
Ini adalah hari ke satu bulan lebih dari semenjak aku pergi dari Sarah hari itu. Semenjak itu aku juga tidak pernah menemui Langit atau mencoba menghubunginya. Aku membiarkan ia pergi begitu saja hari itu. Namun hari ini, mulai terpikirkan olehku juga akan ucapan Bagas. Bahwa ini tindakan yang tidak akan pernah dilakukan oleh lelaki sejati.
Sebagai lelaki aku seharusnya mengatakan apa pertimbanganku, menemui keduanya dan menjelaskan apa keputusanku. Bukan tiba-tiba menghilang dan pergi begitu saja. Bagas bilang, siapapun pasti akan paham dan tidak menyalahkanku. Dengan melakukan ini, aku justru membuat mereka bingung.
" Jadi maksudmu, aku harus menemui mereka ? ." tanyaku pada Bagas.
" Iya, kau harus menjelaskan apa perasaanmu! ."
" Tapi aku bingung tentang apa yang akan aku katakan ." ujarku sekali lagi.
" Mengapa kau harus bingung. Kau hanya harus mengatakan itu! Kau tidak bingung dengan perasaanmu, kan? ." ucapnya kini beralih menatapku yang sebenarnya cukup terkejut dengan pernyataannya itu. Ya, Bagas pasti tahu apa yang tengah aku alami, sebab ia sudah bersamaku sejak kecil dan kami tumbuh bersama.
" Ya, aku bingung. Kau benar. Siapa yang harus aku pilih? ." Kataku meminta saran. Bagas menatapku tidak percaya dan membuat ia geleng-geleng mendengar pertanyaanku.
" Katakan. Kau harus membantuku ."
" Mungkin kau harus memilih Langit. Sebab kau yang memulainya sejak awal dan kau harus bertanggung jawab. Atau kau juga harus memilih Sarah, sebab ia meninggalkanmu bukan karena pria lain ."
" Memilih Sarah? ." tanyaku setengah memastikan apa aku tidak salah dengar.
" Ya. Dengar Abi, bagaimana pun setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Begitu juga dengan Sarah, dan dia juga berhak mendapatkan kesempatan kedua ."
" Kupikir kau salah disini, aku sudah memberinya kesempatan kedua Bagas. Ia yang tidak memanfaatkannya ."
" Ya, itu aku sudah tahu itu. Tapi mengingat hubungan kalian, juga orang tua masing-masing. Aku pikir ini salah jika dilewatkan! ." Jelasnya. Bagas juga tidak segan mengatakan jika menurutnya Langit tidak masalah dengan ini. Karena ia tidak ada mencari Abi atau pun sekedar menanyakannya dan itu berbeda dengan Sarah. Ia selalu mencoba menemui Bagas tapi tidak berhasil, karena Bagas mengikuti permintaan Abi sebagai sahabatnya.
Aku merenungi sejenak semua yang dikatakan Bagas. Mungkin ia benar, jika aku harus memilih Sarah dan melanjutkan hubungan kami. Mengingat kami sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama dan saling mengenal sahabat masing-masing. Berbeda dengan Langit, aku baru mengenalnya beberapa bulan dan kupikir Rey tampaknya menyukai Langit.
Aku hanya tidak boleh menjadi egois, bukan? Sudah seharusnya aku memberi ia kesempatan untuk memulai atau mengungkapkan semuanya pada Langit. Mungkin ini memang jalan takdir yang sudah dituliskan untuk kami.
Aku sudah memutuskan dan mengikuti kata hatiku. Iya, aku akan memilih Sarah. Aku akan selalu memperbaiki seribu kali dengannya dari pada memilih orang baru. Benar, ia juga tidak meninggalkanku karena orang baru atau lelaki lain. Ia begitu karena mengkhawatirkan sahabatnya yang dikabarkan sedang diambang kematian itu.
Aku segera melajukan Mobilku untuk menemui Langit terlebih dahulu. Aku harus menyelesaikan semua dengannya terlebih dahulu baru kemudian memikirkan kelanjutan hubunganku. Aku tidak ingin menjadi egois. Aku tidak ingin menyakiti perasaan siapapun mengingat kami memulai semuanya dengan baik.
Aku sudah ada didepan Rumahnya, sebelum menemui Langit. Aku sudah dihadapkan dengan Ayahnya yang sedang menatapku penuh tanda tanya, sepertinya ia sudah mengetahui masalah keretakan hubungan kami. Tapi jangan khawatir, apapun masalahnya, aku akan menghadapinya karena aku sudah memikirkan hal ini sebelum menuju kemari.
" Jadi, kau memutuskan meninggalkan putriku, untuk kembali dengan Sarah mantan calon istrimu yang batal itu ! ." ujarnya setelah mempersilahkan aku masuk dengan tangan terbuka. Hal yang aku takutkan ternyata tidak terjadi, ia bukan Ayah yang seperti digambarkan di film-film yang akan kesal atau marah, atau bahkan akan mengancam agar tetap melanjutkan hubungan kami. Aku hanya diam saja mendengar itu, sebab aku mengakui aku salah dan meminta maaf. Bagaimana pun penjelasanku, aku tetaplah salah.
" Baiklah, kau jangan khawatir. Meski aku sedikit kecewa, tapi aku sangat suka akan kejujuranmu! Setidaknya kau mengatakan ini dari awal ."
" Baiklah, sekarang kau bisa bersama wanita yang kau mau itu. Kau pun tidak perlu menemui Langit, biar aku saja yang menyampaikan ini ." Iya, aku paham sekali, meski beliau mengatakan ia tidak marah, tetap saja ini akan melukainya. Ia pun memintaku agar tidak menemui Langit lagi.
Lelaki yang sempat dekat denganku kemarin ini, memintaku segera pergi dari sini. Karena ia tidak mau Langit mengetahui kedatanganku dan melihatnya sendiri. Aku bukan tidak menyukai Langit, aku bahkan sangat menyukainya. Namun, tidak semua hal yang kita mau harus kita mulai, bukan? Aku begitu.
Aku segera beranjak dari sana. Tidak semua hal berjalan mulus bukan, seperti sekarang ini. Jika ayah Langit tidak memberiku tamparan, maka Rey lah yang sekarang memberikanku beberapa pukulan yang mengenai wajahku.
Aku tidak memberi perlawanan. Sebab ia memang berhak dan aku layak dengan ini. Aku membiarkan ia memukulku sampai puas dan ia berhenti dengan sendiri.
" Apa kau sudah puas ? ." tanyaku mengumpulkan semua napas dan menatapnya yang sekarang tampak sangat masih kesal.
Setelah melewati hari patah hati yang sekian hari. Akhirnya kami mendengar kabar jika Langit sudah ditunangkan dengan Rey. Aku cukup senang dengan hal itu. Setidaknya aku tidak meninggalkan dan memberi ia banyak luka yang aku torehkan. Aku cukup senang dengan hal ini meski tidak akan menghadiri acara pertunangan mereka.
Ya, kami tidak lantas menjadi dekat setelah hari kemarin. Meski tidak ada permusuhan yang tersisa diantara kemarin. Bagaimana hubunganku dengan Sarah? Dia sudah kembali ke Jepang. Ya, dia pergi sebelum aku menyampaikan itu. Ia berpamitan pada Bagas dan meminta untuk memberitahukannya padaku.
Lalu bagaimana denganku? Aku tidak apa-apa. Aku melanjutkan hari ku dan bekerja seperti biasanya. Sekali lagi, mungkin ini sudah digariskan untuk kami. Aku tidak menyesalinya, justru aku bertambah bahagia untuk Sarah. Jodoh itu tidak akan pernah melewatkan jalannya untuk menemui jodohnya sendiri, bukan?
__ADS_1
Aku percaya itu, jika memang ia digariskan untukku, kami pasti akan menemui jalan kami sendiri. Tanpa harus melakukan apa-apa, tanpa ada hal apapun yang terlewat.
\*\*\*
Setelah selesai dengan Abi. Bapak meminta aku agar bersedia jika ditunangkan dengan Rey. Aku tidak menolak, aku tidak punya alasan untuk itu selama Rey sendiri pun tidak menolak untuk disandingkan denganku.
Selama aku mengenal Rey ia adalah lelaki yang baik, dan ia tulus dalam setiap hubungan yang dijalinnya. Ia tulus padaku dan Bapak, meski awalnya ia sendiri yang tidak setuju untuk hubungan itu.
Mungkin setelah aku tidak jadi dengan Abimana, Bapak mulai mempertimbangakannya. Memangnya dimana lagi tempat untuk mendapatkan seseorang yang tulus seperti Rey? Tidak ada. Apalagi saat sekarang, lelaki yang tidak benar sedang marak-maraknya.
Aku bukannya mencintai atau menginginkan Rey. Tetapi lelaki baik, kenapa tidak! Setelah selesai dengan Abi. Aku mencoba menerima semuanya aku tidak ingin terus-terusan bersedih dan segera memulai hal baru.
Selain ia baik, semua yang mengenal Rey sangat mendukung hubungan kami. Aku tidak mengundang Abi, meski Rey pernah mengatakannya. Tidak apa-apa. Hanya, aku takut berubah pikiran jika aku bertemu lagi dengannya. Aku tahu Sarah sudah ke Jepang, Bagas yang memberitahukannya.
Meski ada seutas senyum saat mendengar itu. Tapi percayalah, aku menginginkan yang terbaik bagi mereka. Mereka pasangan yang cocok dan serasi. Pertemuan kami? Aku mulai menyadari itu adalah kesalahan.
Abimana yang sedang galau-galaunya, karena sang pengantin melarikan diri ditengah acara yang sedang berlangsung. Bukan salahnya ia memang butuh tempat untuk mengalihkan pikirannya karena masalah itu. Itu kesalahan Sarah juga, bukan Abi sepenuhnya. Aku memahami itu. Meski tidak membuat kenyataannya berubah bahwa mereka menyakiti hati banyak orang.
" Jadi kita benar tidak mengundang Abi dan Sarah ? ." tanya Rey.
" Tidak, kupikir mereka tidak bisa menghadiri acara ini, karena mereka cukup sibuk ."
" Baiklah, jika kau sudah memutuskan aku tidak bisa menolak ." Aku tersenyum mendengar perkataan Rey, ya, sejak dulu ia tidak pernah menolak perkataanku. Tidak ada yang berubah dari hubungan kami, bahkan, kami tidak memiliki panggilan khusus seperti pasangan lainnya diluar sana.
Rey tidak memaksaku untuk terburu-buru. Dan bersedia untuk menungguku meski aku tidak ada mengatakan apapun. Aku tahu, mungkin ia kecewa. Tapi Rey selalu meyakinkan bahwa ia sudah cukup senang sebab aku telah bersedia menerima hubungan ini meski aku tidak pernah menjanjikan apa-apa padanya.
" Rey, " panggilku.
" Iya ." ucapnya beralih menatapku.
" Terima kasih! ." ucapku lirih tetapi masih bisa terdengar. Ia tersenyum dan kemudian mengusap kepalaku dengan lembut. Ia kemudian beranjak dari dekatku dan sibuk memeriksa undangan yang telah kami pesan beberapa hari lalu. Aku senang jika orang itu adalah kamu, aku tidak perlu khawatir teman seperti apa yang akan menemani ku mengarungiku hidupku yang panjang ini.
__ADS_1
" Langit, kenapa senyum sendiri? ." tanya Bapak menghampiriku. Sementara aku tidak menjawab dan malah makin mengembangkan senyumku.
" Terima kasih, Nak. Sudah tersenyum seperti ini! ." tambah Bapak. Sebab ia adalah orang yang paling tahu bagaimana patah hatiku dan bagaimana aku melewatinya. Aku tersenyum memandang lelaki itu.
" Kau berjanji akan mencintainya, Nak? ." tanyanya lagi.
" Iya, Pak. Langit berjanji akan mencintainya sepenuh hati ." Bapak memelukku tepat setelah aku mengatakan itu. Ia menghujamiku dengan kecupan dikepalaku. Rencananya setelah menikah nanti, Rey tetap ingin tinggal disini, bersama aku dan Bapak. Ia bilang, jika ia tidak tega menjauhkan aku dari Bapak. Jika ada hal yang patut aku syukuri, maka kehadirannya adalah yang paling aku syukuri.
Bayangkan saja, tidak ada hambatan apapun untuk hubungan kami. Kami menikmatinya dengan sangat. Aku yang selama ini sibuk memikirkan pasanganku, ternyata yang dipilih adalah ia yang selalu bersamaku setiap hari. Rencana Allah itu sungguh indah, bukan?
\*\*\*
" Sarah, kamu nggak mau ketemu dan ngomong baik dengan Abi dulu ?." tanya Akari. Ya, ia sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar sekarang setelah setahun ini ia sibuk mempelajarinya.
" Udah enggak ada yang perlu kami bicarakan! ."
" Apa maksudmu? Kamu bahkan belum bertemu dengannya? Itu hanya satu tahun Sarah! ."
" Ya, itu hanya satu tahun, tapi satu tahun itu ia menghindariku! Mungkin kemarin aku melakukan kesalahan, tapi sekarang, aku akan belajar melupakannya disini! ." ucapku tegas menatap ke arah Akari. Mungkin benar, seharusnya aku menunggu lebih lama lagi, tapi menunggu dan didiamkan oleh seseorang itu tidak lebih baik dengan seseorang yang akan memakimu secara terus menerus.
Aku tidak suka menunggu, dan aku benci pekerjaan itu. Sebab itu aku memutuskan pergi. Mungkin disini aku bisa memulai semuanya kembali.
Telponku berdering tertanda dari Mama yang menghubungiku. Aku segera meraih benda itu dan menggeser tanda hijau kecil itu.
" Ya, Ma. Sarah udah sampai ." setelah itu tidak ada pembicaraan apa-apa lagi dan kami memutuskan sambungannya. Banyak yang terjadi setelah satu tahun ini, hubunganku dan Mama juga Papa yang semakin menjauh, merekapun sudah tidak sedekat dulu. Setelah aku dengar Papa memiliki wanita lain dari Mama dan ia mengetahuinya.
Mungkin itu yang membuatku tidak ingin terus berlarut menunggu Abi. Ya, Papa. Aku merasa semua hanya akan menjadi sia-sia. Lelaki yang memiliki Istri bagaimana ia bisa mencari bahagia dari wanita lain. Tanpa terasa bulir air mata jatuh membasahi pipiku dengan sendirinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama, seharusnya aku menemaninya sekarang dan menanyakan mengapa Papa melakukannya.
Siapa perempuan yang ia simpan itu. Apakah Mama mengetahuinya sejak lama? Apakah Papa berniat mengakhirinya atau tidak? Mengapa Papa melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan seputar itu seolah berlarian dikepalaku. Aku benci Papa jika ia terus seperti itu. Akari meminta aku pulang lagi saja ke Indonesia.
Ia memintaku untuk segera pulang secepatnya. Ia bilang jika yang harus aku lakukan sekarang adalah menemani mama. Sebab yang aku lakukan sekarang, hanya menghindar. Entah aku mengakuinya atau tidak.
Bersambung,...
__ADS_1