GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
62.


__ADS_3

Gio dan Andini pun, telah sampai di tepi danau yang sangat indah, Gio pun memulai ceritanya sampai air matanya mengalir sendiri.


" Saya tau itu berat pak, tapi saya percaya bapak pasti kuat." Andini, mengusap lembut lengan gio, gio pun memeluk Andini sambil menangis.


" Apaboleh saya jujur?" tanya gio sambil menghapus air mata nya.


Andini pun menggangguk.


" Sejujurnya, saya tak pernah sedekat ini dengan wanita, dan saat bersama mu, saya merasa hati saya menghangat dan mungkin saya mencintai mu Andini." ucap gio sambil memandang wajah Andini, Andini pun terkejut, mendengar ucapan gio, pipi nya memerah karena malu.


" Apakah benar, pak saya takut bapak hanya mempermainkan saya," ucap nya sambil menundukkan kepalanya.


" Tidak Andini, saya serius dan saya sudah membulatkan pikiran saya, bahwa saya serius dan akan segera menikahi mu, kalau kau mau." ucap gio lembut sambil mengusap rambut Andini.


" Saya tau, pak bagaimana posisi Kania di hati bapak, dan mungkin saya akan berusaha menjadikan diri saya, bukan di hati namun di sisi mu pak." ucap Andini.


Mereka pun saling berpelukan, menikmati semua ke adaan.

__ADS_1


" Terimakasih, karna telah hadir." gio mengecup pipi, Andini dan terlihat wajah Andini yang terlihat malu.


Satu bulan telah berlalu hubungan mereka, dan terlihat sangat manis jika di bayangkan, dan acara pernikahan pun akan di segerakan besok.


Hari ini hari di mana sepasang kekasih itu tengah bahagia, karna telah mengikat status yang sah.


" Kau sangat cantik sayang." Gio di kamar setelah acara itu selesai.


" Kau juga sangat tampan."


Andini tau, malam ini akan menjadi malam yang sangat indah, di mana malam keramat yang di sebut dengan malam pertama.


Andini pun merasa heran sendiri atas tingkah suami nya itu, karna kelelahan, dia pun memutuskan untuk tidur, sedangkan gio dia telah pergi ke taman belakang.


" gue gak bisa, gue gak bisa, bayang-bayang Kania selalu muncul dan gue gak akan bisa nyentuh Andini maafkan aku Kania maaf, aghhh maaf Kania." Gio seakan seperti orang gila, yang habis akal, karna di bayangan nya hanya sosok Kania, Kania dan Kania.


Gio tidak mungkin menyentuh Andini meski Andini istri nya, karna bagi nya diri nya hanya untuk Kania.

__ADS_1


Gio pun memutuskan untuk tidur di sopa sambil memeluk baju Kania.


" Apakah salah, keputusan aku untuk menikahi Andini, ah sudah lah semua sudah terlambat." ucap nya dan langsung memejam kan mata nya.


Matahari telah memancarkan sinar nya, Andini pun bangkit di tidur nya, dan terlihat gio Yang memeluk baju Kania.


"terasa sakit namun sulit, ternyata kau sangat jauh Andini," Andini pun menghapuskan air mata nya, yang menetes sendiri dan berusaha untuk tersenyum dan membangunkan gio.


" Sayang bangun." Gio pun terbangun dan terlihat wajah cantik istri nya itu.


" Kau sangat manis." Gio pun mengecup pipi Andini.


" Apakah boleh aku berharap, bahwa diri mu akan benar-benar mencintai ku sayang." ucap Andini dalam hati nya.


Gio dan Andini pun telah menyiapkan, barang nya untuk pindah ke rumah baru nya.


" Pa kenapa kita gak di sini aja sih." rengek bintang karna tak mau pindah.

__ADS_1


" Sayang, besok mami ada, kok yang nemenin bintang, jadi bintang gak kesepian lagi pun kita setiap Minggu ke sini." pujuk gio dan akhirnya bintang pun mau.


Bintang sangat dekat dengan Andini mungkin, rasa yang tak pernah dia rasakan ada di Andini yaitu peran seorang ibu.


__ADS_2