
Ku akhiri hubunganku dengan eza sesaat setelah aku berkunjung ke rumahnya, berat memang tapi hubungan tanpa restu dari ibu dan keluarganya mau bagaimana kami nanti menjalani nya. Saat memutuskan hubungan aku juga menyanggupi untuk mencicil hutangku pada Eza, dia terdiam dan terlihat dari raut muka nya sangat kecewa. Tak lama setelah keputusan yang ku buat, Eza mengundurkan diri dari pekerjaan nya yang sekantor denganku, semua karena dia sudah menerima pekerjaan yang lebih baik. Ku dengar dia akan ke luar pulau untuk pekerjaan barunya.
Tanpa pamit dan sudah memutuskan segala hubungan baik bertemu ataupun telepon, dia sudah berangkat untuk merantau.. di saat itu aku masih sangat memikirkan hutangku kepadanya, aku harus bisa mengembalikan semua yang telah di berikannya padaku. Tak terasa Tiga bulan sudah ia merantau.. dan dia tiba-tiba menghubungiku via telepon, katanya dalam waktu dekat dia dan keluarganya ingin berkunjung kerumahku. Sesaat aku terdiam dan bergumam apakah benar ini akan terjadi, apa yang akan mereka lakukan saat berkunjung kerumah ku. Sementara terakhir kali pertemuanku dengan keluarganya sangat tak menyenangkan, dan selalu terngiang di ingatanku.
__ADS_1
Aku mulai resah memikirkan perkataannya, karena selama tiga bulan terakhir aku sudah mulai membuka diri untuk Fahri. Fahri adalah teman kecilku, kami bertemu tak lama setelah hubungaku dan eza berakhir. Dan semakin lama berhubungan dengannya rasa nyaman itu mulai ada karena dia dengan sabar menasehatiku.. mendengar semua keluh kesahku... dan dewasa menghadapi sikapku. Namun payahnya orang tuaku tak pernah menyukai Fahri, hanya karena Fahri bekerja sebagai buruh di perusahaan kecil. Entah apa yang terjadi pada orang tuaku, mereka tidak biasa-biasanya memikirkan soal jabatan atau pekerjaan seseorang.
Saat hari itu tiba aku tak menyangka, kunjungan Eza dan keluarganya kerumahku adalah untuk melamarku. Aku bingung atas semua ini, entah aku harus bahagia atau apa. Yang ku ingat adalah kata-kata ibunya yang tak merestui ku berhubungan dengannya, namun mengapa saat ini malah mereka ingin melamar ku. Mau tak mau Lamaran itu di terima oleh orang tuaku, mengingat eza terlihat sangat menyayangi anakku.
__ADS_1
Aku tak bisa berfikir lagi.. Hahaha.. ketalauan melandaku. Saat akan pulang dari bertemu fahri, ternyata bapakku mengikuti sedari tadi. Dengan muka marah bapakku mendatangi kami, menyeret Fahri dan menghajarnya. Entah mengapa bapakku sangat membencinya, sampai kini aku tak tahu jelas apa alasannya. Semenjak peristiwa itu fahri pulang ke kampungnya di jawa tengah dan tak pernah kembali. Begitu malunya aku ini atas perlakuan bapakku kepadanya.
Aku melanjutkan persiapan pernikahan ku dengan eza, demi orang tua dan anakku aku akan menjalaninya. Semoga saja tak terulang semua kesakitan yang ku alami di pernikahan ku, sementara aku menyiapkan sendiri pernikahan ku dengannya eza tetap berada di pulau sebrang untuk bekerja.
__ADS_1