
Anak Gio dan Kania, bintang Pratama
" Papa," panggil bintang, sambil memeluk gio.
" iya Kenapa sayang nya papa"
" Papa, gak akan ninggalin bintang kan, ?" tanya bintang.
" ya engggak la, engggak mungkin papa, ninggalin jagoan kecil papa ini." ucap gio sambil mencubit hidung bintang.
" Papa nanti datang kan, nanti kan bintang mau lomba?"Bintang bertanya, karna melihat papa nya ini hendak pergi kerja.
" Pasti datang, gak mungkin engggak kan acara nya jam 8, nanti papa jemput bintang, papa ke kantor bentar ya sayang."
" siap bos." ucap bintang sambil tersenyum.
Gio pun mencium, pipi anak nya itu dan segera pergi ke kantor.
" Pagi pak." sapa para karyawan di setiap gio berjalan, namun hanya anggukan saja, tanpa senyuman.
" Idih, sok banget gaya nya, kalau enggak gara-gara mau di usir dari kosan, gak mungkin gue mau kerja sama bos sombong kayak dia." omel Andini dalam hati, ya hanya dalam hati karna bagaimana pun Andini juga takut.
Andini pun masuk, karna gio menyuruh nya untuk membacakan kegiatan nya hari ini.
Andini pun duduk namun " Siapa yang menyuruh kamu duduk." ucap gio ketus, Andini pun segera berdiri, dengan hati yang rak karuan.
" Silahkan duduk." perintah gio dingin.
" Astagfirullah, ya Allah astagfirullah gue kunyah juga ni bos lama-kelamaan sabar dini sabar baru sehari ." omel Andini dalam hati nya , sambil menarik napas.
" Tak usah mengumpat saya dalam hati." ucap gio dingin.
" Lah-lah kok bisa tau, gue curiga ni bos punya ilmu hitam, pantasan dingin banget , adik nya limbat mungkin." ujar Andini hanya dalam hati.
" Cepat, bacakan saya tidak suka orang yang terlalu banyak bengong."
" Hari ini, bapak ada pertemuan di hotel, purna untuk membahas proyek yang akan di bangun di Bali jam 10 pagi dan akan di lanjutkan untuk pembelian tanah dengan, perusahaan pak Irfan dan.."
" Sudah, batalkan semua nya , kamu terlalu lambat membaca nya." omel gio, padahal kan Andini baru bekerja seharian, mungkin kesalahan memang sering terjadi .
" Tapi pak ini merupakan"ucapan Andini terpotong karena gio memotong nya.
__ADS_1
" Saya bilang, batalkan ya batalkan." Bentak gio ," Dan kamu boleh keluar"
Andini pun keluar dengan ke adaan dongkol, " Untung Lo ganteng pak, kalau enggak, udah gue cakar tu wajah kutub Lo."
" Apa kamu mau mencakar wajah saya, baru satu hari kamu berkerja sudah pandai, menjelek-jelekkan saya." ucap gio tanpa dosa, karna dia juga ikut keluar, bersamaan dengan Andini.
" Bapak, " Kejut Andini" maaf pak" cicit Andini pelan.
" Cepat ikut saya, " perintah gio langsung pergi jalan duluan dan di ikuti oleh Andini.
Mereka pun pergi menjemput bintang.
" Papa" Teriak bintang girang.
" Ha papa, siapa yang jadi papa." bingung Andini, namun hanya dia pendam di dalam hati pertanyaan nya.
Gio pun langsung mengangkat bintang berada, dalam gendongan nya.
" Udah siap, jagoan papa."
" Siap bos"
" Ha pak gio udah punya anak, muda banget ***** anak nya juga ganteng banget gemesin" ujar Andini pelan.
" Dia hanya sekretaris papa"
" Hy kenalin nama aku Andini." ucap Andini mendekati bintang namun tak ada jawaban dari bintang.
" Maafkan anak saya emang begini." ucap gio dan di anggukan oleh Andini.
Mereka pergi ke sekolah, bintang yang merupakan acara perpisahan Taman kanak-kanak dan di acarakan lomba sebagai perpisahan dan lomba nya pun tergantung kemampuan anak itu sendiri.
Mereka telah sampai dan lihat saja, sangat ramai Manda Galang dan Dion pun ikut serta, begitu pun dengan kakek dan nenek bintang, yang mau melihat cucu nya mengikuti lomba.
" Kakek, nenek." ucap bintang berlari ke pelukan mereka.
" Jagoan Kakek udah siap." ucap Erik .
" pasti dong Abang bian mana kek?" tanya bintang tak melihat bian, aneh dengan sebutan Abang memang aneh, sebenarnya kan oom namun bian mengamuk tak mau di panggil oom karna kesan nya dia sudah tua , memang aneh anak Erik yang satu itu.
" Dia gak ikut sayang, kan sekolah." sambung Dinda mencubit pipi cucu nya itu.
Mereka pun langsung duduk di kursi penonton , sejujurnya Andini merasa risih, di dekat mereka karna mereka selalu menatap nya aneh.
__ADS_1
" Dia siapa gi." tanya manda tak suka, walaupun mungkin gio berhak mencari yang lain, tapi Manda merasa tak iklas saja, orang yang di sayang oleh sahabat nya menjadi milik orang lain.
" Cuma sekretaris manda, Lang bini Lo ni serem." goda gio Manda pun mencubit lengan gio.
" Pak gio beda banget, dengan orang lain kalau sama orang terdekat nya, dia menghangat apalagi sama wanita judes nya minta ampun." ucap Andini takjub entah apa yang membuat nya seperti ini "dan istri nya , gue juga gak melihat dari tadi." banyak pertanyaan yang ada di pikiran Andini.
" Baiklah kita lihat penampilan dari bintang yang akan membacakan puisi yang berjudul mama ku bintang ku mana tepuk tangan nya." ucap guru di atas panggung dan mereka semua pun bertepuk tangan kencang.
Gio pun tersenyum ke arah bintang untuk menyemangati nya.
Mama ku bincang ku
Kau menemaniku di kala , gelap malam walaupun hanya sebatas sinar
Kau penyemangat ku di kala aku sedih walaupun aku hanya bisa memandangi langit, karna kau berada di sana.
Kau mama yang sangat kuat
Dan kata papa , mama adalah segalanya
walaupun diri ku tak pernah melihat mu.
Sinar itu selalu ada di kala kegelapan yang selalu menemani ku ya dia adalah mama ku , aku dan papa sangat menyayangi mu
teruntuk mama ku, Kania.
Bintang membacakan puisi yang ada di otak nya tanpa teks walaupun, bicara nya agak sedikit cadel.
Gio pun berdiri menghapus air mata nya bertepuk tangan dan mereka semua yang ada di sana pun bertepuk tangan haru , semua nya meneteskan air mata termasuk Andini, terjawab sudah pertanyaan yang ada di otak nya.
Gio pun langsung berlari mendekati anak nya sambil bertekuk lutut memeluk bintang kecil nya itu, gio sangat bangga apa lagi kalau mama nya melihat ini pasti Kania sangat senang melihat putra nya sepintar ini.
kakek dan nenek nya pun beserta oom dan tente nya berlari mendekati bintang sambil menghapus air mata nya.
Adiba pun ada di sana, dia selalu melihat cucu nya dan sekali-sekali mengajak nya jalan gio tak keberatan karna memang itu kakek dari bintang.
" Nak terimakasih kau telah melahirkan, pria kuat seperti dia, sipat nya tak jauh beda dari putri ku. " ucap Adiba bangga dan memeluk cucu nya itu.
" Jagoan Kakek memang sangat pintar, " adiba pun menggendong, bintang nya dan memulai berbicara.
" Hay semua nya, lihat lah pria kecil yang membacakan puisi ini adalah cucu ku, cucu yang sangat kuat seperti mama nya, apakah kalian semua tau, anak ku adalah wanita kuat yang tak pernah mengeluh dan lihat lah dia melahirkan malaikat kecil ini dan terimakasih semua nya, terutama untuk cucu kesayangan ku bintang Pratama cucu dari Adiba Pratama."
Ucap Adiba gio Yang melihat itu pun tersenyum, mereka semua bertepuk tangan sangat kencang.
__ADS_1
" Bintang cayang kakek." bintang pun mengecup pipi kakek nya itu, terlihat jelas, raut kebahagiaan dari Adiba, semua akan dia lakukan demi cucu tersayang nya ini.