GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
61.


__ADS_3

" Apakah aku boleh berharap, sejujurnya aku takut, akan pengharapan ini, aku takut terjatuh ke dalam harapan yang aku buat sendiri, aku takut hati ini akan terluka terkadang terlalu berharap aku takut harapan itu yang akan mematahkan nya." Andini pun berjalan dari lamunan nya, Karna semakin banyak berpikir, nanti nya dia akan kalah akan pikirin dan hati nya, yang telah mengakui bahwa dia mulai mencintai bos nya itu.


Sedangkan gio sama hal nya dengan Andini, dia tak henti-henti nya, memikirkan apa yang terjadi kepada hati nya, dia takut mengambil keputusan yang salah, di mana dia selalu melihat Andini sebagai sosok Kania, dia takut untuk menyakiti, hati Andini namun entah lah gio juga bingung.


Siang ini, gio dan Andini akan pergi, ke rumah sakit Karna ada rekan bisnis nya yang kecelakaan gio pun mau menjenguk nya, karna telah lama mengenal baik orang itu.


" Terimakasih, kamu sudah mau menemani saya." ucap gio dengan santai .


" Sama-sama pak, itu bukan hal besar untuk bapak." jawab Andini.


" bapak sakit?" tanya Andini melihat wajah gio yang memerah.


" Tidak saya tidak apa-apa." Jawab gio cepat dan berusaha bersikap untuk terlihat santai.


" AH DASAR KOK, BISA-BISA NYA, GUE SALTING APA LAGI SAMA SEKRETARIS SENDIRI." ucap gio tak habis pikir, kok bisa-bisanya pipi nya memerah hanya mendengar ucapan sederhana dari Andini.


Mereka pun, langsung memasuki rumah sakit dan tak sengaja mendengar, lelaki yang sudah tua itu berbicara kepada dokter, " Lakukan lah yang terbaik dok, semoga dia segera sadar dan jika dia telah sadar dari koma nya, bagikan ini kepada nya." Kakek itu pun menyerahkan sebuah cincin dan surat kepada dokter, dokter pun menggangguk .


" Seperti nya gue kenal tu cincin ." ujar gio yang tak sengaja melihat, kakek itu memberikan cincin dan mendengar sedikit percakapan nya dengan dokter.

__ADS_1


" Bapak kenapa?" tanya Andini heran melihat gio yang sangat pokus melihat mereka.


" Eh tidak apa-apa, ayo lanjutkan jalan nya." Gio pun melanjutkan dan telah sampai di ruangan rekan bisnis nya itu.


" PASTI MASIH BANYAK ORANG YANG MEMAKAI CINCIN SEPERTI CINCIN NIKAH GUE SAMA KANIA, TAPI KOK ADA YANG ANEH YA, PERASAAN GUE JADI GAK ENAK, TAPI SUDAH LAH, LUPAKAN SAJA." gio pun berusaha bersikap, seakan dia tidak memikirkan apa-apa dan ikut bercanda dengan rekan bisnis nya itu.


" Setelah ini kalian mau kemana lagi pak gio?" tanya orang itu.


" langsung kembali ke kantor, saja setelah makan siang" jawab gio.


" Kalian berdua sangat cocok." ucap pria itu sambil terkekeh.


Deg.


" Ah anda bisa saja." ucap gio terkekeh.


Mereka pun, telah pulang dan akan makan siang, di cafe terdekat karna sudah merasa sangat lapar, namun di saat mereka makan dia bertemu dengan bela adik tiri Kania, yang ikut dalam, rencana pembunuhan itu.


" Hay kakak ipar kita ketemu lagi." sapa nya sambil tersenyum dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


" Singkirkan tangan mu dari tangan ku wanita kotor, dan jangan pernah tampak kan wajah mu di depan saya, atau kau akan mendekam di penjara untuk yang ke dua kali nya." ucap gio dan langsung pergi meninggalkan, bela dan Andini sedangkan Andini hanya terdiam heran dan langsung mengekor gio, padahal mereka belum memakan Semua makanan nya.


Gio terlihat sangat marah, terlihat dari tangan nya yang mengepal kuat, dan rahang nya menegas, " Wanita licik, gue gak akan buat hidup Lo tenang, setelah apa yang Lo lakuin ke Kania, gua gak akan tinggal diam" ucap gio sambil memukul setir mobil nya,


Andini pun hanya diam, dan tak berani untuk mengeluarkan suara, pasal nya, dia tidak pernah melihat gio sampai semarah ini.


" Pak anda harus tenang." ucap Andini gugub.


" Diam kau." bentak gio, Andini pun seketika terdiam, gio membentak nya, padahal Andini tak salah, tapi Andini juga, tak merasa takut karena terlihat dari mata nya, gio sangat kecewa dan entah masalah apa yang membuat nya menjadi sangat emosi hanya dengan bertemu wanita tadi.


" maaf" lirih gio pelan.


Andini pun menggangguk.


" Pasti kau heran, ?" tanya gio, dan Andini pun mengangguk.


" Tapi saya tidak berhak untuk, mencampuri masalah pribadi bapak." ucap nya hormat.


" Tidak kau perlu tau, nanti akan saya jelaskan semuanya." Gio pun sedikit merasa tenang melihat Andini yang berada di sisi nya, sambil tersenyum.

__ADS_1


" apakah keputusan gue benar untuk menceritakan smua nya kepada Andini, semoga saja ini keputusan yang tepat."


Gio pun melajukan mobil, nya untuk pergi ke suatu tempat.


__ADS_2