
Eldar tiba-tiba berdiri dari kursi kayunya dan melihat kearah samping kanan. Dia tak muda lagi dan memiliki pengalaman bertarung yang lebih dari cukup. Pengalaman yang mengasah ketajaman nalurinya untuk mendeteksi musuh saat mereka datang mengincar.
Eldar tahu kalau seseorang atau sesuatu yang lebih kuat darinya datang dari arah kanannya. Dia melihat dengan waspada dan setelah beberapa saat dia melihatnya.
Sosok berbaju putih dari leher sampai ke ujung kaki. Dia mengenakan sebuah kacamata yang terlihat sedikit tebal. Rambutnya terlihat acak-acakan dan tidak tersisir dengan rapi. Uban mulai bermunculan disana-sini tapi masih belum terlalu mendominasi rambutnya yang berwarna hitam.
Laki-laki itu berjalan dengan santai, seolah-olah dia adalah seseorang yang sama sekali tak terpengaruh oleh dunia di sekitarnya. Seolah-olah, puluhan Elf dan Beastmen yang ada di tempat ini, tak lebih dari butiran debu yang akan hilang tertiup angin di matanya.
Meskipun sosok itu hanyalah manusia.
Gerombolan Beastmen dengan cepat berdiri dan bersiap menerkam manusia tak tahu tempat itu. Para Elf yang berada di sekitar Eldar juga mulai mengambil sikap siaga dan melihat ke arah manusia itu dengan tatapan penuh ingin tahu.
Tapi, dari semua mahluk yang ada disini, Eldar-lah satu-satunya yang justru merasakan ketakutan luar biasa sampai seluruh tubuhnya gemetar ketika melihat sosok itu.
“Mo… Mu…” gumam Eldar dengan suara bergetar.
Sosok laki-laki yang memakai baju putih itu lalu melambaikan tangannya ke arah Eldar. Isyarat yang sangat jelas agar dia mendekat. Eldar tentu saja tak berani melawan permintaan sang Professor.
Eldar hanyalah seorang Knight, sedangkan sang Professor di depannya ini, bahkan para petinggi Elf pun ragu jika dia masih bisa dianggap sebagai petarung level 1 yang berada satu tingkat diatas Eldar. Mereka bahkan curiga jika sang Professor sudah tak bisa lagi dikategorikan ke dalam lima level petarung yang mereka ketahui.
Semua mahluk yang ada di sekitar mereka melihat tingkah Eldar dengan raut muka kaget. Seorang Elf Knight seperti Eldar, dengan posisi dan kemampuan tempurnya, kenapa dia berlari seperti seorang anak kecil yang sedang dipanggil oleh orang tuanya? Seolah-olah sang anak takut jika dia akan dipukul pantatnya kalau berani berlama-lama sedikit saja?
Mereka semua hanya memperhatikan ketika sang Elf Knight bahkan membiarkan saja sosok pria paruh baya berbaju serba putih dan terlihat lemah itu dengan santainya merangkul leher sang Elf yang beberapa cm lebih tinggi dari dirinya sendiri itu.
“Hei Kurcaci,” panggil sang Professor setelah dia merangkul leher Eldar dengan susah payah karena perbedaan tingginya.
__ADS_1
Eldar hanya bisa menelan semua kemarahan yang menggelegak di dadanya. Seorang Elf Knight yang terhormat seperti dirinya, yang bisa mengangkat kepalanya dengan penuh kebanggaan di Permukaan, kini tak lebih dari 'kurcaci' di mata sang Professor.
Tapi, dia bisa apa selain menelan semua kemarahannya.
“Begini, aku punya masalah. Tadi, aku terlalu emosi dan mengambil keputusan dengan gegabah. Dan hasilnya, seorang anakku tewas setengah jam setelah aku melepaskan kalian dari penjara Dome kami,” kata sang Professor dan bersikap seolah-seolah mereka berdua adalah sahabat lama.
"Prof... Professor... Aku tak paham apa yang kamu katakan. Bisakah kamu menjelaskan lebih detail lagi?" tanya Eldar dengan suara pelan.
"Katanya kamu ini Elf, yang selalu menyombongkan diri sebagai ras dengan wisdom paling tinggi di Permukaan. Gitu aja nggak paham? Otakmu kemana?" tanya sang Professor sambil mengetuk kepala Eldar beberapa kali.
Semua Beastmen dan Elf melihat apa yang dilakukan sang Professor dengan mata terbelalak. Mereka sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Eldar hanya tersenyum pahit. Dia tak berani memprotes cibiran sang Professor gila ini. Kalau dia berani melakukannya, siapa yang lebih gila?
"Oke. Aku akan menjelaskannya. Pulau ini, aku membuatnya sebagai tempat latihan anak-anakku. Mereka masih hijau. Sebagian besar bahkan belum masuk ke rank Soldier. Kamu tahu kan apa artinya? Mereka hanya akan jadi snack untukmu dan si Kucing Putih," kata Professor.
"Jadi, aku melarang kalian berdua untuk menyerang anak-anakku secara langsung, sampai aku mengijinkannya. Aku sudah berbicara dengan si Kucing, sekarang aku berbicara denganmu," lanjut sang Professor.
Eldar mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia memahami perkataan sang Professor.
"Tapi... Mmm... Professor... Aku mungkin tak akan turun tangan secara langsung, tapi anak buahku, mereka tak akan bisa tinggal diam saja kan kalau anak-anakmu datang dan menyerang?" tanya Eldar hati-hati, sorot mata sinis terpancar dari sudut matanya.
"Aku hanya melarang kalian berdua. Itu pun hanya untuk sementara waktu. Untuk anak buahmu, mereka bisa melakukan apa yang mereka mau. Kalau anak-anakku tewas di tangan anak buahmu, mereka tak punya siapa pun untuk disalahkan selain diri mereka sendiri yang terlalu lemah," jawab Professor tegas.
"Manusia lemah yang tak bisa melindungi dirinya sendiri, mereka tak layak menyebut dirinya sebagai anakku, iya kan?" lanjut sang Professor Gila dengan tatapan mata yang jauh lebih sinis dibandingkan Eldar sendiri.
__ADS_1
Saat si Elf Knight melihat sorot mata sinis sang Professor, seluruh bulu kuduknya kembali berdiri.
"Bedebah!! Dasar MoMu gila!! Aku bahkan tak yakin kalau dia itu manusia," maki Eldar dalam hati.
"Urusanku selesai disini. Ingat kata-kataku Kurcaci!" kata sang Professor sambil melepaskan rangkulan tangannya dan berjalan ke arah darimana dia datang tadi.
Beberapa Beastmen yang tadi melihat dengan tatapan garang berusaha menghadang jalan sang Professor.
"Mahluk imut berbulu. Kalian punya cukup waktu luang ya untuk bermain-main denganku?" gumam sang Professor sambil tertawa kecil.
Berbeda dengan Beastmen yang sangat tertarik untuk menyerang Professor, para Elf meminta pendapat Eldar terlebih dahulu. Dan ketika mereka melihat Eldar menggelengkan kepalanya, para Elf itu pun mengurungkan niatnya.
Kini hanya gerombolan Beastmen yang menghadang Professor.
Professor masih tertawa kecil dan membuka kedua tangannya kesamping.
"Sebelum kita bermain-main, aku ingin mengajari kalian sedikit saja tentang ilmu fisika," kata Sang Professor.
"Petir adalah sebuah fenomena alam yang terjadi karena loncatan elektron dari dua buah benda yang memiliki perbedaan potensial yang tinggi. Pada kondisi alami, jutaan Volt akan dialirkan antara keduanya."
"Petir berjalan dengan kecepatan 150 ribu km/s, hampir separuh kecepatan cahaya. Ketika terjadi loncatan petir, udara terbelah dan terkompressi. Lalu dia akan mengalami ekspansi dan menyebabkan sound wave yang kita kenal dengan Thunder. Petir dan Thunder sangat berbahaya bagi mahluk hidup seperti kita."
"Apakah kalian ingin mencoba merasakannya?" tanya sang Professor dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya.
Tak sampai sedetik setelah kata-kata Professor terucap, tangan kanannya mulai terlihat berubah warna dan loncatan petir kecil terlihat keluar dari sana disertai bunyi yang memekakkan telinga.
__ADS_1
Mirip Sasuke Uchiha yang mengeluarkan jurus Chidori miliknya.