Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 57 - Monsters


__ADS_3

Tahap Ketiga, Day 7.


"Selamat pagi kepada seluruh Kandidat."


"Peringkat pertama untuk perolehan poin ditempati oleh Kandidat Tiga Tujuh dengan total perolehan poin sebanyak 138 poin."


"Sistem Robbery dan Charity aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan."


"Reward 1000 poin untuk Kandidat yang berhasil mengeliminasi Kandidat Tiga Tujuh aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan."


"Selamat berjuang."


Notifikasi yang sama kembali didapatkan oleh semua Kandidat yang ada di Pulau pagi itu. Lagi-lagi, sebuah nama muncul dan menjadi pusat perhatian mereka."


\=\=\=\=\=


"Bedebah!!"


"Sialan!!"


"Dimana sebenarnya monyet kuning itu berburu? Kita sudah mengejarnya selama dua hari tapi tak juga mendapatkan jejaknya," gerutu Songlan sambil mengayunkan parang ditangannya untuk menebas semak dan perdu yang menghalangi jalan mereka.


Tim pemburu yang dia pimpin sudah menghabiskan waktunya sejak hari kelima di dalam Hutan, tapi jangankan melihat sosok Gaju, mereka bahkan sama sekali tak mendapatkan petunjuk tentang keberadaan buruan mereka.


Songlan melirik ke arah mini komputernya dan tersenyum kecut. Dengan dibantu 3 orang dari Tim Attack Koga, selama hari kelima dan keenam, dia hanya mendapatkan poin sebanyak 17 poin.


Sedangkan Gaju, dari sebelumnya yang hanya 73 poin kini berhasil mengumpulkan 138 poin dalam waktu dua hari.


"Bagaimana caranya si Monyet Kuning itu berburu?" gumam Songlan keheranan.


\=\=\=\=\=


Di sebuah sudut Pulau, di tempat yang sangat indah dan damai, dengan sayup-sayup suara burung berkicau dan deburan ombak yang menenangkan jiwa, seorang remaja bule duduk bersila di bawah sebuah pohon dan terlihat memejamkan mata.


Dua buah pisau belati tertancap di depannya.


Koma menarik napas panjang dan membuka matanya.


Tiga hari lalu, saat Koma mendapatkan notifikasi pertamanya tentang reward 1000 poin yang diberikan kepada Kandidat yang berhasil mengeliminasi Gaju diterimanya, dengan yakin Koma menolak untuk memburu Gaju.


Dia tak akan mengikuti permainan kejam untuk memburu Gaju yang direncanakan oleh Pulau.

__ADS_1


Tapi kini, keyakinannya mulai goyah karena sebuah item.


Item yang dia lihat tanpa sengaja saat membuka daftar item yang ada di mini komputernya.


Sebuah item yang pasti akan menjadi impian bagi setiap orang yang meniti jalan Assassin seperti dirinya.


Mimicry Suit.


Saat Koma melihat deskripsi item tersebut untuk pertama kalinya, dia bahkan kehilangan kontrol diri yang selama ini dia miliki dan membuatnya tetap tenang saat menghadapi semua masalah.


Mimicry Suit, sesuai namanya memberikan penggunanya kemampuan untuk 'menyatu' dengan alam sekitarnya.


Sebuah kostum, baju, atau apa pun sebutannya yang bisa memproyeksikan secara visual kondisi lingkungan dimanapun sang pengguna berada dan membuat dia menghilang dan tidak terdeteksi oleh mata musuhnya.


Itu artinya, kelemahan terbesar dirinya sebagai seorang Assassin akan tertutupi. Dia bisa menunggu dan mengamati musuhnya tanpa diketahui dan benar-benar memasuki mode 'stealth'.


Dia akan menjadi Assassin yang sempurna tanpa celah.


Tapi, Mimicry Suit impiannya dibanderol dengan harga yang tidak murah. Item tersebut masuk ke dalam Item Class 3 dengan harga 650 poin, dan Koma tahu apa alasannya, Mimicry Suit tak punya kelemahan dan batasan. Dia dapat digunakan oleh siapapun dan kapanpun tanpa batas waktu.


Itulah yang membuat Koma gamang dengan keyakinannya dan memaksa dirinya untuk melakukan meditasi sebelum mengambil keputusan akhirnya.


"Aku Assassin, cepat atau lambat, belatiku akan menumpahkan darah musuhku. Jika kematian Gaju akan membantuku menyempurnakan jalanku, aku akan melakukannya," gumam Koma sesaat setelah membuka matanya.


Koma lalu melangkah dengan pasti ke arah rumah sederhananya dan melakukan persiapan terakhir sebelum memulai perburuannya.


Koma melakukan semua persiapannya tanpa terburu-buru. Karena dia tahu, selama belum ada notifikasi dari Pulau bahwa reward 1000 poin untuk kepala Gaju dinonaktifkan, dia masih punya kesempatan untuk mendapatkannya.


\=\=\=\=\=


"Bagaimana caranya Gaju melakukan itu?" tanya Aju sambil tak berhenti menggerutu pagi itu.


Adel hanya tertawa melihat tingkah soulmate-nya.


"Aju, berapa kali kubilang, Gaju itu monster. Dia bukan manusia. Kenapa kamu membandingkan dirimu dengan monster seperti dia?" kata Adel sambil tertawa kecil.


"Huft. Monster? Saat kami bertarung satu lawan satu, aku akan menunjukkan siapa monster yang sesungguhnya," dengus Aju kesal.


Adel tertawa tak berhenti melihat tingkah Aju. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh soulmate-nya. Jiwa kompetitif Aju mungkin terpancing dengan semua pujian Adel kepada Gaju. Karena itu dia tertawa melihat semua tingkah Aju yang marah-marah tanpa sebab dan tak kunjung berhenti.


Poin? Sedari awal, Adel tahu kalau mereka tak akan mampu bersaing dengan Gaju. Tak akan ada yang bisa. Bayangan sosok Gaju yang dengan berani bertarung satu lawan satu menghadapi Griffin masih jelas terbayang di kepalanya.

__ADS_1


Adel tahu, untuk saat ini, Gaju adalah kandidat terkuat di Pulau yang bahkan menjadi Kandidat kesayangan Professor.


Reward 1000 poin yang diberikan oleh Professor? Itu hanyalah batu asahan yang disediakan oleh sang Professor Gila untuk mempercepat proses kematangan Gaju dan batu asahannya adalah Kandidat-Kandidat bodoh yang terbutakan oleh keserakahannya. Dan tentu saja para monster yang yakin akan kemampuan mereka, seperti Koma, Gama, Aju dan juga Koga.


"Keep growing and be stronger," gumam Adel dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.


\=\=\=\=\=


"Ini... Ini..." gumam Gama dengan suara terbata-bata.


"Keren..." lanjutnya dengan bergetar.


Gama melihat sebuah hollogram yang sedang diproyeksikan oleh mini komputernya.


Si Night Stalker, Si Ninja, Si Genius Gila, semakin tersesat dengan obsesinya.


Alih-alih tetap fokus dengan jalan ninjanya, tapi item yang membuatnya terpana sekarang sama sekali tak bisa disebut peralatan Ninja ataupun sebuah benda yang memberikan kemampuan bertarung ala stealth.


Sebuah benda berwarna merah menyala dan menyerupai baju zirah yang menutupi seluruh permukaan tubuh dan membentuk sosok manusia utuh terlihat berputar-putar.


"Artifial Intelligence."


"Nuclear powered."


"Flying capability."


"Rocket launcher."


"Multiple projectile launcher."


"Automated mode."


"Remote Assistance."


"Keren..." desis Gama sambil tak berhenti berdecak kagum.


Seandainya Gama hidup di dunia nyata, dia akan tahu benda itu adalah mecha suit yang sangat terkenal dan merupakan ciptaan Tony Stark yang dikenal dengan sebutan Mark L Nanotech Armor.


Gama tak peduli bagaimana caranya Pulau membuat benda itu, tapi dia tahu kalau dia harus memiliki benda itu. Benda yang disebut dengan nama Intelligence Armor Suit. Demi jalan ninjanya (?).


Tapi ada satu hal yang membuat kening si Negro berkerut, item keren incarannya itu hanya dapat dimilikinya dengan harga fantastis 950 poin.

__ADS_1


Dan otak genius Gama dengan cepat menemukan solusinya.


"Gaju, Armor Suitku, tunggu kedatanganku. Jangan mati sebelum aku bertemu denganmu," desis Gama pelan dengan seringai jahat menghiasi bibirnya.


__ADS_2