
Ku dengar Bapak dan ibuku bercakap "ya Tuhan apa gak malu, kesini cuman numpang tidur!" kata ibuku. Bapakku menjawab "jangan keras-keras kalau ngomong,kasihan rifie nanti mendengar". Mereka membahas mertuaku, yang setiap hari mengunjungiku. Tetapi setelah sampai di tempatku dia malah mencari selimut lalu tidur,bukan malah meringankan bebanku, membantu mengurus anakku. Bagiku beliau malah memperumitku, bagaimana tidak, masalah makan saja banyak ga cocoknya. Jika makan masakanku katanya tak enak, tapi jika ku beli makanan dari luar katanya aju ini boros... ahhh susah sekali rasanya jadi aku.
__ADS_1
Tidak sampai di situ, beliau sering sekali menguji kesabaranku. Pernah di suatu hari beliau datang, membawa beberapa makanan beliau menawarkan padaku "ibu bawa kacang hijau ni fie, sama roti selai" katanya.ku lihat di bungkusnya ada 3mangkuk kacang hijau dan satu bungkus roti selai lalu aku menjawab "ya bu, saya masih kenyang nanti saja. Sambil membuka semangkuk kacang hijau beliau bercerita kesana kemari membanggakan saudaranya yang kaya raya katanya. Ya... aku hanya bisa mendengarkan tanpa berkomentar.
__ADS_1
Tak lama kemudian suamiku datang, dia memakan semangkuk kacang hijau dari ibunya itu, lalu mertuaku yang awalnya berada di ruang tamu mengikuti suamiku yg tela makan d meja makan, Beliau mengatakan "fie, ibu lapar lagi. ini ibu makan ya jadi kamu gausah berharap karena kamu ga kebagian, ibu dari tadi di sini ga di kasih makan ni wan". Suamiku tak seberapa mendengarkan ocehannya, langsung ku sahuti ocehannya "ya bu, saya masih mampu beli sendiri dari uang saya sendiri" Ya Tuhan rasanya hatiku ingin menyiram beliau dengan air kacang hijau di depannya.
__ADS_1
Siksaan batin yang sering ku terima ini hanya ku simpan dalam hati, aku tak tau harus bercerita kepada siapa. Sampai pada suatu hari mertuaku kembali ke rumahku dia hanya mengatakan " kenapa wawan belum kasih uang ibu bulan ini, uang nya kamu sita semua ya?". Seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak, tak terkontrol diriku "ibu kira selama ini uang wawan di berikan ke aku semua bu, ibu ga oernah mikirin perasaan saya bu, saya ini tidak pernah sepeserpun menerima uang dari wawan. syukur-syukur ibu di sini masih saya kasih makan, orang numpang kok malah ngelunjak" kataku. Saat sadar dalam hati ku menyesal, apa yang sudah ku katakan padanya
__ADS_1
Beliau terdiam mendengar kata-kata kesalku, yang untuk pertama kalinya berani ku ungkapkan. Beliau terlihat heran, bagaimana bisa aku yang lemah lembut biasanya menjadi orang yang mengatakan hal kasar seperti itu. Memang aku orang yang suka memendam kekesalanku, tapi tak tau sampai kapan aku bisa meledak seperti itu sewaktu-waktu tanpa trrkontrol. Semoga ini semua bisa menyadarkannya.
__ADS_1