Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 15 - Gama dan Tien


__ADS_3

Dari enam monster yang berhasil mendominasi tahap pertama hanya tersisa Tiga Lima yang menggunakan sebutan Gama untuk dirinya sendiri.


Gama berhasil mendapatkan peringkat ketiga dalam test intelligence pertama kali dan juga berulang kali masuk ke tiga besar selama dua tahun setelah itu.


Dia menjadi satu-satunya laki-laki yang ikut bersaing dengan Tian dan Adel untuk memperebutkan ranking di kategori kecerdasan otak. Mungkin orang akan berpikir si cerdas ini memilih nama Gama karena dia terinspirasi dari Gamma Ray yang merupakan product dari radioaktif.


Tapi kenyataan jauh dari itu.


Gama mempunyai genetik mayoritas dari ras Moor. Kalian tahu Moor? Mungkin kurang familiar, tapi kalau dibilang Negro, semua orang pasti tahu.


Tidak seperti namanya, Gama memang keturunan bangsa Moor yang berkulit hitam, jauh lebih hitam dari si Keling Aju dan berambut keriting, lebih keriting dari ikal rambutnya Adel.


Karena kelebihan fisiknya itu, Gama bahkan mengembangkan strategi khusus untuk kamuflasenya. Dia menjadi spesialis petarung malam hari.


Karena seluruh kulitnya yang gelap gulita. Dia cukup berdiri dalam bayang-bayang gelapnya malam dan kamuflasenya akan berfungsi efektif.


Satu-satunya kelemahan adalah saat dia membuka mulut atau matanya. Barulah akan terlihat sedikit warna putih dari sana.


Karena itulah, Gama menjadi seorang strategist yang mendapat julukan 'night stalker' dengan alasan yang sederhana, tak ada yang bisa melihatnya dalam kegelapan malam karena kulitnya yang memang hitam gelap. Wkwkwkwkwk.


Tapi Gama bukanlah orang yang rendah diri. Sebagai satu-satunya bocah laki-laki yang mampu bersaing dengan kemampuan otaknya, dia memang layak untuk merasa bangga.


Bahkan Koga dan Koma harus akui kalau untuk urusan otak, mereka bukan apa-apa dibanding si Gelap ini.


Kalimat favorit Gama yang menjadi ciri khasnya adalah, "aku genius."


Coba kalian bayangkan sedang berbicara dengan seorang bocah Negro berkulit hitam gelap dengan rambut keriting kemudian dia akan tersenyum lebar sambil memperlihatkan giginya yang putih dan rapi sambil berkata, "aku genius," seperti itulah Gama.


Sesuai aturan di Pulau, Gama harus berpasangan dengan Tiga Enam sebagai soulmatenya.


Tiga Enam memilih menggunakan nama Tien untuk dirinya sendiri. Randomkah? Tidak.

__ADS_1


Sesuai namanya, Tien berdarah chinese. Semua karakter yang dia miliki mirip dengan Tian. Bahkan sebenarnya nama mereka juga mempunyai arti yang sama tapi hanya berbeda pengucapan saja.


Tian dan Tien memiliki arti Langit, Surga atau Tuhan.


Kalau dilihat sekilas, Tian dan Tien mungkin bisa dibilang seperti kakak dan adik. Wajah mereka mirip. Karakter wajah mereka serupa. Tapi tentu saja Tian lebih cantik dan manis daripada Tien. Kan Tian karakter utamanya, nggak mungkin kalah sama karakter figuran dong.


Tien selalu dianggap sebagai kembaran Tian, tapi hanya secara tampilan fisik. Untuk kemampuan Intelligence atau kecerdasan otak? Mereka sangat jauh berbeda.


Bagaikan langit dan bumi.


Dan sebenarnya berkebalikan dengan Tian, Tien justru mempunyai sedikit kelebihan di kategori Physical Attributenya. Point PA-nya jauh lebih tinggi dibanding point IC-nya.


Itu artinya, si Tien ini lebih menggunakan ototnya daripada otaknya. Berbanding terbalik dengan penampilannya yang feminim dan menyerupai idola para Kandidat yaitu Tian.


Gama si Genius berkulit Gelap, menyadari sepenuhnya kalau Tien tidak akan tertarik dengannya, karena itu sebelum bertemu dengan Tien, Gama sudah mempersiapkan semuanya. Seperti kalimat favoritnya, dia memang seorang genius.


"Aku tak suka kamu, meskipun kamu seorang genius. Aku suka laki-laki yang kuat," teriak Tien ke arah si Gelap.


"Aku genius," lanjut Si Gelap dengan senyuman tersungging di bibirnya.


Tien mencibir tapi tidak membalas pernyataan Gama, karena memang yang dikatakan bocah gelap itu memang benar. Dari dulu dia suka Koga. Tapi Koga sudah berpasangan dengan Songnam sebelum tahap kedua dimulai.


Saat ini, ketika Songnam terpaksa menjadi soulmate Koma, Tien merasa kalau kesempatannya telah tiba. Dia tidak peduli dengan aturan Pulau dan semacamnya. Ingat, kecerdasan Tien kan memang di bawah rata-rata. Wajar lah kalau dia nuruti emosinya.


"Jadi menurutmu kita harus gimana?" tanya Gama ke arah Tien yang terlihat sedang berpikir.


"Aku tak tahu, kan kamu yang katanya genius, kamu yang cari solusinya," jawab Tien.


"Hmmmm," kata si Gelap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku genius. Sudah lama aku melepaskan diri dari belenggu yang bernama emosi dan perasaan," kata Gama dengan ekspresi sok dewasa yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya yang baru 10 tahun.

__ADS_1


"Nggak usah banyak omong, to the point aja," potong Tien kejam.


Senyuman bangga dan sok dewasa di wajah Gama langsung hilang tanpa bekas. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan melihat tajam ke arah Tien.


Tien merasakan sesuatu yang lain saat melihat ke arah Gama yang bersikap lain itu. Tanpa sadar keringat dingin mengalir di punggungnya. Tien kembali tersadar kepada siapa sekarang dia sedang berbicara.


Bocah laki-laki di depannya adalah Gama. Yang mungkin Koga atau Koma bahkan harus menaruh hormat kepadanya karena kemampuan Strategist yang dia miliki. Mungkin dimata Gama, Tien hanyalah sebuah batu kecil yang tak berharga dan tak layak masuk ke perhitungan analisanya.


Dan Tien benar soal itu.


"Sebelum kita lanjutkan, ada yang harus aku luruskan. Aku Tiga Lima, namaku Gama, sebutanku Night Stalker, mungkin bagimu sebutanku hanyalah sebuah olok-olok semata karena ras Moor-ku," kata Gama dengan nada datar dan pandangan tajam ke arah Tien.


"Tapi, jika kamu punya otak, punya otak sedikit saja. Kamu harusnya takut kepadaku," lanjut si Gelap.


"Tanyakan pada idolamu atau pujaan hatimu itu, si Koga, yang otaknya cuma berisi pasir dan karang. Beranikah dia menerima sergapanku di malam hari?"


"Jadi tolong berikan aku respect yang layak aku terima. Tadi, pertama dan terakhir kali aku membiarkanmu bersikap seperti itu kepadaku."


"Lain kali, aku bisa membuatmu lenyap dari Pulau tanpa satu orang pun Pengurus menyadari siapa yang melakukannya."


"Aku sungguh-sungguh dan kamu sebaiknya percaya kalau aku bisa melakukannya."


"Karena aku genius," kata si Gama mengakhiri kata-kata panjangnya dengan sebuah ancaman.


Baru kali ini Tien melihat sosok Gama yang seperti barusan. Yang dia tahu selama ini, Gama adalah bocah laki-laki negro yang selalu kesana kemari dan berkata 'aku genius' sambil tersenyum bangga.


Tapi ketika tadi Gama mengatakan kalimat favoritnya dengan nada datar dan disertai ancaman, Tien tahu kalau bocah laki-laki di depannya ini berbahaya, jauh lebih berbahaya dibandingkan Koga.


Di mata Tien, Koga bagaikan Harimau yang gagah perkasa dan menunjukkan taringnya kepada siapapun yang menantangnya. Koma bagaikan Rajawali yang bertengger di pucuk pohon atau melayang di angkasa dan dengan cepat akan menukik tajam untuk menyambar mangsanya.


Tapi Gama?

__ADS_1


Gama terlihat seperti seekor rattle snake, yang bersembunyi di balik batu. Menggunakan ekornya dengan bunyi-bunyian untuk menarik hati dan menganggap kalau itu adalah sosok aslinya. Sedangkan kepalanya yang asli bersembunyi dan bersiap menancapkan bisanya ke siapapun yang tak menduganya.


__ADS_2