GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
Bukti Ku telah Kuat


__ADS_3

Sesampainya aku di rumah, wawan terlihat sedang berbaring di atas kasur kami. Sesekali dia tersenyum sembari memandang HP nya, hhhhmmm entah Chat dengan siapa akupun tak tahu. Saat aku mengucap salam, wawan terkejut dan menyembunyikan HP nya. Dia berkata padaku "kenapa tak minta di jemput, tadi pulang naik apa?". "Ahh... dari tadi aku menelpon mu kenapa tak kau jawab, padahal HP selalu kau pegang!" gumamku dalam hati.

__ADS_1


Tak ku hiraukan pertanyaan nya, aku merebahkan tubuhku di kasur tak jauh dari posisi suamiku. Tak lama kemudian ku dengar ocehan anakku, suaranya semakin mendekat. Ya ibuku membawa anakku padaku, kangen rasanya dengan anakku yang semakin pintar ini. Hari semakin larut, anakku sudah terlelap segera ku mengikutinya berpetualang ke pulau mimpi hehe. Bahagia sekali rasanya memeluk anakku ini, setelah 3 hari aku meninggalkannya untuk menjalani proses oprasi kemarin.

__ADS_1


Di tengah malam anakku terbangun, minta minum ASI ku. Dia membangunkan ku dengan kata-kata yang lucu "emak, emak.. mimik *****!". Aku yang setengah sadar menurutinya, ku lihat di sampingku HP suamiku. Mungkin dia lupa menyimpannya lagi seperti saat pertama dulu ku temukan hubungannya dengan Laily.

__ADS_1


Wawan terbangun, ia terkejut melihat HP nya di genggamanku. Seperti kesurupan rasanya tak sadar dengan apa yang ku lakukan saat itu, aku memukul wawan, melemparinya dengan semua benda di sekitarku. Sampai dimana Pisau di tanganku menghadang leher wawan, dia pasti tak menyangka aku akan semarah ini. Mengingat selama ini aku adalah orang yang super sabar baginya. Malam yang damai berubah menjadi ricuh. Keributan yang kami timbulkan sampai ke telinga ibuku, beliau langsung ke tempatku untuk membawa pergi anakku. Bukan.. ini bukan rasa cemburu tapi ini rasa kecewa yang sangat dalam, yang kurang lebih selama dua tahun aku pendam. Selama ini aku tak pernah berbuat macam-macam walaupun wawan tak pernah memberiku uang atau nafkah, tapi mengapa tega sekali wawan terhadapku. Tak terkontrol emosiku sampai aku lupa luka bekas operasi ku belum kering.

__ADS_1


Aku menelfon risa, meminta baik-baik agar risa datang ke rumahku, di ujung kamar wawan hanya bisa diam melihat ku yang sejak tadi berbincang dengan risa di telfon. Ku melirik jam di dinding sudah pukul 02.00 Tak di sangka risa datang tepat setengah jam setelah ki telfon, perempuan apa yang berani dini hari datang ke tempat orang lain. Bisa di pastikan risa bukan perempuan baik-baik pikirku, Seorang perempuan bernama Risa itu tepat di hadapanku. Tinggi? tidak bagiku, dia setara dengan tinggi pundakku, jika cantik? menurutku cantik itu relatif, putih? kulihat putih memang wajahnya tetapi tidak untuk leher dan badannya.

__ADS_1


__ADS_2