Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 76 - Membosankan


__ADS_3

Tahap Ketiga, Day 11.


Swiiisshhhhhh.


Srakkkkk.


Sebuah panah menancap dengan tepat dan mengenai sasarannya yang terletak di sebuah pohon yang berada pada jarak 250 m dari tempat Adel berdiri. Dia hanya membutuhkan waktu dua hari saja untuk mempelajari archery knowledge yang dibelinya dan juga berlatih menggunakan Eye Implant secara serius.


Adel tertawa kecil dan terlihat riang. Dia lalu memberi isyarat kepada Aju yang berdiri tak jauh darinya untuk bergerak dan mengambilkan kelima anak panah yang digunakan Adel untuk berlatih.


“Aju, aku rasa ini sudah saatnya menggunakan skill-ku untuk berburu,” kata Adel dengan percaya diri.


“Kamu yakin?” tanya Aju.


“Aku yakin,” jawab Adel.


“Oke, kita coba dengan binatang buas yang gampang terlebih dahulu,” bujuk Aju ke arah Adel dan gadis berambut merah serta bertubuh seksi itu hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda setuju.


\=\=\=\=\=


Srakkkkkkk.


“Aaaaauuuuu,” auman Serigala Berbulu Domba terdengar melolong tinggi memecah keheningan Hutan di sekitar mereka berdua.


Sesuai namanya, Serigala yang satu ini memang aneh, bulu-bulu di tubuhnya berwarna putih dan bergumpal-gumpal lucu. Mirip dengan bulu dari hewan yang menjadi buruannya. Selain bulunya, kemiripan lain yang dimiliki oleh Serigala itu dengan hewan buruannya adalah postur dan ukuran tubuhnya yang menyerupai domba, tanpa ada cela.


Mudah bagi sang Serigala untuk menyusup ke dalam kawanan domba dan menyeret buruannya sebelum akhirnya menikmati daging domba malang itu.


Serigala ini termasuk binatang buas level 5 dan hanya memberikan satu poin saja bagi Aju dan Adel. Tapi, saat ini, bukan poin yang terpenting bagi mereka berdua. Mereka ingin meningkatkan kemampuan Adel dalam perburuan yang sesungguhnya.


\=\=\=\=\=


Koga merenung dalam sebuah ruangan yang menjadi semacam singgasananya. Dua orang gadis terlihat berada di dekatnya. Yang satu adalah seorang gadis cantik berdarah Asia dan memiliki wajah yang mirip dengan Tian, sedangkan satunya, seorang gadis manis dengan kulit sawo matang.


Mereka adalah Tia dan Tien.


Tia melirik tak suka ke arah Tien. Sedari awal, Tia memang tak suka dengan Kandidat yang memanfaatkan kecantikan fisiknya dengan berusaha mendekati Koga.


Sebelumnya ada Songnam yang tanpa malu menyodorkan dirinya ke pelukan Koga, kini barisan perempuan itu bertambah lagi dengan adanya gadis cantik yang bernama Tien ini.


"Tia. Menurutmu, apa langkah advancement yang harus kuambil?" tanya Koga setelah terdiam selama beberapa saat tadi.


Tia terlihat berpikir sejenak.


"Sebenarnya, itu semua tergantung dari keinginanmu dan apa yang menurutmu paling cocok bagi karaktermu," jawab Tia diplomatis.


"Humph," Koga membuang napas.

__ADS_1


"Apa yang kuinginkan ya?" gumamnya tak lama kemudian.


Tia menganggukkan kepalanya tanpa suara.


"Aku adalah aku. Sosokku seperti yang sekarang ini adalah apa yang selalu kuinginkan. Aku ingin mendominasi lawan-lawanku dengan kekuatan murni. Tanpa strategi, tanpa siasat licik, langsung berhadapan satu lawan satu."


"Aku seorang fighter sejati," kata Koga pelan dan tegas.


Tia tersenyum.


"Kalau memang seperti itu. Ada satu class yang sesuai untukmu," jawab Tia.


"Ha? Kamu serius?" tanya Koga.


Tia menganggukkan kepalanya.


"Warrior," gumam Tia pelan tak lama kemudian.


"Warrior?" tanya Koga kebingungan, "aku tak menemukan item atau implant apapun untuk class yang kamu sebutkan tadi," lanjut Koga.


"Hahahahaha," Tia tertawa kecil," tentu saja tidak. Memang untuk class ini, tak dibutuhkan implant khusus. Tapi ada serum yang akan membantumu menuju kesana," kata Tia.


Koga melihat ke arah Tia dengan tatapan menunggu penjelasan.


"Warrior adalah seorang petarung dengan karakter seperti fighter, mengandalkan kelebihan fisiknya yang berupa strength, agility dan speed untuk mendominasi musuhnya," Tia mulai memberikan penjelasannya.


"Pulau menyediakan itu."


"Strength enhancement serum, Speed enhancement serum dan Agility enhancement serum. Ketiga serum ini adalah solusinya."


"Masing-masing serum akan meningkatkan kemampuan fisik penggunanya secara permanen dengan integral 2.0 poin."


"Permanen dan tanpa batas."


"Itu artinya, seberapa banyak pun serum yang Leader gunakan, akan tetap memberikan efek yang sama."


"Bayangkan jika Leader menggunakan serum itu masing-masing 10 kali. Seberapa skor fisik yang akan Leader miliki? Pada saat itu, apakah Leader masih bisa dianggap sebagai manusia?" kata Tia.


Koga terdiam dengan tubuh bergetar karena rasa gembiranya. Dia yakin kalau ini adalah jalan miliknya.


Jika dirinya menggunakan serum itu sebanyak 10 kali untuk masing-masing attribute, bukankah itu artinya skor kumulatif fisiknya akan menembus angka 60 poin. Dia bukan lagi manusia. Dia akan menjadi manusia super. Superman.


Koga membayangkan, jika dirinya memukul gedung ini, tidak, bukan gedung ini, bahkan mungkin seluruh Pulau, dia tahu kalau tak akan ada lagi yang tersisa.


"Aku lah yang terkuat di alam semesta," gumam Koga sambil terlarut dalam khayalan tingkat tinggi-nya.


"Tapi," potong Tia yang seolah-olah berubah menjadi seember air es yang diguyurkan ke kepala Koga.

__ADS_1


"Harga serum itu sangat mahal. Masing-masing serum dihargai sebesar 350 poin oleh Pulau. Mungkin karena melihat efeknya yang permanen," lanjut Tia.


"Itu artinya, untuk 1 set serum yang terdiri dari strength, agility dan speed, Leader setidaknya membutuhkan 1050 poin," kata Tia.


"Untuk 10 kali penggunaan, aku butuh 10.000 poin..." gumam Koga yang sekarang kembali dihempaskan kepada kenyataan bahwa jalan yang dia tuju tak akan semulus khayalannya.


"Tapi, kita bisa menggunakan serum itu secara bertahap. Yang terpenting, attribute yang diupgrade harus seimbang. Leader bisa membayangkan jika hanya salah satu attribut saja yang diupgrade sedangkan yang lainnya tidak," kata Tia.


"Aku mengerti," jawab Koga pendek.


"Kumpulkan semua anggota Tim Koga. Ini saatnya kita berburu poin," kata Koga dengan lantang.


\=\=\=\=\=


Di ruangan kontrol utama yang ada di Komplek Pengurus.


"Bagaimana hasil estimasi untuk para Kandidat monsters?" tanya Professor.


"Hasil estimasi sudah didapatkan Professor," jawab salah seorang Pengurus.


"Tampilkan di layar utama. Urutkan dari peringkat ke atas!" perintah sang Professor.


Tak lama kemudian, sederet nama Kandidat muncul di layar utama yang paling besar dan ada di tengah-tengah ruangan.


"Urutan pertama, Kandidat Tiga Tujuh, rata-rata perolehan poin sebesar 20 poin per hari."


"Urutan kedua, Kandidat Tiga Lima, rata-rata perolehan poin perhari sebesar 18 poin per hari."


"Urutan ketiga, Kandidat Satu Tujuh, rata-rata perolehan poin 15 poin per hari."


"Urutan keempat, Kandidat Kosong Tiga, rata-rata perolehan poin 14 poin per hari."


"Urutan kelima, Kandidat Kosong Lima, rata-rata perolehan poin 13 poin per hari."


"Advancement Kandidat Satu Delapan sebagai archer belum dimasukkan dalam estimasi."


"Performa Kandidat Tiga Delapan belum dimasukkan dalam estimasi."


"Penambahan perolehan dari Tim yang dibentuk oleh Kandidat Kosong Tiga belum dimasukkan dalam estimasi."


"Hahahahahaha."


Professor tertawa ketika mendengar hasil estimasi dari anak buahnya.


"Robbery juga belum masuk dalam estimasi kan?" tanya sang Professor.


"Bukankah akan terasa sangat membosankan kalau semuanya dapat diestimasi dengan sebuah analisa?"

__ADS_1


__ADS_2