GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
Bekerja Keras Demi Anakku


__ADS_3

Satu-satunya alasanku bertahan hidup dan harus tegar menghadapi semua ini adalah anakku, demi dia aku harus bisa melewati ini semua dengan modal keyakinan pasti aku bisa menyelesaikan hutang-hutang yang di buat wawan atas nama ku. Dua tahun sudah aku bekerja di perusahaan ini, namun hutang yang timbul karena ulah Wawan tak kunjung selesai. Bagai kerja rodhi, bahkan menikmati hasil keringatku pun aku tak pernah.


Waktu itu upah kerjaku sekitar Rp.2.700.000, sedangkan hutang yang harus aku bayar perbulan adalah Rp.2.000.000, sementara aki harus menghidupi sendiri anakku. Belum lagi aku memikirkan kebutuhan orang tuaku, tersiksa rasanya seperti ini namun bagaimanapun juga aku harus kuat. Anakku membutuhkanku, jika aku menyerah siapa yang akan memberinya kasih sayang seorang ibu. Aku harus semangat demi anakku, sisa upah ku hanya Rp.700.000, beruntung eza mau membantuku.

__ADS_1


Aku dan eza kian dekat, hubungan kami semakin erat. Namun aku tak terlalu memikirkan bagaimana lanjutan hubungan ini, aku yakin orang tua eza pasti berat menerima aku l, seorang janda yang beranak satu ini. Walaupun usia aku dan eza tidak terpaut jauh, eza lebih tua dariku setahun. Setiap bulan aku di bantu eza, ia mengirim kan sejumlah uang untuk aku dan anakku bertahan hidup. Kadang kala aku juga bingung, bagaimana aku mengembalikannya.


Eza selalu menenangkanku, enta mengapa aku dan anakku mulai nyaman bersama eza, kami sering meluangkan waktu bersama untuk sesekali pergi bertiga. Anakku memanggil nya papa, mungkin dia rindu sosok ayah, karena selama ini tak ada seorangpun yang mengajarkannya untuk sebutan itu. Eza tak keberatan di panggil papa oleh anakku, mereka akrab sekali mungkin karena kami sering bertemu dan eza ramah kepada anak-anak.

__ADS_1


Setelah sebulan lebih, eza mulai membicarakan niatnya yang sempat tertunda. Di acara syukuran 40 hari ayahandanya ia mengajakku untuk kerumahnya, awalnya aku ragu untuk membawa serta anakku ke kediaman eza, namun eza memaksaku untuk membawanya. Agar sekalian ibunya berkenalan dengan anakku katanya.


Saat tiba di kediamannya, terlihat sekali ibunya memandangku heran. Ku dengar beliau bertanya pallkepada eza "siapa itu za?" , "kekasiku ma" kata eza. "Lalu anak kecil itu?" lanjut beliau, sedikit lama eza terdiam lalu menjawab "itu anaknya". Ku lirik mereka, ibu eza menyeret eza ke kamar, mereka mengobrol. Namun meskipun di kamar aku tetap bisa mendengarkan percakapan mereka. "Apa tidak salah kau memilih wanita yang telah mempunyai anak, pikir-pikir lah dulu. Belum-belum kau harus memikirkan biaya-biaya yang timbul untuk anak itu!" kata ibu eza di dalam kamar.

__ADS_1


Tak ku dengar jawaban dari eza sepatah katapun, lalu eza keluar kamar dan menawariku untuk mengantarku pulang. Di perjalanan rasa canggung ku timbul karena memikirkan kata-kata ibu nya tadi, Aku tak tahu harus bagaimana.


__ADS_2