
Di tahun ini Ferdi lulus, aku bahagia sekali. Karna di beberapa waktu yang lalu kami membicarakan tentang pertunangan kami.
Dengan bahagianya Kami berbelanja perlengkapan menjelang pertunangan kami tanpa aku tahu di balik semua ini ferdi menyiapkan sesuatu yang membuatku hancur.
Kami memesan cincin pertunangan kami di toko langganan ibuku. Mengumpulkan barang-barang printilan sebagai bahan seserahan pada saat lamaran, ribet dan melelahkan memang tapi aku bahagia. Menurutku hari yang ku tunggu akan datang dan hanya butuh satu langkah lagi untukku bisa menjadi nyonya ferdi.
__ADS_1
Tapi semua itu hanya impian dan keinginanku, setelah kami sibuk untuk hari pertunangan yang dua bulan lagi akan di laksanakan ferdi menghilang. Jangankan bertemu, telpon atau pesan singkat d handpone pun tidak. Aku tidak gelisah karena ku fikir ferdi akan kembali dengan berbagai kejutannya, bagaimana tidak selama ini dia menghilang beberapa saat lalu kembali membawa sesuatu yang membuatku bahagia.
Bodohnya aku... Satu bulan sebelum acara kami tiba ferdi mengabariku lewat telepon, dia mengatakan "halo, apakabar sayang.. maaf aku menghilang, aku ada di kalimantan bertemu bapak kandungku untuk menghadiri acara kita nanti, tetapi aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting". Dengan hati jengkel akupun menjawab "apa yang ingin kau bicarakan, apakah kamu selingkuh lalu dia hami?!".
Ferdi yang d ujung telepon sana tidak lekas menjawab, hening untuk beberapa saat. Dia hanya bicara "tunggu lah aku datang dan kita akan bicarakan!". Mendengar nada bicaranya akupun merasa hal yang akan di bicarakan nya ini bukan kabar baik bagiku. Ah... hatiku semakin risau... aku tidak bisa tenang memikirkan kata-kata nya.
__ADS_1
"iya, apa?" kataku, "iya aku... hamilin cewe lain!" katanya dengan nada bergetar seolah alan menangis. Jdeeerrrr🌩️🌩️🌩️berasa kayak ada ribuan petir yang nyamber aku... rasanya kaku sudah lidah ku ini, mau ngomong apa? aku harus ngomong apa? aku harus bagaimana?? semua pertanyaan yang menyeruak di hatiku.
Perlahan ku atur nafas ku.. ku redam semua emosi semampuku. Bahkan saking sakitnya airmataku ga bisa keluar.. pingin teriak.. nangis.. ahhhh... apalah.. semua yang ada di fikiranku sebisa mungkin aku redam. Dengan hati- hati aku mulai bersuara "oh.. okkey, nikahin dia". di seberang sana suara ferdi terdengar lagi "lalu kita??". "Apakah kamu masih berharap tentang kita, sementara yang menghancurkan kita itu kamu sendiri" kataku.
Ferdi menangis sejadi-jadinya, entah itu airmata tulus atau hanya untuk membodohiku. Setelah kejadian malam itu aku pulang kerumah sendiri, aku sudah tak sudi melihat muka ferdi apa lagi untuk di antarnya pulang. Sesampainya di rumah aku mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi, seolah hatiku tak percaya ferdi telah tega mengkhianati ku sampai sejauh ini🥀.
__ADS_1
Hari-hari ku jalani seperti biasa.. Mencoba seperti biasa lebih tepatnya, aku belum siap bercerita kepada orang tuaku. Hhhmmm.. Nana... aku kembali ke nana sahabatku untuk bercerita, nana menenangkanku. Samasekali tidak menyalahkan ku, walaupun dulu aku sangat tidak mendengarkan nya.