi badan Adel dan Aju sendiri.


Aju lalu menyerahkan bangkai Rajawali yang masih terasa hangat di tangannya itu kepada Adel.


Adel tersenyum dan mengambil poin dari chip yang ada di tubuh sang Rajawali.


"Berapa?" tanya Aju dengan raut muka ceria.


"182 poin," jawab Adel pendek.


"Yeeeeaaaahhhhhh," teriak Aju sambil mengepalkan tangannya ke udara.


Adel hanya mencibirkan bibirnya ketika melihat tingkah kanak-kanak Si Keling.


"Dengan progress seperti ini, kita bisa membeli berserker implant untukmu dalam waktu lima atau enam hari lagi," lanjut Adel.


Aju meloncat ke arah Adel dan berusaha memeluk gadis latin bertubuh seksi itu.


Tapi, gerakan tubuh Aju terhenti.


Sebuah anak panah tepat menunjuk ke arah hidungnya. Anak panah yang dipegang oleh Adel dan diacungkan gadis seksi itu.


"Kamu mau apa?" tanya Adel dengan muka ketus.


"Aku cuma mau memelukmu, karena aku sedang gembira," kata Aju dengan tatapan mata tak beralih dari ujung anak panah Adel.

__ADS_1


"Nggak ada hubungannya antara kamu gembira dan kamu memelukku!!" sungut Adel keji lalu meninggalkan Aju yang berkaca-kaca dan hampir menangis karena perlakuan soulmatenya.


__ADS_2