Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 111 - The Truth


__ADS_3

Kejadian yang hampir sama terjadi di dua tempat lainnya.


Koma yang berada dalam surga kecilnya sedang menikmati waktunya sendirian di saat dia mendapatkan notifikasi dan mengaktifkan live broadcast, sedangkan Koga sedang berada di dalam sebuah ruangan bersama Em, Tien dan Songnam.


Tien dan Songnam sedang berdiri di sebelah Koga dan berdiskusi dengan antusias tentang tahap selanjutnya, sedangkan Em seperti seorang yang dikucilkan dan sama sekali dianggap tak ada. Em lalu menundukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Pergi entah kemana.


Professor sedang memandangi keempat layar Hologram yang ada di depannya. Empat layar yang menunjukkan keempat tempat yang berbeda, Gaju dan kawan-kawan di Utara, Gama di Barat, Koma di Timur dan Koga di sebelah Selatan.


Saat melihat kelakuan si Gama, Professor tak kuasa menahan dirinya untuk memaki si Negro itu. Makian yang langsung disambut oleh senyuman kecut oleh semua Kandidat yang lain. Karena ini live broadcast, tentu saja Professor juga tampil secara langsung.


Setelah insiden barusan, Professor melihat ke arah empat layar di depannya. Seolah-olah dia sedang melihat semua gerak-gerik para Kandidat.


“Selamat,” kata Professor MoMu dengan raut muka ceria seperti biasanya, seolah-olah semua yang ada di dunia ini selalu baik-baik saja.


Gaju menatap tajam ke arah Professor yang selama ini sangat dibencinya. Koga dan Koma melihat ke arah Professor dengan tatapan acuh tak acuh. Kandidat lainnya melihat Professor dengan pandangan mata yang campur aduk dan sedikit bingung.


“Kalian mungkin sekarang membenciku, tapi sebenarnya, aku ini adalah sosok pria yang baik hati dan tidak sombong,” gumam Professor sambil menundukkan kepalanya dengan suara yang terdengar sedih.


“Puihh,” Adel meludah ke arah hologram sang Professor ketika melihat tingkah orang gila itu, tapi tentu saja tindakan itu sama sekali tak berguna.


“Ish ish ish. Adel oh Adel, kamu itu seorang gadis yang seksi, bisakah bertingkah seperti layaknya seorang wanita yang penuh dengan keanggunan?” tanya Professor ke arah Adel.


“Humph!” Adel hanya mendenguskan napas dan membuang mukanya.


“Hahahahahahahaha,” Professor lalu tertawa terbahak-bahak setelah melihat tingkah Adel.


“Oke. Cukup bercandanya. Sekarang saatnya kita serius,” kata sang Professor.


“Dari empat puluh Kandidat yang ada di Pulau, kini hanya tersisa kalian, sepuluh orang Kandidat saja hingga ke akhir Tahap Ketiga ini,” gumam sang Professor pelan.


“Kalian adalah Kandidat terbaik dari yang terbaik, tapi juga Kandidat yang beruntung dari semua Kandidat yang sial,” lanjut Professor sambil melirik ke arah Aen dan Tien.


“Apapun alasannya, kalian lah yang tersisa.”


“Mungkin kalian selalu bertanya-tanya, kenapa kami melakukan ini? Kenapa ada tempat seperti ini? Apakah ada dunia yang luas di luar sana? Apa tujuan dari tempat ini?”

__ADS_1


“Mungkin juga sebagian dari kalian sudah menyadarinya.”


“Mungkin juga sebagian dari kalian tahu kalau tempat ini adalah sebuah penjara.”


“Sebuah kandang, sebuah tempat penggemukan, sebuah tempat pelatihan, apapun kalian menyebutnya. Tapi tempat ini adalah sebuah ruangan lab yang terukur.”


“Kami selalu mengawasi setiap gerak-gerik kalian, sekecil apa pun, sekalipun kalian berusaha menyembunyikannya,” kata Sang Professor sambil melirik ke arah Gaju.


Tubuh Gaju bergetar hebat saat dia bertatapan mata dengan sang Professor Gila itu. Dari tatapan matanya, seolah-olah si Gila itu bisa membaca pikiran Gaju dan mengetahui semua rahasia tentang dirinya. Sekecil apa pun itu.


Dan tebakan Gaju memang benar, Sang Professor memang tahu semua rahasia Gaju, bagaimana tidak, dia kan author cerita ini, nggak mungkin kalau dia nggak tahu. Oke, lupakan kalimat ini. Ini ngawur.


Dan tebakan Gaju memang benar, Sang Professor sedikit banyak sudah bisa menduga kalau Gaju memiliki rahasia yang dia sembunyikan rapat-rapat.


“Langit, Laut, Matahari, Bulan, Bintang, dan semuanya adalah benda buatan,” kata sang Professor.


“Kalian ingin tahu yang sesungguhnya?” tanya sang Professor yang dijawab diam oleh semua Kandidat yang tersisa.


Professor hanya tertawa saat melihat ekspresi dari para Kandidat itu, lalu dia melambaikan tangannya. Tak lama kemudian, seperti sebuah layar raksasa yang dimatikan, biru langit yang selama ini terlihat sangat indah dan senantiasa menyelimuti seluruh Pulau pelan-pelan berganti dengan kegelapan.


Diatas sana, entah sejauh apa, ada sebuah sumber cahaya yang seolah-olah terhalangi oleh lapisan sesuatu yang sangat pekat dan membuat cahayanya bahkan enggan untuk datang ke tempat ini.


"Apakah kalian terkejut?" tanya Professor ke arah semua Kandidat.


"Hangat Matahari yang kalian rasakan selama ini adalah kepalsuan."


"Hembusan angin yang selama ini kalian nikmati adalah sebuah kepalsuan."


"Segarnya udara yang selama ini kalian hirup adalah kepalsuan."


"Kita semua hidup dalam sebuah kandang."


"Kandang yang terbenam jauh di dasar lautan."


"Bahkan sinar mentari pun enggan untuk menyinari tempat ini."

__ADS_1


"Kita semua adalah penghuni Dunia Bawah."


"Kita adalah bagian dari mahluk hina dan lemah yang bernama manusia dan terusir dari tempat asal kita yang seharusnya."


"Jauh di atas Permukaan sana!!"


"Tapi..."


"Aku tak pernah mau menerima kenyataan ini."


"Aku tak ingin anak cucu kita terus hidup dalam tempat gelap yang penuh kepalsuan ini."


"Karena itulah aku menciptakan kalian!!"


"Karena itulah aku membuat Pulau ini!!"


"Kalian akan menjadi Jenderal Perangku!!"


"Yang akan memimpin pasukan Dunia Bawah untuk kembali merebut tempat kita di Permukaan sana!!"


"Karena kita tak layak berada disini!!" kata Professor sambil menunjuk ke arah bawah.


"Kita berasal dari Permukaan, dan kita akan merebut kembali tempat kita disana!!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah atas dengan tangan yang bergetar.


Semua Kandidat terdiam dan melihat sosok sang Professor dengan sorot mata yang terlihat bercampur aduk.


Professor MoMu tak lagi terlihat seperti seorang Professor gila yang seenaknya saja tanpa hati nurani membantai anak-anak tak bersalah di Pulau demi kesenangan dirinya sendiri.


Mereka melihat sosok seorang laki-laki yang penuh patriotisme dan heroisme. Rela melakukan apa saja demi umat manusia.


Itulah yang membuat semua Kandidat kini terpana dan tak tahu harus mengambil sikap apa terhadap sang Professor gila yang selama ini menyiksa mereka.


"Kalau kalian mempunyai ideologi yang sama denganku dan ingin membantuku untuk berjuang merebut kembali hak kita, datang ke Komplek Pengurus dan kita akan bertemu secara langsung."


"Kalau kalian puas dengan dunia palsu ini. Silakan tetap disini dan nikmati sisa hidup kalian dalam kandang yang terbenam di lautan penuh kegelapan ini."

__ADS_1


"Aku memberi kalian waktu 24 jam untuk memikirkan hal ini," kata Professor sebelum sosoknya menghilang.


__ADS_2