
Andini telah pulang ke rumah nya, dan memandang diri nya sendiri di depan cermin " ya Allah capek banget " keluh Andin " kok gue aneh ya, setiap kali dekat pak gio, bawaan jantung ni gak beres, apa ke dokter aja, takut nya mati muda ni penyakit jantung." ujar Andini di depan cermin.
" Tapi di pikir-pikir pak gio tampan banget, apalagi bibir nya, manis banget ya Allah hehe aghhh ." Andini pun memukul kepala nya, yang sudah ngelantur ke mana-mana.
" Kelamaan jomlo ni kan jadi gini." oceh Andini kepada diri nya sendiri.
" tapi pak gio baik juga, kok bisa mahasiswa kayak gue di terima di perusahaan nya, jadi sekretaris lagi , ya tapi terpaksa gue berhenti kuliah dulu, demi kerja, kalau gak kerja mau makan apa ni perut." Andini tak henti-henti nya berbicara kepada diri nya sendiri.
Ayah dan ibu Andini telah meninggal, sejak dia kelas 2 SMA dan dia memulai hidup mandiri, dengan mengontrak karna rumah nya telah di miliki oleh paman dan bibik nya , dengan alasan tanah ini tanah nenek nya, sehingga Andini pun di usir dan mengontrak.
" ah udah lah Andini mending Lo tidur, besok pagi kerja dan siap-siap hati Lo, Nerima Omelan dari bos bunglon , dari pada mikirin dia terus, " Andini pun memutuskan untuk segera terlelap, karna tubuh nya yang juga sangat capek.
sedangkan di sisi lain gio tengah senyum-senyum sendiri, atas semua kejadian belakangan ini, dia merasa kalau Andini, hadir dan mengisi ke kosongan hidup nya, dengan sebagai sosok Kania di mata gio.
" Lo itu, ceroboh, bawel mirip banget sama Kania, hati gue yang beku ini sedikit mencair karna kamu Andini." ujar gio sambil menghayal dengan senyuman nya .
" selama ini, rasanya tak ada perasaan aneh ini, tapi semenjak kamu hadir, kok jadi aneh, sadar gio sadar dia bukan Kania, dia Andini, ingat cinta Lo cuma buat Kania, " gio pun memukuli kepala nya supaya sadar dan tidak seperti orang gila yang tengah senyum-senyum sendiri, seperti orang pertama kali jatuh cinta.
" Lo itu udah duda gio , jangan kayak bocah, yang baru mengenal cinta, anak aja udah gede noh." omel gio kepada dirinya sendiri.
Gio pun memutuskan untuk tidur jika tidak, mungkin dia akan gila karna tak henti-henti nya, membayangkan Andini dan bayangan yang selalu menghantuinya yaitu Kania.
Gio pun membuka layar handphone nya dan mencium Poto Kania, dan tertidur dengan memeluk baju Kania.
Gio telah terbangun dan langsung pergi ke kamar, jagoan kecil nya, hanya untuk mengecup kening nya dan langsung pergi menuju ke mejah makan untuk sarapan.
" Hay mami." sapa gio melihat mami nya tengah membuat sarapan.
" Hay juga sayang." sapa mami gio balik.
" bang mami boleh nanya gak?" tanya mami gio.
" boleh kok mi, mau nanya apa."
__ADS_1
" Abang suka ya, sama Andini , Hem anak mami udah mulai jatuh cinta lagi ni, gak papa sayang, Kania pasti ikhlas kok melihat kamu bahagia, ikhlas kan, dan buka hati kamu, lagi pun Andini terlihat gadis yang cantik dan juga baik."
ucap mami gio, menggoda anak nya itu, karna melihat ada hal aneh di saat gio menatap Andini.
" Apaan sih mi gak jelas banget." ucap gio sambil cemberut.
" Apa iya, gue jatuh cinta, tapi gue cuma lihat ada sosok Kania, bukan Andini, ayolah gio kamu ini kenapa." rutuk gio dalam hati ny.
" gak usah malu , bang mami sih yang terbaik aja."
" Bukan gitu mi, gio melihat di sosok Andini itu ada Kania, karna itu lah hati gio sedikit menghangat, apalagi melihat sifat dia sangat mirip dengan Kania." ujar gio jujur, dan mengutarakan isi hati dan kebingungan nya.
" Gak boleh gitu sayang, kalau kamu memang sudah mulai tertarik dengan Andini, kamu terima dia sebagai diri nya, sendiri bukan melihat dia sebagai sosok Kania, Kania udah tenang nak, ikhlas kan ." ucap mami gio sambil mengelus Punggung anak nya itu.
Gio pun mengangguk" gio usahain mi." ucap gio sambil tersenyum.
" mami." rengek raja baru bangun tidur, raja adalah adik bungsu gio, yang tak jauh dari umur anak nya.
" hey boy, kau itu sudah besar, masih saja menangis." ejek gio kepada raja.
" kau yang sampai kelas 1 SMP selalu menangis' setiap bangun tidur, saja mami maklumi." ucap Dinda sambil tertawa.
" mami lupakan lah , gio malu." ucap gio langsung memeluk mami nya.
" Yaudah dada, Abang pergi dulu." gio pun segera pergi ke kantor .
" Pagi pak," sapa Andini, namun gio hanya melewati nya saja, Tampa menjawab sepatah kata pun.
" Dasar bos bunglon" maki Andini dengan suara pelan takut gio mendengar nya.
" Andini pun , mengikuti gio dari belakang dan memasuki ruangan gio untuk membacakan jadwal hari ini.
" kau bisa membacakan dengan jelas tidak, kau seperti orang gagap saja." ucap gio ketus.
__ADS_1
Andini pun segera mengontrol diri nya supaya tak, marah karna telah di maki gio dengan sebutan gagap.
" Iya pak." lirih Andini dan membacakan dengan benar.
" baiklah kau pergi ke ruangan mu." suruh gio, Andini pun langsung pergi ke ruangan nya.
Di saat, Andini berjalan untuk ke ruangan nya dia bertemu dengan seseorang pria, yang sudah seperti sahabat nya sendiri.
" Wah Vano." ucap Andini girang dan memeluk Vano.
" Andini." vano pun membalas pelukan, Andini.
" Lo kenapa kemari?" tanya Andini.
" Gue cuma mau, tanda tangan kontrak sama pak gio aja." ucap nya sambil tersenyum.
" wah udah lama gak ketemu, Lo udah jadi CEO aja. girang Andini.
" Jelas dong, modal biar nikahin kamu besok." ujar Vano menjahili Andini.
" kau ini tak berubah." Andini pun, langsung mengajak Vano Untuk bertemu dengan gio, karna sudah ada janji.
Setelah, selesai menandatangani kontrak, Andini pun tak lepas tersenyum, ke arah Vano, sedangkan gio, hanya menatap dengan, dingin.
" Kerna telah selesai, pergi lah dan bawa kekasih mu itu, saya bosan melihat nya tersenyum." ujar gio ketus, mereka pun segera pergi ke luar.
" apakah dia cemburu?" tanya Andini kepada hati nya.
sedangkan gio, merasa kesal sendiri melihat Andini tersenyum tak henti-henti nya, yang ada di bayangan nya, Kania tengah tersenyum manis kepada pria lain.
" mungkin saja aku ini sudah gila." ucap gio kepada diri nya sendiri.
hy gys alur nya di ubah dan up sebelum ini telah di hapus ya
__ADS_1