GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
56.pulang


__ADS_3

Hari ini gio dan Andini, akan segera pulang, gio sudah tak sabar, dua hari tak ketemu dengan bintang, serasa dunia nya berhenti, dia pun mencari baju dan banyak sekali oleh-oleh untuk anak kesayangan nya itu.


" pak ini gak kebanyakan?" tanya Andini takjub melihat banyak sekali mainan dan oleh-oleh.


" Tidak, itu semua untuk putra ku, nyawa pun akan ku beri asal dia bahagia." ucap gio langsung melangkah pergi.


" Ternyata, di balik sikap cuek mu itu, tersimpan rasa sayang yang begitu besar." lirih Andini dalam hati nya dan langsung pergi menyusul gio .


Mereka telah sampai di penerbangan, hanya keheningan yang mereka rasa.


" Pak kalau saya boleh tau, umur anak bapak udah berapa tahun?" tanya Andini memecahkan keheningan.


" Kenapa kau bertanya, apa urusannya dengan mu." ucap gio ketus.


" Dasar lelaki, bunglon yang bisa berubah sikap , kapan pun dia mau." maki Andini dalam hati.


" Tadi kau bertanya dan sekarang kau diam, dasar gadis bodoh." ucap nya sekali lagi melukai hati Andini.


" Kalau bukan karna mau di usir dari kontrakan, gue sih ogah, kerja sama bos batu kayak Lo." umpat Andini dalam hati.


" Tak usah mengumpat saya dalam hati, saya tau kau sedang mengumpat saya" ucap gio santai.


" Engggak kok pak, bapak ke PD an." Andini pun menutup mulutnya, dia sepontan berbicara seperti itu kepada gio tanpa berpikir panjang.


" Berani kamu ya."


" Hehhe engggak pak, maaf keceplosan." Andini pun menyengir, sambil membuat tangan berbentuk v.


" Apakah kau sudah memiliki kekasih?" tanya gio Masih dengan wajah dingin nya, Tampa menoleh ke arah Andini.

__ADS_1


" Ehem tumben ni bos, nanya, jangan-jangan kode ni, gak papa la nikah sama duda, duda nya masih muda oyy." girang Andini dalam hati.


" Blum pak." jawab nya.


" Oh betul berarti dugaan saya." ucap gio.


" Emang dugaan bapak apa." jawab Andini semangat.


" Kamu tidak laku." santai sekali gio mengucapkan nya, tanpa rasa bersalah, seandainya gio bukan bos nya, sudah habis wajah tampan nya itu Andini cakar.


" Bukan gitu, pak saya masih muda, jadi belum kepikiran mau cari pasangan." jawab Andini sebal.


" Inti nya, tak ada orang yang mau, dengan gadis jelek seperti mu."


" Seterah bapak saja." ucap Andini malas.


Andini pun memilih untuk tertidur, karna malas berbicara dengan gio, yang akan mengancurkan hati nya saja, oleh kata-kata pedas dari gio.


" Gio kau tidak boleh suka kepada nya gio, kau tertarik melihat nya, hanya kau melihat ada kemiripan saja, jangan sakiti, hati nya hanya karna kau menggap dia adalah Kania." nasihat hati nurani gio, gio pun memilih untuk tertidur bersamaan dengan Andini karna penerbangan masih sangat jauh.


Akhirnya setelah, perjalanan yang lumayan jauh, mereka pun telah sampai di Jakarta, hari masih sore dan gio pun menyuruh Andini untuk ikut, ke rumah nya dulu.


Mereka pun telah sampai di rumah dan benar sekali, malaikat kecil nya tengah tersenyum berlari mendekati mereka.


Tapi sayang nya, bintang terjatuh karna terlalu cepat berlari.


Gio pun langsung berlari kencang mendekati bintang " hiks hiks sakit pa, hiks sakit." gio pun gelagapan sendiri dan menggendong bintang untuk pergi ke rumah sakit.


" Hey kau mau kemana?" tanya Dinda dengan sedikit berlari melihat raut cemas dari anak nya yang baru pulang itu, di tambah dengan cucu nya yang menangis.

__ADS_1


" Bintang, jatuh mi, gio mau membawa nya ke dokter, gio takut terjadi apa-apa." jawab gio sangat cemas.


" sini nenek lihat, cup cup cup, cucu nenek cuma luka sedikit kok, nanti pasti sembuh." ucap Dinda menenangkan cucu nya.


" Ini luka kecil kok, gak kenapa-napa mana mainan untuk bintang?" tanya mami gio , gio pun membagikan nya.


" nah lihat papa Bawak apa banyak sekali mainan, Emang nya cucu nenek gak mau mainan nya." ucap Dinda membujuk bintang, bintang pun tersenyum lebar mau nek, dan mengambil nya lalu pergi bermain dengan semua mainan nya.


" Eh tunggu dulu, bilang apa sama papa" ucap Dinda, " makasih papa bintang." bintang pun mengecup pipi papa nya itu, seketika senyum gio pun mengembang bahgaia.


" uh pak gio senyum, ya Allah manis banget." ucap Andini yang sejak tadi memperhatikan mereka.


" kamu ganti baju dulu, biarkan Andini ikut bermain dengan bintang." suruh Dinda gio pun langsung pergi untuk mengganti baju.


" Hay bintang, boleh gak Tante ikut main." ucap Andini lembut.


" Engggak boleh, bintang gak mau, deket-deket sama Tante, bintang takut Tante ambil papa dari bintang hiks hiks." bintang pun menangis,hati Andini pun seakan di tikam oleh Duri , mendengar ucapan bintang.


" Eh-eh jangan menangis, Tante hanya orang yang membantu papa mu dalam bekerja, Tante gak akan mengambil papa mu ." ucap Andini membujuk bintang sambil Tersenyum.


" Benarkah?" tanya bintang lugu.


" iya sayang, Tante akan menjadi teman mu, okey dan jangan takut Tante tidak akan mengambil papa mu." Andini pun tersenyum tulus, bintang pun akhirnya tak menangis'lagi.


" cuma mama yang boleh, sama papa , bintang gak mau papa ninggalin mama." ucap polos dari bintang yang menyentuh, hati Andini " Dari mana kau bisa berpikir sepintar ini nak, kau saja masih sangat kecil." ujar Andini dalam hati, seketika air mata nya pun terjatuh sendiri.


" Tante jangan, menangis bintang sayang kok sama Tante sebagai teman binatang." bintang pun menghapus Air mata Andini.


Andini pun memeluk bintang sangat erat, gio yang melihat itu pun tersenyum" seandainya kau Kania, betapa bahgaia nya aku, melihat mu memeluk, anak ku." lirih gio pelan dan membiarkan mereka bermain.

__ADS_1


" Kania kenapa kau pergi secepat itu, lihat lah, aku rapuh Kania aku sangat ingin membesarkan bintang bersama mu, melihat nya memegang tangan kita berdua sambil tersenyum." gio pun menghapus air mata nya dan melihat putra nya bermain dengan Andini.


__ADS_2