
Gio telah pulang ke rumah dengan raut wajah gelisah, kecewa lengkap sudah, karna dia tak menyangka Imel orang yang sangat dia kenal akan sampai sejauh itu.
" Sayang maaf gara -gara aku kamu kayak gini ." ucap gio sambil memegang tangan Kania yang sedang terbaring di kamar nya.
" Enggak kamu gak salah kok, gak ada yang salah jadi jangan salah kan diri kamu sendiri sayang." Kania pun mengusap rambut gio lembut sambil tersenyum.
Gio pun menundukan kepala nya, sambil mengusap lembut perut Kania, " anak papa gak kenapa-kenapa kan, maafin papa, udah lalai jaga mama, kamu ya nak, maafin papa." ucap gio sambil mengusap air mata nya, Sungguh dia merasa gagal menjadi suami karna telah, lalai dalam menjaga istri nya, gio sangat menyayangi Kania terutama calon buah hati nya.
" Papa jangan sedih dong, dedek gak kenapa-kenapa kok ." ucap Kania, menirukan suara anak kecil.
Gio pun menarik Kania, untuk berada dalam pelukannya, sambil mencium, Kening Kania lama dan ciuman itu pun beranjak ke bibir, gio mencium nya lembut hanya sebatas ******* saja.
" Dedek nya, mau papa liatin gak." goda gio sambil menjahili istri nya itu.
" Apaan sih." omel Kania yang mengerti maksud dari perkataan gio, yang pasti akan menemui buah hati nya menggunakan adik nya itu.
" Haha orang cuma bercanda doang, kok baperan pengen ya." goda gio lagi.
" Gio..." pekik Kania kesal sambil mencubit perut gio.
" Ciee udah cubit -cubitan kode nih ma." ucap gio menahan tawa, karna melihat wajah kesal istri nya itu.
Mereka berdua pun langsung pergi ke taman belakang, karna gio mengajak Kania untuk melihat-lihat ke adaan taman, karna sudah lama tak di urus.
" Tumben ngajak ke sini?" tanya Kania heran.
" Ngak papa , pengen aja." jawab gio tersenyum.
" Coba deh lihat sayang, aku mau bangun taman bermain untuk anak kita, dan kita nanti duduk berdua di kursi sana, sambil tersenyum melihat mereka bermain dan tumbuh besar." Ucap gio, tersenyum, menghayal gio sangat tak sabar lagi, menunggu buah hati nya, karna dia sangat menyayangi nya, dan betapa bahagia nya , nanti gio melihat anak nya, bermain sambil tertawa di taman bermain buatan nya.
" Hahaha makin hari , kamu makin jadi aja GI haha" ucap Kania tertawa pasal nya suami nya ini terlalu berlebihan.
" Orang serius juga, noh liat udah ada tukang nya, jadi dedek nya papa nanti main di sana ya."
" Dapat uang dari mana." tanya Kania sinis, yang hanya di balas kekehan saja dari gio.
__ADS_1
" Minjam uang Daddy hehehe." tawa gio hambar.
" Gio...bisa gak sih, sekali-sekali beres." ucap Kania kesal.
" Hehhe bsok aku ganti kok, aman orang ganteng mah bebas." ucap gio bangga.
" Kalau , nanti aku udah gak ada, kamu jaga ya anak kita baik-baik, jangan sakitin dia, aku gak mau kejadian di aku terulang ke anak aku." ucap Kania entah apa yang ada di pikiran nya sampai mengucapkan kata-kata menyedihkan itu, karna jauh dari topik pembicaraan.
" Apaan sih, gak usah ngomong gitu, jangan di bahas, dia darah daging aku sampai kapan pun, aku gak akan nyakitin dia sedikit pun." jawab gio dingin.
Gio dan Kania pun, pergi menuju ke kamar, " makin gendut aja noh, calon mama muda." goda gio.
" Kenapa kalau makin gendut, aku jelek gitu." ucap Kania ketus.
" Iya jelek, apa lgi noh tompel nya makin gede." tunjuk gio ke wajah Kania.
" Gioo.... gue gak tompelan." kesal Kania, karna gio sering sekali menertawakan nya .
Kring.......
" assalamualaikum, kenapa dad, kangen ya. " ucap gio PD karna tumben daddy nya menelpon.
" waalaikumsalam, gak usah gr deh bang, cepat ke rumah sakit mami lahiran." ucap Erik langsung mematikan telpon nya.
" sayang yok, ke rumah sakit mami lahiran, ya Allah udah mau jadi bapak gue, noh emak kek kucing melahirkan terus." ucap gio sepontan.
Mereka pun langsung pergi ke rumah sakit." Bang, mami gak kenapa-napa kan?" tanya gio cemas.
" Abang," rengek Alexa dan Alexi yang juga ikut.
" Kok bisa ikut sih kenapa gak di rumah aja?" tanya gio pada Abang nya.
" Tadi tu pengen jalan-jalan tau- tau nya mami ngerasa keram, tau-tau mau lahiran aja." jelas Rangga.
" Sini gendong kak Kania aja ya." tawar Kania namun mereka menggeleng hanya mau di gendong oleh Abang gio nya , di sebelah kanan dan kiri gio mereka juga tak mau di gendong oleh Rangga, entah apa alasannya.
__ADS_1
Dokter pun keluar, dengan wajah tersenyum, " Selamat bayi dan ibu nya selamat dan anak nya laki-laki." ucap dokter memberikan selamat.
" Ya Allah banyak bener deh pisang di rumah." ceplos gio, yang langsung di beri tatapan tajam oleh Erik.
" Mami, " rengek gio, melebihi Alexa dan Alexi, " untung mami gak Kenapa-kenapa, Abang hawatir." ucap gio caper.
" Udah deh GI, gak usah manja, gak malu sama Alexa sama Alexi, udah mau jadi bapak juga." cerocos Rangga geram melihat tingkah gio.
" Anak mami, Alhamdulillah mami masih di berikan keselamatan." ucap Dinda tersenyum.
Erik pun tak henti-henti nya menggenggam tangan istrinya itu, sambil sesekali mengecup kening nya.
" awas dad, Abang mau pegang tangan mami, Daddy gak usah bucin den, anak udah enam ni." omel gio.
" Abang, " panggil Erik sinis, anak nya yang satu ini memang langka dan hampir tak punya malu.
" Laki gue laki gue , kok gini amat ya Allah." gumam Kania malu karna melihat tingkah suami nya itu.
" cebol, kita besok banyakin dari Daddy ya, masa aku kalah sama Daddy yang punya anak enam." ucap gio sepontan.
" Lo pikir , nyetak GI, yang ini aja blom keluar." omel Kania geram.
" udah dek, gak usah di dengerin, sama Abang juga boleh ." sambung Rangga menjahili adek nya itu.
" Abng Lo ya , jangan macam-macam." ancam gio, padahal Rangga hanya bercanda.
Mereka yang ada di ruangan itu pun langsung tertawa melihat to tingkat Abang dan adik ini.
Sedangkan bian sudah bermimpi indah di sopa ruangan Dinda.
*Kematian, takdir, kenyataan
Terimakasih, karna kalian telah menyadarkan apa yang di namakan, arti kehidupan.
-Garis takdir*-
__ADS_1