
Day-1430
Gaju sedang rebahan di pinggir pantai sore itu. Tak terasa, hampir dua tahun dia sudah menjadi soulmate Tian.
Banyak yang sudah mereka lalui, tapi Gaju masih belum bisa sepenuhnya mempercayai Tian. Gaju tidak pernah menceritakan tentang kemampuan photographic memory yang dimilikinya maupun tentang kemampuan fisiknya setelah menggunakan teknik akupunktur ratusan kali selama dua tahun ini.
Gaju sebenarnya juga sudah lama berhenti menggunakan mesin strength meter untuk mengetes kekuatan pukulannya.
Gaju tidak sebodoh itu untuk percaya bahwa Pengurus tidak memasang alat apapun untuk merekam hasil test para Kandidat. Jadi Gaju juga tidak tahu dengan pasti berapa nilai strength-nya.
Tapi, Gaju yakin kalau kemampuan fisiknya yang sekarang tidak kalah dengan milik Koga, monster terkuat di Pulau.
Gaju menarik napas panjang.
Di waktu senggangnya, Gaju sering memikirkan tujuan dari semua yang para Pengurus lakukan dengan mendidik para Kandidat dengan cara seperti ini.
Tahap pertama, menurut pendapat Gaju adalah tahap build up. Para Kandidat diberikan semua bekal kemampuan sesuai dengan bakat masing-masing.
Pengetahuan tak terbatas bagi para Strategists dan kemampuan fisik bagi para Fighters. Selain itu, Pengurus juga memberikan serum genetis yang sangat membantu para Kandidat untuk memotivasi mereka semua.
Tahap kedua, Gaju masih belum mengerti tujuan sebenarnya dari para Pengurus untuk tahapan ini.
Soulmate?
Apakah Pengurus menginginkan para Kandidat beranak pinak?
Mereka semua masih bocah berusia 10 tahun. Mungkin secara psikis para Kandidat bisa lebih matang, dengan kecerdasan diatas rata-rata, wajar kalau mereka bisa berpikir lebih dewasa.
Tapi secara fisik kan masih belum menunjang. Masih belum layak konsumsi. Jadi Gaju pun menghilangkan opsi ini.
"Gaju," Tian datang dan duduk di sebelah Gaju yang masih rebahan.
Gaju melirik gadis kecil di sampingnya itu. Dua tahun, terdengar lama tapi setelah dijalani semua terasa cepat. Hanya seperti sebuah deburan ombak di pantai yang ada di depan mereka atau tiupan angin laut yang menerpa wajah mereka.
Tian sekarang juga sudah mulai menunjukkan kualitas unggulnya sebagai seorang gadis. Dia tumbuh dan terlihat lebih cantik. Guratan-guratan kanak-kanak juga mulai menghilang tergantikan oleh guratan remaja.
Tapi, ada satu yang tetap membuat Tian rendah diri. Dadanya masih belum menunjukkan tanda-tanda perkembangan dimulai. Memang ada sedikit gundukan disana, tapi itu belum bisa sama sekali untuk disebut harta seorang wanita.
__ADS_1
Gaju dan Tian sekarang hampir berumur 12 tahun.
Sepuluh hari lagi, mereka akan mengikuti Ujian Eliminasi seperti yang pernah diberitahukan oleh Pengurus dua tahun lalu.
Selama dua tahun ini, Gaju dan Tian juga sudah melakukan berbagai aktivitas bersama-sama. Tapi Tian tahu kalau masih ada satu tembok pembatas antara dirinya dan Gaju.
Tapi setidaknya kini Gaju tak lagi menjaga jarak dengan Tian dan membiarkan dirinya masuk ke dalam personal area Gaju.
"Menurutmu, Ujian Eliminasi ini akan seperti apa?" bisik Tian pelan sambil menikmati Matahari tenggelam di ufuk barat sana.
Gaju yang tertidur di pasir pantai tanpa peduli dengan pasir yang mengenai tubuhnya hanya terdiam.
"Tian, kamu benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura?" jawab Gaju dengan sebuah pertanyaan balik.
"Menurutmu?" kata Tian sambil mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Gaju.
Tian kemudian menundukkan kepalanya dan mukanya berada tepat diatas muka Gaju. Tian tersenyum manis ketika Gaju merasa terganggu dengan rambut panjang Tian yang terjuntai ke bawah dan mengenai muka Gaju.
"Kamu tahu jawabannya tapi kamu takut untuk mengakuinya," bisik Gaju pelan.
"Gaju, kamu lebih cerdas dari aku. Aku tahu itu dan kamu juga sadar itu," balas Tian.
"Kamu dapat dengan mudah menebak apa yang kupikirkan, tapi aku sama sekali tidak tahu isi kepalamu."
"Selama dua tahun ini, apakah kamu masih tidak mempercayaiku?" kata Tian.
Gaju terdiam, "aku tidak tahu. Aku ingin mempercayaimu sepenuhnya, tapi.."
Tian menunggu Gaju menyelesaikan kalimatnya, tapi kalimat itu tak kunjung terucap dari bibir Gaju.
Tian menarik napas panjang. Dia mengangkat wajahnya dan kembali duduk di sebelah Gaju. Kali ini, Tian duduk meringkuk dan memeluk kakinya sendiri.
"Dua tahun, dan aku masih belum bisa membuatmu sepenuhnya mempercayaiku," gumam Tian pelan.
"Itu bukan salahmu, masalahnya ada pada diriku sendiri," jawab Gaju.
Mereka berdua terdiam. Terdiam lama dan menikmati waktu mereka berdua dalam diam tanpa kata-kata hingga matahari tenggelam sempurna di kejauhan.
__ADS_1
"Tian, tahukah kamu kenapa tempat ini menjadi tempat favoritku selama lebih dari dua tahun ini?" tanya Gaju memecah keheningan diantara mereka.
"Karena pemandangannya indah?" jawab Tian tanpa berpikir.
"Tian, kamu tidak berpikir alasannya karena itu kan?" kata Gaju.
Tian kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Dari dulu Tian tak pernah berpikir tentang itu. Tapi Tian harus akui kalau dia memang merasa saat di tempat ini, dia bisa lebih rileks dan seolah-olah terlepas dari semua mata yang selalu mengawasi gerak-geriknya.
Tian yang memang sudah layak menjadi seorang Strategist sejak dua tahun lalu tiba-tiba seperti dikejutkan oleh sengatan listrik ketika menyadari sebuah ide yang sangat tidak masuk akal tapi terasa nyata dalam kepalanya.
Blindspot!!!!
Tian dan banyak kandidat lain, terutama yang memilih jalur Strategist, sudah menduga sejak dulu kalau Pengurus dengan sengaja menempatkan kamera pengawas tersembunyi di berbagai tempat untuk mengawasi mereka.
Karena itu, Tian merasa bahwa adalah suatu kewajaran saat dimanapun dia berada di Pulau, dia akan selalu merasa diawasi.
Tapi.
Tanpa dia sadari, selama ini tempat yang menjadi favorit bagi Gaju untuk berlatih dan menghabiskan waktu adalah sebuah blindspot. Suatu noktah diantara rimba belantara yang terlepas dari belenggu mata para Pengurus.
Dan detik berikutnya, Tian mendapatkan sengatan listrik keduanya saat dia ingat bahwa Gaju sudah menggunakan titik ini untuk berlatih sejak mereka belum menjadi soulmate.
Itu artinya sedari awal Gaju tahu kalau semua yang dilakukannya di tempat ini terbebas dari pengawasan Pengurus.
Tubuh Tian tiba-tiba bergetar. Terbebas dari pengawasan Pengurus. Itu artinya, kalau Gaju mau, dia bisa melakukan apa saja yang dia suka disini.
Termasuk membunuh Tian.
Tanpa diketahui dan tanpa mendapatkan hukuman apapun.
"Kamu sekarang tahu kan kenapa aku tidak bisa mempercayaimu atau siapapun di Pulau?" kata Gaju.
"Dari awal aku tahu kalau kita semua akan saling membunuh, tempat ini adalah salah satu bagian dari rencanaku untuk bertahan hidup di Pulau," lanjut Gaju.
"Untuk tetap bertahan hidup, aku hanya bisa percaya pada diriku sendiri."
"Karena itulah selama ini aku menutup diri agar tidak berhubungan dengan siapapun."
__ADS_1