
" Gak, mungkin gue cemburu liat Andini senyum, kan ***** dia tu cuma sekretaris Lo gio sadar, dia Andini bukan Kania." Gio tak henti-hentinya, mengomel diri nya sendiri karna merasa ada yang aneh , sejak Andini tersenyum manis kepada Vano , gio pun memutuskan untuk pulang, karna sudah mulai, larut malam.
" Bapak belum pulang?" tanya Andini ternyata gio masih ada di kantor.
" Kamu melihat saya kan di mana saya sekarang? tanya gio ketus.
" Di kantor pak." jawab Andini polos, karna memang benar kan gio masih di kantor.
" kalau kamu lihat saya masih di kantor berarti saya belum pulang dasar bodoh." gio pun pergi melewati Andini begitu saja, sedangkan Andini menggeram kesal.
" Kan cuma mau basa basi aja, lain kali gak usah sok akrab sama tu bunglon Andini." omel Andini sambil, menyiapkan barang nya untuk pulang.
Andini pun, pergi berjalan menuju jalan pulang, kantor telah sepi karna, banyak karyawan Yang sudah pulang.
" Yah ni kancing baju kok bisa lepas sih." omel nya , karna kancing baju atas nya terlepas entah ke mana .
" Andini!" panggil gio di depan kantor.
" Ya Kenapa pak, ada yang bisa saya bantu." ucap nya sopan, meski dalam hati, sangat kesal , namun apa daya kerja di perusahaan orang.
" Pulang bareng saya." ucap nya dan langsung memasuki mobil.
" Tapi pak." protes Andini, kan betul, ni bos bunglon bisa berubah kapan aja.
" Gak ada penolakan, atau gaji kamu saya potong." ucap nya ketus Andini pun akhirnya pasrah dan memasuki mobil.
" GILA NI BOS , MANA ADA ORANG GAK MAU PULANG BARENG, GAJI DI POTONG KAN ANEH ," Geram Andini dalam hati nya.
__ADS_1
Gio tak sengaja tersenyum, melihat Andini yang pasrah saja namun dia melihat, kancing baju Andini terbuka, dia ini masih normal jadi agak aneh melihat nya, apalagi sudah lama tak bercinta.
" Kamu kalau mau menggoda saya jangan seperti itu."
Andini pun menepuk kepala nya , dia lupa kancing atas ny telah hilang , ayolah Andini sangat malu dan menutupi nya, sambil tersenyum hambar.
" Aku mau tenggelam, aku ikan aku ikan." ucap nya dalam hati , entah lah Andini sangat malu.
Gio pun menggelengkan kepalanya, gio pun telah mengantar Andini dan langsung pulang ke rumah, dan ternyata bintang tak bisa tidur dan selalu memanggil mama nya.
" Kenapa mi?" tanya gio cemas.
" Badan nya panas, dan dia dari tadi manggil mama nya" jawab Dinda menggendong bintang.
"Daddy sekarang lagi di luar kota, jadi mami sendiri yang merawat nya." jelas Dinda sekali lagi.
" Mama, hiks mama mama." tangis bintang kunjung diam, entah dapat pikiran dari mana, gio pun menelpon Andini dan menyuruh nya untuk ke sini, karna kontrakan nya tak terlalu jauh dari sini.
Andini pun merutuk sebal, tapi dia tetap ke sana.
" Hey sayang kamu kenapa?" tanya Andini kepada bintang.
Bintang pun langsung memeluk Andini dan berhenti menangis, Andini heran sendiri, dulu dia sangat membenciku tapi sekarang mengapa dia diam dengan ku, pikir Andini dan setelah lama menggendong bintang akhirnya bintang pun tertidur pulas.
" Terimakasih." ucap gio, Andini pun jengah ternyata bisa juga bos nya ini berterimakasih.
" sama-sama pak."
__ADS_1
" Maksih ya nak, " ucap mami gio " bang, antar Andini pulang ini udah malam, pasti dia capek." Gio pun mengantar Andini " Sekali lagi saya berterimakasih." gio pun langsung pulang dan segera tidur.
" Tumben bintang, menangis memanggil nama nya dan aneh nya dia bisa diam hanya di gendong Andini, apa betul bian merasakan ke samaan seperti gue." ah sudahlah, terlalu banyak berpikir, membuat gio mengantuk dan tertidur.
Satu bulan telah berlalu dan hari ini tepat 6 tahun pernikahan nya dengan Kania, dia pun memutuskan untuk pergi ke makam Kania, bersama dengan bintang putra nya.
" Assalamualaikum sayang, " ucap gio di depan makam Kania.
" Lihat lah sayang , tak terasa sudah 6 tahun kita bersama, rasa dan cinta ini masih sama tapi mengapa kau datang dalam mimpi ku, tersenyum melihat ku bersama Andini, tolong beri aku jawaban, apakah kau merestui jika aku bersama Andini, yang ada dalam bayangan ku Andini adalah sosok diri mu, happy anniversary yang ke 6 tahun, aku sangat merindukanmu, kau tau aku sangat tersiksa atas kepergian mu , aku rapuh aku hiks hiks aku sangat merindukanmu, lihat lah sayang jagoan kecil kita, sangat tampan apakah kau tak mau melihat nya tumbuh dewasa, hiks hiks Terimakasih karna telah meninggal kan jagoan kecil sekuat bintang." Gio pun menghapus air mata nya .
" Ayo sayang sapa mama , pasti mama rindu." suruh gio.
" assalamualaikum mama, bintang sekarang udah gede, bintang sekarang udah belajar solat sama kakek, bintang mau doa in mama, supaya mama ingat terus sama bintang, tunggu bintang di surga ya ma, bintang juga mau ngomong kalau sekarang bintang punya Tante Andini yang selalu baik sama bintang, tapi papa gak akan kok ngelupain mama bintang janji."
Gio pun memeluk anak nya erat dan air mata nya tak henti-henti nya terjatuh, hati nya seakan melemah, terharu atas ucapan anak nya.
Seandainya Kania masih hidup, pasti dia sangat bawel dan selalu memarahi nya jika membuat anak nya menangis, " aku sangat ingin membesarkan bintang bersama mu, seperti yang kita inginkan dulu, tapi Allah telah berkata lain .
" bintang, apakah bintang tau, mama itu sangat sayang sama bintang, nyawa nya pun dia beri asalkan bintang bisa bahagia, mama bintang itu bidadari yang sangat cantik, dan baik." ucap gio bintang pun tersenyum.
" Bintang bangga memiliki mama, secantik mama Kania." Gio pun menggendong bintang dan pergi pulang .
*kepergian mu , akan ku ikhlas kan
Karna ku tau, dengan cara meng ikhlas kan lah kau akan bahagia
- Garis takdir*-
__ADS_1