
Aku cukup lega dengan keputusan yang di ambil eza untuk cuti beberapa hari dan membantuku di sini. Paling tidak, aku tak perlu lagi bersusah payah memikirkan segala perintilan pernikahan sendirian. Hari itu aku menjemputnya di bandara dengan membawa anakku, Eza mengajukan cuti seminggu, kami mengurus semua persiapan pernikahan berdua. Aku lega sekali saat ini, satu yang menjadi harapanku di pernikahanku ini, agar menjadikan pernikahan ini yang terakhir untukku. Karena aku tak ingin gagal lagi Tuhan...
Kami bertiga pulang dari babdara menuju ke rumah, tak lupa kami mampir ke M*D untuk makan malam Ku perhatikan eza terlihat semakin akrab dengan anakku. Beberapa hari ke depan kami akan melewati kebersamaan, tepatnya seminggu kedepan. Aku ingin di waktu yg singkat ini kami bisa menyelesaikan segala urusan pernikahan lalu sesekali bertamasya. Dalam hatiku yang terdalam aku hanya berharap, agar dengan tulus dan iklas eza menerima anakku, karena sejujurnya aku masih sangat ragu. Aku takut suatu saat eza berubah dan meninggalkan kami.
__ADS_1
Dan lagi pikiranku masih di penuhi tentang fahri, aku kerasa bersalah. Karena bapakku dia berhenti dari pekerjaannya dan pulang kampung. Sampai kini aku tak bisa melupakan karena perasaan bersalah yang teramat dalam.Tapi... masalah hati yang gunda ini mungkin nanti dengan sendirinya aku dapat melupakan fahri lambat laun, Entah butuh waktu berapa lama yang jelas tak semidah membalikkan telapak tangan. Kini hari pernikahanku dan eza semakin dekat, dan tak terasa sudah seminggu aku bersama eza, cuti dadakan yang di ajukan sudah habis.
Sudah waktunya dia kembali untuk menuntaskan segala urusannya di kantor. Lalu setelah itu akan kembali lagi pulang ke kotaku di hari pernikahan kami yang akan di adakan dua minggu lagi. Malam itu kembali ku antar Eza ke bandara, untuk kembali ke luar pulau. Namun pesawat yang akan di tumpangi eza delay... sehingga kami menghabiskan waktu untuk makan malam di sana. Tak terasa sudah sejam dan terdengar informasi pesawat segera datang.
__ADS_1
Di situ kami mengobrol singkat, dan tak lupa ku sampaikan permohonan maaf mewakili bapakku. Aku pun bercerita padanya tentang pernikahanku dan eza, paling tidak agar ada bahan omongan menghilangkan rasa canggung. Ku katakan padanya semua rencana pernikahanku, waktu pernikahan dan lain-lain. "Semoga dia lebih bisa membuat mu bahagia di banding kan aku" kata fahri untuk menghentikan ocehan ku yang mulai ngelantur, karena kehabisan bahan. Air mataku menetes begitu saja, aku tau perasaannya sangat kecewa bahkan marah.
Fahri ituuuu orang yang sederhana, tinggi putih dan berisi. hhhmmm... type cewe banget deh pokonya, bahkan dia itu wangiiiiii banget.... walaupun ga pernah pake parfum. Kami teman masa kecil... dia berasal dari jawa tengah, putus sekolah lalu merantau ke sini untuk bekerja sebagai buruh di pabrik/perusahaan perorangan, mungkin karena itu orang tua ku tak pernah memberi restu.
__ADS_1