
Sudah di putuskan bahwa akhir bulan februari 2013 aku dan wawan akan menikah, keputusan di ambil oleh bapakku. Entah aku harus bahagia atau bagaimana, aku bingung. Perasaan cinta pada wawan pun belum ada, bagaimana bisa aku melanjutkannya. Maka sebelum jauh pun ku berfikir menyampaikan perasaanku yang sebenarnya kepada wawan, dan meminta wawan untuk benar-benar berfikir ulang soal pernikahan.
"Pernikahan bukan soal main-main wan, coba kau fikir dulu. Bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk seterusnya." kataku, tapi wawan meyakinkan ku supaya aku tetap jadi menikah dengannya. Hati ini masih amat sangat ragu, tapi ku coba untuk percaya pada kata-kata wawan. Demi wawan aku berhenti bekerja, karena dia memintaku untuk resighn dari perusahaan tempatku bekerja.
Harusnya calon pengantin bahagia mempersiapkan segala macam perintilan menjelang hari pernikahan, tapi kenapa aku tidak. Ah.. pikiran apa ini, aku bingung harus bagaimana. Aku benar-benar ragu, tapi ak tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatakan keraguanku. Orang tuaku pun sepertinya sibuk, mereka sibuk mempersiapkan pernikahanku dengan wawan hingga lupa menanyakan bagaimana perasaanku.
__ADS_1
Hari itupun tiba, hari dimana aku akan di sahkan sebagai istri wawan. Lambat laun ku atur hatiku supaya iklas menerima wawan sebagai suamiku, walaupun sulit. Tak terbayangkan aku bersanding dengan wawan di pelaminan, rasanya campur aduk hatiku. Entah ini kebahagiaan yang benar-benar aku impikan atau petaka yang akan aku dapatkan.
Di malam pertama kami, aku sedang datang bulan sehingga wawan tak bisa menyentuhku. Setelah ku jalani dengan wawan beberapa hari, ku lihat dia sangat menawan hatiku awalnya. Ibadanya rajin, loyal, ahhh semua yang baik-baik dia perlihatkan. Tapi itu semua awal, bukan sifat aslinya.
Aku menurutinya, aku mencari kerja kesana kemari dengan keadaan hamil muda.Sampai pada akhirnya aku tidak mengontrol diri ku lelah pun ku terjang, aku keguguran anak pertamaku... Kesal rasanya, semua gara-gara dia, suamiku sendiri. Dan mungkin ini juga teguran dari Tuhan untuk tidak meneruskan dengan wawan, tapi usia pernikahan ku baru 2 bulan. Apa kata orang jika aku bercerai secepat itu, bagaimana malunya orang tuaku.
__ADS_1
Setelah keluar dari rumah sakit untuk kuret, aku pun di minta dokter bedrest selama seminggu. Selama aku bedrest wawan tak merawatku dengan baik, dia malah mencemooh dan membentak-bentakku. Rasanya semakin tak kuat ku bersamanya, ini baru beberapa bulan aku dengannya bagaimana jadinya bila bertahun-tahun nanti. Bisa-bisa ku mati tertekan di buatnya.
Masa bedrest pun berlalu, ku coba bangkit. Melamar kerja kesana kemari, akhinya membuahkan hasil.. aku kembali bekerja di Departement store ternama di indonesia. Alhamdulillah... syukur ku ucap, aku di kontrak 6bulan oleh perusahaan.
Wawan senang mendengarku bekerja, karena menurutnya jika ku bekerja aku tak akan merepotkan dan menghabiskan uangnya, sungguh suami macam apa dia.
__ADS_1