
Hutang sebanyak 1000 poin dan menjadi target bagi semua Kandidat tersisa di Pulau, Gaju tersenyum pahit. Itu artinya, dia harus berusaha dua kali lebih keras daripada semua Kandidat yang ada di Pulau, bahkan lebih.
Gaju harus mengumpulkan poin untuk melunasi 'hutang'nya, di lain pihak, dia juga harus bertahan dari serangan Kandidat lain yang mengincarnya.
Tapi, Gaju akan tetap menerimanya, demi Tian. Dia tak punya pilihan.
"Aku setuju," jawab Gaju.
"Aku tahu kamu pasti setuju," kata Professor sambil tertawa lebar.
Professor lalu melambaikan tangannya dan sebuah helikopter yang terbang tanpa suara tiba-tiba saja mendarat di dekat mereka. Tiga orang wanita yang mengenakan seragam berwarna putih lalu keluar dari helikopter dan mengangkat tubuh Tian yang masih tak sadarkan diri.
"Jangan hapus bekas luka miliknya," kata Gaju pelan saat mereka membawa Tian.
Para perawat itu lalu pergi dengan helikopter mereka tanpa memberikan reaksi apa pun.
Professor tak berhenti tertawa sejak tadi, bahkan ketika bayangan hollogramnya pelan-pelan menghilang. Adel melihat semuanya dari samping tanpa suara. Sedari tadi, peraih skor tertinggi kedua sebagai strategist itu, bahkan sama sekali tak dianggap oleh Professor.
Adel menyadari bahwa dihadapan Professor, dia sama sekali bukan apa-apa dibandingkan Gaju.
Gaju hanya terdiam.
Kini, beban dipundaknya terasa lepas. Tian terselamatkan. Baginya, hal lain tak penting.
Adel melihat ke arah Gaju dengan tatapan kuatir.
"Gaju..." kata Adel.
Gaju melihat ke arah Adel dan tersenyum, "Tak apa-apa, yang penting Tian bisa diselamatkan," jawab Gaju.
"Tapi... Poinmu... Dan target..." kata Adel.
"Aku tahu, mungkin akan berat dengan nilai minus itu. Apalagi sekarang kepalaku adalah target yang paling berharga di Pulau. Dengan nilai seribu poin, mereka akan memilih untuk memburuku daripada memburu binatang buas dengan reward yang sama," jawab Gaju.
"Untungnya, hal ini belum diumumkan ke seluruh Kandidat," kata Adel.
Tapi, beberapa detik setelah kata-kata Adel selesai diucapkan, suara notifikasi dari mini komputer milik Adel dan Gaju berbunyi. Adel membuka notifikasi itu tanpa diminta dengan raut muka antara kaget dan takut.
Dan benar dugaannya, sebuah pengumuman yang tidak dia inginkan diberikan oleh Pengurus kepada semua Kandidat.
"Notifikasi spesial."
"Mulai saat ini, Kandidat Tiga Tujuh akan memiliki bounty dengan nilai 1000 poin. Kandidat manapun yang berhasil mengeliminasi Tiga Tujuh akan mendapatkan poin tersebut yang akan dimasukkan ke dalam accountnya."
"Kondisi spesial ini berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan."
__ADS_1
Adel dan Gaju saling berpandangan dan keduanya menarik napas dalam.
"Sebentar lagi, kamu akan menjadi buruan paling berharga di Pulau, Gaju," kata Adel.
\=\=\=\=\=
"Koga!!" teriak Songlan sambil setengah berlari.
Koga sedang duduk bersama Tia sambil membahas sesuatu di salah satu ruangan Komplek yang kini menjadi ruangan Koga.
"Ada apa? Kenapa kamu berlari seperti itu?" tanya Koga ke arah Songlan.
"Kamu sudah melihat pengumuman terbaru dari Pengurus?" tanya Songlan dengan napas sedikit terengah-engah.
"Hmmm. Kami bahkan sudah membahas alokasi poin yang akan kita dapatkan," bukan Koga yang menjawab pertanyaan Songlan tapi Tia.
Raut muka Songlan sedikit berubah. Dia datang kesini dengan harapan akan memberitahu tentang berita bagus itu, tapi dia kalah dua langkah dari Tia.
Si Gadis kecil berkulit sawo matang itu bahkan sudah membahas alokasi poinnya?
Songlan hanya bisa terdiam. Posisinya sebagai teman diskusi Koga dan tangan kanannya sangat terancam dengan keberadaan Tia. Dia tahu itu.
"Oke. Kalau begitu, aku akan kembali ke tempat latihan lagi," kata Songlan pelan.
Songlan berdiri ditempatnya dan melihat ke arah Koga dan Tia bergantian.
"Duduk dan dengarkan. Tia ulangi hasil analisamu!" perintah Koga.
Tia menganggukkan kepalanya lalu mulai mengulangi penjelasannya tadi.
"Bagi sebuah Tim seperti kita, Poin sangat penting."
"Hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah supply makanan."
"Menurut hitunganku dari data yang diberikan Gasa, stock makanan kita hanya mampu mencukupi kebutuhan hidup Tim ini selama 35 hari."
"Kita sebuah Tim, kalau kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, dapat dipastikan Tim ini akan bubar," Tia memberikan penjelasan panjang lebar.
Songlan tiba-tiba memotong, "Koga, kenapa kita harus menerima semua kandidat ke dalam Tim kita? Mereka hanya akan jadi beban kita," gerutu Songlan.
"Semua ada tujuannya. Anggap saja kita membesarkan hewan ternak. Kita beri mereka makan, kita besarkan, saat nanti waktunya tiba. Kita...." Koga tak melanjutkan kata-katanya dan tersenyum dingin ke arah Songlan.
Songlan tercekat. Baru kali ini dia melihat sosok Koga yang seperti barusan.
Senyuman dingin yang tanpa sungkan menganggap semua rekan Kandidat lain hanyalah seperti hewan ternak dan dapat dibantai kapanpun dia mau.
__ADS_1
Tia lain, dia tak berkomentar apa-apa dan hanya berwajah datar. Karena sebenarnya, kata-kata Koga barusan adalah idenya. Saat Tia mengatakan kalau mereka akan mengalami kesulitan makanan setelah 1 bulan ke depan, Koga langsung memutuskan untuk membubarkan Tim Koga.
Dengan jumlah makanan yang tersisa dan hanya Tim inti saja bersamanya, mereka akan bertahan hidup lebih lama. Tapi kata-kata Tia membiusnya.
"Anggap mereka itu hewan ternak. Kita beri makan untuk saat ini, ketika waktunya tiba, kita habisi. Siapa tahu, kepala mereka akan memiliki nilai seperti Gaju," kata Tia tadi, sebelum Songlan masuk kesini.
Koga hanya mengulangi kata-kata Tia.
"Untungnya, kita punya berita bagus," lanjut Tia meneruskan penjelasannya.
"Sistem poin."
"Ada banyak sekali item yang bisa kita dapatkan dengan menukar poin, salah satunya supply makanan."
"Untuk supply makanan yang cukup bagi 5 orang dalam sehari harganya 1 poin. Lebih mahal dibandingkan dengan resiko kita menghabisi seekor creature level 5 saat mendapatkan poin itu."
"Dengan jumlah anggota Tim Koga, kita butuh 3 poin per hari hanya untuk memenuhi supply makanan yang diperlukan."
"Untungnya, Gaju datang. Dengan 1000 poin di kepalanya, dia akan menjadi sasaran terbaik perburuan kita. Kemampuannya hanya rata-rata, tapi kepalanya memiliki nilai seperti creature level 2. Kita tak boleh melewatkan kesempatan ini," kata Tia.
"Karena alasan itu, kamu dibutuhkan disini," timpal Koga.
"Kamu yang akan memimpin tim pemburu untuk mengejar Gaju," lanjutnya.
"Tapi, ada Aju, Adel, dan Tian bersama Gaju. Mereka monster, tak mungkin aku menghadapi mereka," jawab Songlan.
Tia tertawa.
"Saat ini, yang aku kuatirkan justru bukan karena mereka akan menghalangimu, tapi, semoga saja mereka tak menghabisi Gaju lebih dulu," kata Tia.
\=\=\=\=\=
Di sebuah surga kecil yang tenang.
Koma terdiam ketika melihat notifikasi yang baru saja dia terima.
"Gaju..."
"Membuat kami saling membunuh demi poin dan resources. Pulau memang bedebah!!" rutuk Koma sambil menancapkan belatinya ke pohon sekuat tenaga penuh kebencian.
Dia lalu mengangkat kepalanya dan merasakan sengatan mentari di wajahnya yang jatuh dari sela-sela pepohonan.
Koma menarik napas panjang.
"Aku tak akan terpancing dengan umpan yang kalian berikan. Apapun alasannya," gumamnya sambil memejamkan mata dan menarik napas panjang.
__ADS_1