GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
Nikmatnya Menjadi Ibu


__ADS_3

Tibalah dimana aku merasakan kontraksi, hhmmmm sakit memang. Tapi ini sakit yang di tunggu-tunggu, dalam keadaan sakit luar biasa aku terkejut. Karena tidak biasa-biasanya wawan memperhatikanku. Mungkin dia mulai berubah saat anaknya akan lahir, dia mengantarkan ku ke klinik bidan praktek yang jaraknya dekat dengan rumah. Sudah pembukaan ke dua, bidan yang menanganiku meminta untuk menunggu di kliniknya. Wawan sibuk mengabari Ibu,Bapak dan kerabatnya. Sementara di klinik sudah ada ibu bapakku, entah bagaimana saat itu wawan menemaniku dengan sabar. Ya Tuhan aku berharap tak akan berakhir saat-saat seperti ini.


Saat orang tua wawan tiba, di situlah wawan kembali menjadi pria menyebalkan, dia di larang oleh ibunya untuk mendampingiku. Aku kecewa, aku ingin wawan menyaksikan semua agar nanti tak ada lagi alasan untuk nya menghinatiku. Agar dia paham perjuangan perempuan yang melahirkan itu seperti apa, dan berfikir ulang untuk mempermainkan perempuan. Tapi itu semua di hancurkan oleh mertuaku sendiri, ibunya wawan. Beliau melarang wawan menemaniku saat melahirkan, beliau menyuruh wawan keluar, alasannya "biar wawan sama ibu di luar, kasian dia lihat darah-darahmu". Sungguh ku ingin berkata kasar pada mertuaku.

__ADS_1


Sakitnya kontraksi membuatku tak terlalu memikirkan tentang wawan dan ibunya itu. Aku di temani ibuku pada proses melahirkan bayiku, Tak perduli wawan hadir atau tidak toh slama ini dia tak pernah sekalipun menyenangkan hatiku saat hamil. Semua ku lakukan sendiri, ada ataupun tidak nya dia sma sekali tak berpengaruh apa-apa sebenarnya. Hanya sebagai status sosial saja sepertinya.


2jam berlalu, akhirnya bayiku lahir. Dia laki-laki, untung saja wajah nya mirip aku hehe jadi aku sedikit lega dan bangga. Saat bayiku sudah lahir baru lah ibu dan anak (suami dan mertua) itu menjengukku, kesal rasanya melihat wajah mereka. Ingin ku hantam saja rasanya, hhhhmmm tapi yasudah lah hanya satu doaku semoga mereka sadar.

__ADS_1


Wawan mana mau tahu soal biaya. saat aku dan anakku pulang, ada satu ritual adat di kampungku yaitu membagikan nasi "brokohan" namanya, sebagai ucapan syukur atas kelahiran bayi. Itupun aku menggunakan uang tabunganku sendiri, jadi semenjak bayi ini (anakku) lahir semua biaya dari aku sendiri. Wawan tak tahu menahu tentang semua pengeluaran ku ini, dan mungkin tak mau tau.


Sekilas mertuaku senang sekali atas kelahiran cucu pertamanya, hingga hampir setiap hari dia menginap di tempat tinggal kami. Tapi sayangnya beberapa waktu ku baru merasa beliau bukan malah membantuku mengurus bayi, melainkan beliau malah makin menambah beban ku. Bahkan di malam hari saat bayiku mulai rewel beliau berkata "ck,... berisik sekali anakmu itu, tak becus kah kau menjaga anakmu", lalu di sahuti suara wawan "dasar, jadi ibu tak becus kamu".

__ADS_1


Ya Tuhan, tak ada kah yang perduli dengan aku dan bayiku sedikit saja, sebentar saja. Aku tertekan saat itu, untung saja aku masih kuat mental dan tak terkena syndrom baby blues. Aku harus semangat demi bayiku, tak boleh stres agar ASI ku tetap lancar.


__ADS_2