
Gaju bergerak pelan di dalam Hutan ke arah selatan.
Ini hari ke-8 dan dia sudah berhasil mengumpulkan 303 poin. Dia cukup senang dengan hasil yang diperolehnya sampai saat ini.
Tapi, tak pernah ada kata cukup kan?
Sama seperti Gaju, setelah semalaman bermeditasi, Gaju tak juga bisa menghapus rasa bersalahnya karena telah membunuh dua orang rekan sesama Kandidatnya. Lalu, Gaju mencoba berpikir, hilang atau tidak, suatu saat dia akan melakukannya lagi. Dan dia akhirnya mengambil keputusan.
Gaju memilih menjadi Asura. Dia akan membunuh tanpa mengenal ampun, untuk dirinya sendiri dan untuk soulmate-nya.
Itulah alasan dia bergerak ke arah Selatan, kini tiba saatnya untuk berhenti dari kebimbangan. Dia akan menunjukkan kepada semua orang, kalau si Aneh tak lagi ada, tergantikan sosok Asura yang siap menghabisi siapa saja.
\=\=\=\=\=
Booommmm.
Titik-titik merah darah terlihat berhamburan memenuhi sekeliling area yang baru saja terdengar sebuah suara ledakan.
"124 poin," gumam seorang Kandidat yang tubuhnya tertutupi oleh benda berkilat mulai dari ujung kepala ke ujung kaki.
Topeng Oni yang dipakainya terkena cipratan darah dari binatang buas level 4 yang baru saja dia habisi dengan serangan brutal miliknya.
Gama tak pernah mengalami luka yang berarti sejak dia memulai perburuannya beberapa hari lalu. Dia masih percaya diri untuk mengejar skor poin milik Gaju yang diumumkan kemarin pagi yang hanya terpaut beberapa puluh poin dari dirinya, tapi Gama benar-benar kaget dan murka pagi ini.
Bagaimana mungkin skor Gaju tiba-tiba melonjak menjadi 303 poin?
Sebuah palu besar seperti dihantamkan ke kepala si Genius yang merasa kalau dengan bantuan armor ciptaannya sangat percaya diri kalau dia adalah Kandidat terkuat di Pulau.
Tapi kenyataan tak selalu seindah harapan dan Gaju mengajarkan Gama tentang itu.
Pagi ini, setelah Gama menerima notifikasi rutin tentang perolehan skor Gaju, dia menggila, semua binatang buas yang ditemuinya tanpa ampun dia habisi. Gama bahkan tak peduli lagi kepada tampilan dirinya.
Dia tak membersihkan armornya agar mengkilat dan bersih seperti biasanya. Gama berburu dan berburu tanpa berhenti sambil terus bergerak pelan tapi pasti ke arah Timur. Terus berburu sampai dia bertemu dengan si Aneh yang sekarang telah menjungkirbalikkan semua logika dan analisa yang dia miliki.
Bersama dengan harga dirinya sebagai seorang Gama.
\=\=\=\=\=
Sesosok bayangan berwarna hitam terlihat diam tak bergerak di atas sebuah pohon.
Dia mengamati pergerakan seekor binatang buas level 4 yang dikenal dengan nama Monyet Tanpa Ekor.
__ADS_1
Binatang buas yang dia incar tak seperti kebanyakan mahluk lain dari jenis yang sama.
Monyet tanpa ekor bertingkah laku mirip Gorilla dan merupakan mahluk soliter.
Mereka tak berburu dan berkelompok tapi bergerak sendiri-sendiri. Mereka juga berjalan setengah tegak di atas tanah, bukan bergelantungan di pohon layaknya seekor kera sesuai namanya.
Si Monyet juga merupakan omnivora, dia memakan semuanya, termasuk daging dan buah-buahan yang bisa dia temukan dalam teritorinya.
Mereka bertarung dengan mengandalkan kecepatan dan kelincahan, bukan semata-mata dominasi kekuatan fisik seperti seekor Gorilla.
Si Monyet terlihat tak menyadari jika sesosok bayangan hitam sedang mengamati gerak-geriknya. Di tangan si Monyet tergantung seekor kelinci bertelinga panjang yang masih meneteskan darah dari bagian perutnya.
Bekas luka gigitan terlihat disana dan disaat yang sama, dari bibir si Monyet juga terlihat darah segar yang mengalir pelan.
Tak butuh seorang strategist untuk tahu apa yang terjadi dengan si Monyet dan si Kelinci.
Mulut si Monyet terlihat mengunyah sesuatu yang ada di dalam sana dan dia terlihat menikmati benda itu.
Koma yang mengamati semua gerak-gerik si Monyet Tanpa Ekor tetap diam di tempatnya dan tak bergerak sambil mengatur napasnya agar teratur.
Dia menunggu.
One attack, one kill.
Itu adalah prinsip utama sebuah serangan dari seorang Assassin seperti dirinya. Karena itu, bagi seorang Assassin, kesabaran adalah salah satu karakter yang mutlak dimiliki.
Koma menunggu kesempatannya dalam diam, Si Monyet menikmati hasil buruannya dengan riang.
Semuanya berjalan dengan perlahan dan seolah-olah masing-masing sosok terjebak dalam dunianya sendiri-sendiri.
Tiba-tiba, daun dan dahan yang ada di sebuah pohon yang ada di depan si Monyet bergerak perlahan-lahan.
Si Monyet yang tadinya asyik menikmati buruannya memperhatikan dedaunan itu dengan waspada.
Dan tak lama kemudian, sebuah kepala yang berbentuk segitiga dan berwarna hijau terlihat menyembul keluar dari sana.
Kepala itu mengeluarkan suara desisan dan menjulurkan lidahnya yang bercabang ke arah si Monyet.
Dua buah mata yang menatap tajam dan berpupil tegak melihat ke arah si Monyet.
Ular Daun.
__ADS_1
Kedua mahluk level 4 itu saling bertatapan mata dan terdiam. Mereka masing-masing terlihat sedang saling mempertimbangkan dan memutuskan untuk menyerang atau tidak.
Ketika dua ekor binatang buas level 4 saling bertarung, salah satu dari mereka pasti akan terluka parah atau tewas.
Mereka hanya akan melakukan itu jika memang sangat diperlukan seperti perebutan teritori atau saat salah satu binatang buas tak menemukan mangsa dan dalam kondisi kelaparan.
Si Monyet jelas tak kelaparan, tapi Ular Daun terlihat lain. Selain itu, si Monyet sekarang berada pada batas teritori milik Ular Daun.
"Ssssssssshhhhhhhh," Ular Daun berdesis ke arah Si Monyet dengan suara dan sikap yang agresif.
Si Monyet paham maksud dari Ular Daun.
Dia lalu mengangkat kelinci yang ada ditangannya dan mengeluarkan suara geraman pelan.
"Kkkrrrrrrrr."
"Sssshhhhhhh."
Monyet mencoba untuk menghindari pertarungan dengan menawarkan kelincinya kepada Ular Daun dan si Ular Daun menolaknya.
Monyet Tanpa Ekor yang sebelumnya terlihat submissive tiba-tiba menggeram dalam dan terlihat mengambil sikap agressive, seolah-olah menunjukkan kalau dia menawarkan buruannya bukan karena takut.
Ular Daun tak menanggapi ancaman Monyet Tanpa Ekor. Tubuhnya yang tadi tersembunyi di balik dedaunan kini terlihat sedikit demi sedikit. Si Monyet mundur perlahan-lahan dan menggenggam erat kelinci di tangannya.
Lalu dengan cepat si Monyet melompat mundur ke belakang.
Wusshhhhhhh.
Sesuai tebakan instinct si Monyet, Ular Daun menyerang dengan tiba-tiba tanpa peringatan ke arah kepalanya.
"Kiikkkkkkk."
Si Monyet memekik keras dan melemparkan kelinci di tangannya ke belakang. Lalu dengan cepat, dia meloncat ke atas dan melayangkan cakar kanannya ke arah kepala Ular Daun yang meluncur ke arahnya.
Buaaaakkkkkk.
"Kkiiikkkk?" Monyet merintih pelan dan tubuhnya terlempar ke belakang.
Saat dia melayangkan cakarnya ke arah kepala Ular Daun, dia tak menduga sama sekali kalau serangan sesungguhnya dari Ular Daun bukanlah kepalanya, tapi sabetan ekornya.
Itulah yang mengenai tubuhnya barusan.
__ADS_1