
Hari yang paling Papa juga Mama tunggu-tunggu akhirnya tiba. Meski aku mengurung diri, meski aku menyiksa diri untuk tidak makan, hari ini tetaplah terjadi. Aku tidak bisa mencegahnya. Aku sadari, aku bukan lagi putri kecil mereka yang setiap aku menangis juga aku mau, mereka selalu penuhi, tapi sekarang, mereka berjalan sendiri-sendiri.
Mereka yang bekerja di rumah pun sudah mengundurkan diri, sebab Mama sudah memberitahukannya sejak awal, bahwa mungkin Rumah kami akan diambil alih oleh istri barunya ayah meski mereka belum menikah, dan mereka memutuskan pergi, menurutku mereka menjaga perasaan Mama.
Mama dan Papa menghampiriku. Aku benci sekali hari ini, sebab putusan itu berarti sudah keluar dan mereka resmi sudah bercerai.
" Sarah, maaf. Ayah mungkin mengecewakanmu! ." ujar Ayah mencoba memegang tanganku tapi aku segera menjauhkannya.
" Kau sudah tidak mau berbicara dan melihat ke arah Ayah! ." Tambahnya kali ini dengan suara yang nampak parau.
" Untuk apa dia berbicara denganmu, menikahlah segera! ." Ucap Mama tiba-tiba yang sudah sejak tadi berbicara dihadapan kami.
" Entah kau meracuni Sarah dengan apa, tapi kuharap kau tidak menceritakan kebohongan, sebaiknya kau jujur pada anakku ." Ucap Ayah. Itu sukses membuatku menatap ke arah keduanya secara bergantian. Mama tampak gugup saat aku menatap matanya. Kemudian ia beralih seolah enggan mengatakannya.
" Cerita apa, Ma, Pa? ." tanyaku pada keduanya.
" Memangnya apa lagi, Ayahmu-lah yang bersalah ."
" Aku? Kamu memang sungguh tidak tahu malu. Atau kau ingin aku menceritakan semuanya disini, agar semua orang tahu ." Kata Papa. Entah mengapa, ini terasa sangat menyakitkan bagiku melihat perdebatan mereka berdua. Keluarga kami yang dulu hangat kini sudah menjadi asing. Semua mata memandang ke arah kami. Sementara Mama dan Papa masih terus saja berdebat tidak peduli dengan pandangan sekitar.
Perempuan yang kemarin kulihat bersama Ayah kini beralih mendekatiku dan menarik tanganku menjauh dari sana. Aku berusaha menepisnya tapi perempuan itu tidak peduli dan ia lebih mengeratkan lagi pegangannya pada tanganku. Mungkin karena disebabkan aku yang tidak bersemangat.
__ADS_1
" Lepaskan, apa yang kau lakukan! ." Sergahku cepat saat perempuan itu membawaku jauh dari tempat tadi.
" Ikuti aku, dan aku akan menceritakannya ." Balasnya tak kalah menatapku. Kami berhenti disebuah Cafe yang dekat dari sini. Ia memilih tempat duduk yang lumayan jauh dari pengunjung lain.
" Maaf, mungkin kau memang membenciku, tapi kau harus tahu yang sebenarnya dan bersikaplah yang dewasa! ." Katanya entah begitu penuh percaya diri. Aku tertawa mengejeknya.
" Bersikap dewasa katamu? Kau menghancurkan hubungan dan pernikahan orang tuaku, dan kau meminta aku untuk bersikap dewasa, tidak tahu malu sekali anda ." Balasku menatap marah perempuan itu.
" Aku tahu kau marah, tapi kupikir kau salah paham, aku tidak menghancurkan siapapun jika Ibumu tidak memulai semuanya! ."
" Hhhh, tidak menghancurkan katamu. Memangnya apalagi yang dilakukan oleh perempuan yang masih bersuami, kau bahkan sudah memiliki seorang anak yang usianya sama denganku. Apa tidak cukup puas? Lalu, apa yang ingin kau katakan tentang Ibuku? ." terlihat wanita itu menghembuskan nafasnya berat.
" Kau pasti mendengar itu dari Ibumu ." Ucapnya kini malah sambil tertawa.
" Apa maksudmu? Entah mengapa aku membuang waktu harus mendengarkan ucapanmu ."
" Lalu apa kau tahu jika Ibumu itu tengah hamil ? ." Tanyanya kali ini. Aku cukup tercengang mendengar penuturannya.
" Dan Ibumu itu yang pertama kali memiliki kekasih dan hamil, dan kau tahu siapa kekasihnya? Brondong! ." Tawanya lepas setelah mengatakan itu. Ya, aku tampak terkejut mendengar itu. Perempuan yang bernama Maya itu mengatakan jika Ibu juga berbohong tentang mengatakan jika ia masih memiliki seorang suami dan juga anak. Ia membenarkan jika ia pernah menikah sebelumnya tetapi suaminya meninggalkannya demi perempuan lain. Ia mempertegas dengan mengatakan jika ia tidak mungkin menghancurkan hubungan mereka jika ia sendiri tahu bagaimana sakitnya dikhianati. Ia juga memberitahuku jika ia memang memiliki seorang putri tapi ia tidak pernah bertemu lagi dengan putrinya sejak ia bercerai.
Ia meninggalkanku dan segera beranjak dari sini. Aku masih terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar. Bagaimana Mama melakukannya dan ia masih menyalahkan Papa? Aku tidak menyangka jika Mama melakukannya. Aku melihat ke arah wanita yang telah melahirkanku ini. Ia balas menatapku.
__ADS_1
" Aku sudah tahu semuanya, Ma. Mama yang memulainya! ." Aku tidak membiarkan Mama menjelaskannya, dan segera pergi dari sana setelah mengatakannya pada Mama. Ia tampak tak kalah terkejutnya dariku. Mama tampak gugup dan ia hanya diam saja. Aku tersenyum setelah mengetahui itu.
Tapi itu tak berarti aku lantas menjadi lunak, meski aku tak lagi menyalahkan Papa. Khianat dan hamil adalah hal yang tidak akan pernah bisa dimaafkan. Mungkin itu yang dirasakan Papa. Aku tidak membela Papa dan tidak juga menyukai alasan itu, tapi menyalahkan dan membenci Papa, adalah hal buruk yang seharusnya aku tidak melakukannya.
Papa memelukku dan aku pun balas memeluknya. Aku meminta maaf pada Papa, sebab ini terjadi mungkin juga karena salahku. Namun Papa menolak dengan mengatakan jika Mama sudah sering melakukan hal itu tapi kali ini Papa tidak bisa membiarkannya dan memutuskan bercerai.
" Tidak Sayang, ini bukan salahmu! ." Ujar Papa memberiku kecupan dikepalaku berkali-kali, tanda bahwa ia menyesal.
***
Disini aku juga bertemu Abimana. Ia turut merasakan dukaku dan mencoba menguatkanku. Aku tersenyum menanggapi itu. Kemudian aku berpamitan dari sana. Aku belum ingin bertemu siapapun saat ini. Aku hanya ingin sendiri dan mencoba menerima semua yang telah terjadi.
Akari benar. Aku memang harus disini, disini tempatku. Dengan aku ada disini, itu berarti aku juga sedang menguatkan Papa. Aku harus memberi Papa kekuatan sebab yang paling menyedihkan disini adalah Papa.
Entah kenapa, berpikir tentang Mama, itu membuat aku merasa bahwa aku persis sekali sepertinya. Berkhianat dan hamil, kemudian membuang bayi itu. Aku juga melakukannya. Sebab itu kah Mama mengerti dan memakluminya? Sebab ia sama sepertiku?
" Kalian tidak sama, Sarah. Yang terjadi padamu adalah sekilas masa lalu meski kau sempat akan mengkhianatiku tapi aku lebih dahulu mengetahuinya! ." Ucap Abi tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya yang sedang berjalan menghampiriku.
" Itu tidak sama, Sarah, dan ini bukan salahmu. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan mu ." Ucapnya menatapku sekilas kemudian beralih menatap ke arah lain didepan sana.
" Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini, sebab orangtuaku melakukannya lebih dahulu! ." Ucap Abi membuang nafasnya berat. Aku kembali teringat dengan cerita Jackson tentang Abimana kecil. Ia bangkit sendiri setelah Ayahnya pergi dan berjuang sendiri sebelum Ibunya mengambilnya.
__ADS_1
Benar, yang aku alami ini belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang dirasakan oleh Abimana kecil. Ia pasti menderita dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.
Bersambung,...