
Beberapa bulan kemudian aku hamil anak ke-3 ku, aku tak ingin kehilangan lagi. Ku jaga baik-baik kehamilanku ini, sebisa mungkin aku tak menghiraukan kelakuan wawan yang membuat ku stres. Aku berusaha keras menjaga bayi yang ada di kandungan ku, cek tiap bulan walaupun tanpa wawan. Ya... aku mulai mandiri tanpa wawan.
Di kehamilanku usia 7bulan wawan menghianatiku, dia menjalin hubungan dengan wanita lain. Semakin dia menghianatiku, semakin kasar perlakuannya padaku. Sampai pada suatu hari tiba-tiba aku ingin di manja entah ini kah yang namanya "ngidam" ak tak tau, karena selama ini ak tak perna se manja ini dengan wawan. Aku ingin martabak telur waktu itu, aku ingin wawan yang membelikannya untukku tak ingin orang lain. Namun mungkin waktu yang kurang pas karena wawan baru saja pulang dari tempatnya bekerja, atau memang dia yang tidak mau memenuhi permintaan ku.
__ADS_1
Saat aku mengatakan permintaanku wawan menonjok mataku dengan keras, aku kaget.. kenapa permintaanku yang hanya ingin martabak telur sederhana saja dia menjawabnya dengan sebuah pukulan yang mendarat di pelipis mataku sebelah kiri. Aku tak tau apa yang merasukinya, dia terus menghajarku. Rasanya telinga kiriku terobek oleh kukunya, aku tak bisa melawan. Kondisiku yang hamil besar memaksaku pasrah, aku hanya ingin anakku yang di dalam kandungan ini tidak menjadi sasarannya.
Akhirnya aku pingsan.
__ADS_1
Cukup lama aku tak sadarkan diri, saat aku terbangun sudah terdengar adzan subuh. "Ya Tuhan, suami macam apa dia" Kataku dalam hati, yang berani memukul istri nya yang sedang hamil. Subuh pun berlalu, aku bersiap untuk kerjam Namun make up pun tak bisa menutupi luka lebam di pelipis mataku. Untung memang sehari-hari aku memakai kacamata, karena memang mataku minus. Sedikit membantu menyamarkan luka lebam menurutku, tapi tidak pada rekan-rekanku yang peka. Mereka berulang kali bertanya kenapa mataku hitam lebam, hhhmmm susah aku mencari alasan.
Andai bisa aku teriak... Mengapa garis takdirku seperti ini, kapan aku akan bahagia. Sampai kapan aku bisa bertahan dengan lelaki kasar. Kalau tidak sedang mengandung anaknya saat ini, aku tak tahu apakah masih saja bertahan. Bodoh memang, tapi semua ini hanya demi anakku.
__ADS_1
Aku masih saja berharap wawan bisa berubah, menyayangiku dengan tulus seperti pertama kali dia menikahiku. Ku coba bertahan, walaupun semua ini menyiksa batin dan ragaku. Kekerasan yang semakin sering dia lakukan padaku, penghianatan yang tak henti-hentinya. Semakin lama aku semakin terbiasa, itu makanan sehari-hariku.. pukulan, cemoohan, ah... aku hanya bisa berdoa smoga anakku di dalam tidak memahami kelakuan ayahnya, tidak meniru perilaku ayahnya.
Bulan ini sudah mendekati hari perkiraan lahir, kontrak kerja ku juga sudah habis dari satu bulan yang lalu. Syukurlah meskipun tidak banyak aku sudah mengumpulkan uang dari gajiku untuk persiapan melahirkan normal.
__ADS_1