Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 60 - Fight


__ADS_3

Tracker, sesuai namanya adalah sebuah profesi yang mempunyai kemampuan untuk membaca petunjuk dan jejak yang tersisa dari sebuah pertarungan atau jejak lainnya.


Kemampuan ini lebih terspesialisasi dibandingkan metode analisa yang dilakukan oleh Gaju saat dia dulu menentukan dan menganalisa bekas pertarungan Griffin.


Tracker seperti Sadu memang dengan sengaja mengumpulkan dan mempelajari semua knowledge yang berhubungan dengan mengenali dan mencari jejak.


"Setelah mengambil poin dari Harimau Tanah, Gaju bergerak ke arah sini," kata Sadu sambil berjalan pelan dan mengamati jejak di tanah.


"Dia bergerak cepat sekali. Speed yang dia miliki luar biasa," lanjut Sadu.


Sadu lalu terus bergerak sambil memperhatikan semua jejak sekecil apapun.


"Dia sama sekali tak berusaha untuk menutupi jejaknya," gumam Sadu seperti kepada dirinya sendiri.


Sadu lalu melesat dan meninggalkan tempat itu.


"Ikuti!" perintah Songlan pendek.


\=\=\=\=\=


Gaju berhenti bergerak. Setelah meninggalkan tempat bertarungnya dengan Harimau Tanah, Gaju memang bergerak agak pelan. Ini daerah asing baginya yang belum pernah dia rekam dengan memorinya. Dia tak ingin bertindak gegabah.


Tiba-tiba, Gaju melihat burung beterbangan dari arah dimana dia datang dan berjarak sekitar 3 km dari tempatnya berada.


Gaju mengrenyitkan dahinya.


"Kandidat?" gumam Gaju mulai curiga.


Dengan cepat, Gaju meloncat ke atas pohon. Dia bergerak dari satu dahan ke dahan yang lain dengan cepat. Mungkin di atas pohon, Gaju lebih lincah daripada seekor kera sekalipun.


Tak butuh waktu lama bagi Gaju untuk sampai ke pucuk pohon.


Dan Gaju pun melihatnya.


Batang pohon dan semak yang bergerak perlahan dan diikuti oleh gelombang burung yang terbang tiba-tiba karena terkejut.


Tapi, di depan mereka ada sesuatu yang melesat cepat tanpa membuat hewan-hewan kecil itu terkejut. Berjarak beberapa puluh meter dari rombongan yang ada di belakangnya.


Gaju langsung memahami apa yang terjadi.


Seorang tracker atau mungkin path finder memburunya dan diikuti oleh rombongan tim serang dari belakang. Itu berarti, musuhnya kali ini ada lebih dari satu orang.


Koma sendirian, Gama mungkin berdua. Tapi Gama dan Songnam, masing-masing bukanlah Tracker. Jadi hanya ada satu kemungkinan yang tersisa.


"Tim Koga," gumam Gaju perlahan.


Gaju bukan binatang buruan jadi dia tak akan diam menunggu di tempatnya atau berlari menjauh dari pengejarnya.


"Koga, mari kita lihat siapa yang lebih kuat," gumam Gaju sambil menyeringai dan meloncat turun dari atas pohon.


Pohon itu setinggi belasan meter, tapi Gaju sama sekali terlihat tak peduli. Tubuhnya melesat turun dalam keadaan tegak dan wajahnya menunjukkan raut muka rileks tanpa ketakutan sedikit pun.

__ADS_1


Beberapa meter sebelum Gaju mencapai tanah, tangan kirinya bergerak cepat dan melemparkan jarumnya ke batang pohon.


Setelah jarum itu tertancap, Gaju menyentakkan tangan kirinya dan sebuah benang perak yang sangat kecil terlihat berkilauan dan menegang terkena cahaya Matahari dari sela-sela pepohonan.


Wuuttttt.


Benang itu menahan laju tubuh Gaju dan membuat kecepatannya melambat. Dia mendarat dengan pelan di atas tanah. Tangan kirinya menyentak lalu jarum yang tadinya tertancap di pohon melayang kembali ke arah Gaju.


Gaju berdiri di tanah tak lebih dari sedetik sebelum akhirnya bayangan tubuh Gaju menghilang dari tempatnya berdiri.


Tak lebih dari setengah menit setelah bayangan Gaju menghilang, Sadu sudah berdiri di tempat itu. Tepat dimana tadi Gaju berdiri. Sadu mengangkat tangannya dan mengepal keatas. Tanda agar anggota timnya berhenti.


Beberapa detik kemudian, empat orang sudah berdiri disini.


"Dia disini," kata Sadu pelan.


Songlan memasang kuda-kuda waspada. Begitu juga dengan Tutu dan Duma. Ketiga orang itu lalu bergerak cepat dan mengelilingi Sadu. Masing-masing Kandidat berada di ketiga sisi Sadu dan membentuk sebuah segitiga.


Sadu adalah tracker, jika mereka semua menginginkan untuk bisa kembali ke Komplek, Sadu harus survive. Kalau tidak, mereka akan tersesat di tengah Hutan ini.


"Kupikir Koga sendiri yang mengejarku. Ternyata cuma cecunguknya saja."


Sebuah suara terdengar memecah keheningan di tempat ini.


"Sadu," kata Tutu pelan.


"Timur laut. Diatas pohon," jawab Sadu pendek sambil melihat ke arah yang barusan disebutkannya.


"Gaju. Kamu tak punya kesempatan. Gunakan charity. Berikan semua poinmu untuk kami," kata Songlan.


"Lalu?" tanya Gaju.


"Kalian tak berpikir kalau aku adalah orang yang bodoh dan akan mempercayai kalau kalian akan melepasku setelah aku memberikan poinku kan?"


"Tentu tidak. Kepalamu jauh lebih berharga dibandingkan poinmu yang hanya 140an saja," jawab Songlan.


"Songlan, Tutu, Sadu, Duma, kalian tahu kan kalau kalian berniat memburu seekor buruan, kalian juga harus bersiap untuk diburu dan menjadi korban," jawab Gaju.


"Korban? Setelah berada dalam Hutan selama beberapa hari kamu sudah kehilangan akal sehatmu ya?" cibir Songlan.


"Is that so?" jawab Gaju.


Wuussshhhhhh.


Sebuah suara kelebatan terdengar.


"Awas!!" teriak Sadu.


Buakkkkk.


Sebuah suara keras terdengar sekejap kemudian. Semua mata memandang dimana arah suara itu berasal. Dan mereka terpana.

__ADS_1


Duma terkapar di tanah dengan tangan dalam posisi yang aneh. Dia merintih kesakitan di tanah dan Gaju berdiri disampingnya.


Kandidat, selemah apapun, bukanlah binatang buas. Dalam jeda waktu yang singkat, meskipun Gaju bisa dibilang mengeluarkan serangan dadakan, Duma masih berhasil menangkisnya.


Jadi, tangannya yang kini menjadi korban.


"***!!" teriak Songlan ketika menyadari apa yang terjadi.


Dia melesat ke arah Gaju dan melayangkan tendangannya.


Tutu tak mengeluarkan suara sama sekali dan menarik beberapa buah benda dari pinggangnya. Pisau berukuran dua jari sepanjang satu jengkal, pisau lempar.


Kedua orang itu bergerak ke arah Gaju dan menyerang bersamaan.


Singgggggg.


Suara berdesing terdengar.


Gaju melihat ke arah Tutu dan menyadari kalau bocah itu sudah melemparkan tiga buah pisau ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.


Satu pisau mengarah ke kepala, satu pisau mengarah ke leher dan pisau terakhir mengarah ke selangkangannya.


Serangan yang sangat keji.


Di saat yang sama, Songlan juga melancarkan pukulannya.


Gaju tahu kalau Songlan sangat mengidolakan Koga, bahkan meniru gaya bertarung bar bar ala idolanya itu.


Gaju memiringkan tubuhnya ke arah kiri. Untuk menghindari pisau lempar Tutu.


Srettt.


Srettt.


Srettt.


Sekalipun Gaju memiliki speed luar biasa, tapi lemparan pisau Tutu berhasil menyerempet tubuhnya di bagian yang menjadi sasarannya. Darah segar terlihat mengalir dari leher, lengan dan paha Gaju.


Gaju hanya bisa meringis menahan sakit. Tapi belum sempat Gaju menikmati rasa sakitnya, pukulan tangan Songlan datang dan mengarah ke kepalanya.


Buakkkkkkkk.


Gaju terlempar ke belakang.


Grusakkkkkk.


Tubuhnya menabrak ke batang pohon yang ada di belakangnya dan membuat pohon seukuran paha orang dewasa itu tumbang.


Daun dan debu beterbangan mengiringi clash pertama mereka.


"Cih. Kandidat memang lain dengan binatang buas. Sekalipun perbedaan skor fisik signifikan, banyak faktor yang mempengaruhi kondisi pertarungan, dan yang paling besar adalah kecerdasan," gumam Gaju sambil tersenyum menyeringai dan menghapus darah yang merembes dari ujung bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2