
Setelah pertemuan ku dengan laila, ku rasa wawan semakin menjadi-jadi. Entah apakah tetap laila perempuan yang menjadi kekasihnya, atau ada perempuan lain lagi. Sungguh aku tak perduli dengan nya, rasanya hatiku pun sukar untuk bisa mencintai nya lagi. Anggap saja aku ini single parent pikirku, toh masalah anak juga aku semua yang menaggungnya. Jarang sekali dia memberikan nafkah untuk anak istrinya, entah uang gajinya lari kemana akupun tak ingin tahu.
Ku jalani hari-hariku seperti biasa, dengan menjadi seorang karyawati di perusahaan yang saat ini aku bekerja dan sekaligus ibu bagi anakku. Namun semua seperti mimpi saat aku mengetahui ada tumor d tubuhku, tepat di ketiakku terdapat benjolan. Awalnya tidak ku rasa ku kira hanya benjolan jerawat biasa, namun semakin lama semakin hebat sakit yang ku rasakan. Dan benjolan itu membesar seukuran telur ayam, dari situ lah aku panik. Aku mulai memeriksakannnya ke puskesmas, namun pihak puskesmas menyarankan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan di Rumah Sakit.
__ADS_1
Mulai ku jalani pemeriksaan di Rumah Sakit, dengan modal rujukan dari Puskesmas. Terpaksa aku harus ijin telat saat masuk kerja, malu rasa nya tetapi mau bagaimana lagi demi anakku aku harus sembuh. Pemeriksaan pertama yang ku jalani adalah mengambil sample benjolan di tubuhku, dengan cara dokter menusukkan jarum suntik ke ketiakku yang benjol itu, lalu menyedot cairan yang ada di benjolan. Cairan itu d priksa apakah berbahaya atau tidak, sakit memang.. sangat sakit.. sudah tiga kali ketiakku di tusuk-tusuk namun dokter belum menemukan caoran yang d maksut.
Untuk ke empat kalinya baru dokter berhenti, ya... ketemu penyakit ku bernama MAMAE ABERANS. Hal ini di sebabkan hormonku terlalu tinggi sehingga menumbuhkan kelenjar susu pada ketiakku. Tak sampai di situ, aku masih harus melakukan pemeriksaan lainnya. Sudah 2 bulan ini aku melakukan serangkaian perlmeriksaan, namun jadwal operasiku di tentukan bulan depan oleh dokter. Segera aku mengajukan permohonan cuti pada perusahaan untuk operasi, syukurlah perusahaan dimana aku bekerja mau memakluminnya.
__ADS_1
Siapa yang akan membiayainya jika ku sakit seperti ini, aku harus bangkit dan siap melawan penyakitku.Ya.. kurang lebih itu yang ku fikirkan, hanya soal anakku melulu.
Jika bicara soal wawan, dia tak berkomentar apapun tentang penyakitku. Menemani aku untuk ke Rumah sakit pun tidak pernah sama sekali, malahan dia sering pulang larut sepertinya dia merasa memiliki banyak kesempatan untuk keluar dengan perempuan-perempuan lainnya, alasannya dih tetap lembur tapi entah lembur kemana lagi dia aku tak mau tau. Ku rasa bagiku dia hanya orang lain yang menumpang makan dan tidur di sini, karena di anggap sebagai seorang suami pun dia tak layak sama sekali. Bagaimana tidak, berbicara soal kewajiban seorang suami yaitu nafkah sepeserpun uang tak ku dapat darinya. Bahkan untuk melihat anaknya saja dia tak punya waktu, menurutku kesibukannya hanya mencari perempuan-perempuan yang baru di luar sana. Dan bersenang-senang sesuai isi hatinya, tidak pernah dia memikirkan kami, anak dan istrinya sekalipun.
__ADS_1