Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 24 - Salah Identifikasi


__ADS_3

Somewhere else.


"Ayo, kita pasti bisa," teriak seorang Kandidat pria yang memegang sebuah tongkat kayu yang diruncingkan.


Selain dia ada tiga Kandidat lain yang bersenjatakan sama. Dihadapan mereka ada seekor hewan menyerupai serigala tapi memiliki badan yang lebih besar. Tinggi badannya sama dengan tinggi rata-rata keempat bocah berusia 12 tahun itu.


Tubuh binatang buas itu terlihat terluka disana sini oleh tusukan tongkat kayu dan dia terlihat sudah terpojok ke arah sudut pepohonan yang rapat sekali.


Si bocah tadi yang berbicara, menggunakan tangannya untuk memberi kode agar mereka berempat menyerang binatang itu yang sudah terluka dan terpojok.


Mereka bergerak dengan pelan dan mengelilingi serigala yang sendirian dan telah terluka itu. Si Serigala sendiri mencoba untuk mundur tetapi tidak bisa karena rapatnya pohon yang ada di belakangnya.


Keempat orang Kandidat itu akhirnya mengangkat tongkat kayu mereka dan berniat menancapkan tongkat mereka untuk mendapatkan binatang buruan mereka yang pertama kali dari kemarin.


Tapi sesaat sebelum keempat anak itu berhasil menyarangkan kayu mereka, rerimbunan semak yang ada di sebelah kiri mereka bergerak-gerak dan tiba-tiba muncullah seekor Serigala yang tubuhnya sama besar dengan serigala pertama tadi tapi warnanya keabu-abuan. Sedangkan serigala yang berhasil mereka lukai berwarna keperak-perakan.


"Serigala Angin?" kata salah satu bocah sambil melirik ngeri ke arah serigala abu-abu yang baru datang.


Dan serigala berwarna keperak-perakan yang baru saja mereka lukai itu berjalan tertatih ke arah serigala abu-abu yang baru saja datang.


Si Serigala abu-abu menjilat bagian tubuh serigala perak yang terluka dan mengeluarkan darah. Seolah-olah tahu kalau keempat orang Kandidat itu yang melukai serigala Perak, serigala abu-abu menatap mereka berempat sekilas kemudian melolong tinggi ke arah langit.


Tak sampai hitungan detik, keempat kandidat itu bisa mendengar derap langkah puluhan kalau tidak ratusan serigala mengelilingi mereka di balik lebatnya perdu dan rimbunnya pepohonan.


Dengan suara bergetar dan tangan menggenggam erat tongkat kayunya, seorang kandidat bertanya kepada rekan mereka yang bertindak sebagai Strategist, "bukankah tadi kita sudah memintamu mengkonfirmasi apakah betul yang kita serang tadi Serigala Bulan, bukan Serigala Angin?"


Si Strategist hanya terdiam. Tetapi salah satu kawannya justru menjawab, "Serigala Bulan berbulu perak dan penyendiri. Serigala Angin berbulu abu-abu dan bergerombol. Tapi, Serigala Angin jantan yang belum dewasa biasanya adalah penyendiri dan berwarna perak gelap. Bukan begitu Strategist?"


"Jadi?"


"Jadi rekan Strategist kita salah menganalisa kalau serigala yang kita buru tadi adalah Serigala Bulan, padahal dia adalah seekor Serigala Angin jantan yang belum dewasa. Dan karena kesalahannya, kita semua akan mati disini."


Ketika kata-kata Kandidat itu berakhir, dari balik semak-semak dan sela-sela pohon yang rimbun, puluhan Serigala Angin berwarna abu-abu keluar dan mengelilingi keempat Kandidat itu dengan pandangan siap mengunyah dan mencabik-cabik mereka.


Salah seorang Kandidat yang melihat banyak sekali Serigala Angin mengelilingi mereka, terlihat menarik napas panjang dan menjatuhkan tongkat kayunya ke tanah.


"Mungkin kematian tidaklah terlalu buruk," gumam si Kandidat.

__ADS_1


"Sampai ketemu lagi gaess," lanjutnya sambil tersenyum dan melambai ke arah ketiga rekannya.


Dia kemudian berlari ke arah gerombolan Serigala Angin yang langsung membuka taring dan cakarnya untuk menerima kedatangannya.


Tak lama kemudian para Serigala itu berpesta-pora daging empat orang anak yang tercabik-cabik dan darah yang berceceran di tempat itu


Sebuah drone merekam semua drama yang dialami oleh empat orang anak itu sejak awal. Sejak kesalahan si Strategist saat menentukan jenis Serigala yang mereka hadapi. Sampai saat tubuh mereka dicabik-cabik dengan buas oleh puluhan ekor Serigala Angin itu.


\=\=\=\=\=


Di suatu tempat di dalam Komplek Pengurus.


Professor melihat ke sebuah live video pembantaian empat orang Kandidat oleh segerombolan serigala.


"Kalian terlalu menyepelekan knowledge. Kalau kalian punya itu, semua ini hanya rekreasi," gumam Sang Professor sambil melihat dua buah layar yang memperlihatkan dua lokasi berbeda.


Satu layar memperlihatkan Gaju dan Tian yang sedang menikmati ikan bakar tanpa bumbu mereka.


Satu layar memperlihatkan Adel yang terlihat menikmati hidup di dalam keranjang yang digendong oleh Aju.


Di beberapa layar lain terlihat Kandidat yang berusaha berjuang untuk mempertahankan nyawanya. Ada yang sedang terbenam di dalam lumpur hisap dan berpegangan pada ranting kayu yang ditarik rekannya.


Ada yang tergigit serangga kecil tapi mengakibatkan luka bengkak membiru.


Banyak sekali pemandangan yang terlihat di layar Professor dan bermacam-macam sedang memperlihatkan perjuangan para kandidat untuk survive di Hutan.


\=\=\=\=\=\=


Bipppp.


Sebuah suara terdengar dari mini komputer di pergelangan tangan Gaju dan Tian.


Tian mendekat ke arah Gaju dan membiarkan Gaju yang menyalakan mini komputernya. Cahaya terang langsung menerangi goa itu.


"Hari Kedua Ujian Eliminasi."


"3 Pasangan lolos. 5 pasangan tereliminasi."

__ADS_1


"12 pasangan tersisa di dalam Hutan."


"Aturan baru ditambahkan."


"Ujian Eliminasi akan dihentikan saat peserta yang tersisa tinggal 7 pasangan dalam Hutan. Sehingga total kuota untuk Tahap Tiga sebanyak 10 pasangan terpenuhi."


"Saat pasangan tersisa telah memenuhi kuota, Pengurus akan menjemput Kandidat yang tersisa di dalam Hutan dan memberikan pertolongan pertama dalam bentuk apapun yang dibutuhkan oleh Kandidat."


Gaju menutup mini komputernya. Kali ini, Tian tidak menjauh seperti kemarin malam. Dia tetap rebahan di dekat Gaju dan bersandar ke tubuh bocah itu.


"Tian," tegur Gaju karena ulah Tian itu.


"Kenapa?" bisik Tian pelan ke telinga Gaju.


"Tolong, dari semalam aku sudah memikirkan pertanyaanmu," lanjut Tian.


"Pertanyaan tentang apa yang akan kulakukan jika aku terjebak disini bersama Gaju dan Gaju ingin memakanku," lanjutnya lagi.


"Aku sudah tahu jawabannya," kata Tian sambil memeluk Gaju dengan tubuh yang gemetar dalam kegelapan.


"Aku akan memotong dagingku seiris demi seiris dan memberikannya untuk Gaju agar Gaju tetap hidup. Tapi aku juga akan berusaha untuk tetap hidup selama mungkin agar tetap bisa bersama Gaju, walau sedetik lebih lama," bisik Tian lirih di telinga Gaju.


"Gaju mungkin punya tujuan hidup yang harus dicapai. Tapi Gaju adalah tujuan hidup Tian."


Gaju terdiam dan membiarkan Tian memeluknya dalam gelapnya goa itu. Malam itu, Tian sudah menentukan pilihannya untuk mengikuti Gaju dan melakukan apapun untuk Gaju.


Sedangkan Gaju sendiri, sekalipun dia tahu kalau Tian berkata jujur saat ini. Tapi dia tetap mempunyai satu pembatas yang belum bisa dilewati oleh komitmen Tian.


Gaju mungkin sekarang dapat menerima Tian sebagai pasangannya tapi ada bagian terdalam yang masih belum bisa sepenuhnya menerima Tian.


Beberapa saat kemudian, Gaju sudah bisa mendengar suara napas halus Tian dan debaran jantungnya yang mulai teratur.


Hmmm. Dah tidur ya? bisik Gaju pelan.


Tangan Gaju bergerak dalam kegelapan dan meraih jemari Tian yang masih memeluknya dari belakang.


Ini kali pertama Gaju berinisiatif untuk memegang jemari Tian.

__ADS_1


Tian tersenyum dalam gelapnya goa yang mereka tempati itu. Dia memang berpura-pura tidur tadi. Dan Tian tersenyum senang saat Gaju berinisiatif memegang tangannya.


__ADS_2