
Aku mulai menjalani kehidupanku sebagai karyawan di perusahaan yang baru saja aku lamar, posisiku sebagai kasir. Seperti di episode sebelumnya aku sudh menjelaskan, bahwa di perusahaan tersebut aku taken kontrak 6 bulan. Jujur saja gaji yang di tawarkan padaku oleh perusahaan tersebut jauh lebih tinggi dari pendapatan suamiku, aku tak pernah sombong padanya atau membeda-bedakan gaji yang ku dapatkan dengan gaji nya. Tapi entahlah apa yang di pikirkannya, dia menganggap aku ini tak menghargai dia karena masalah gaji yang terpaut jauh di bawahku.
Padahal, berapapun pemberiannya ku terima walaupun mungkin oleh orang lain itu tak cukup untuk belanja sehari-hari. Dia menafkahiku Rp.20.000,- perhari, apabila uang itu masih utuh dan tidak ku pergunakan dia tidak akan memberi tambahan. Seperti tempo hari uang yang dia berikan masih ada di tempat semula, di atas meja tv. Lalu dia melihat uang itu masih ada, hhhmmm.. tujuanku sih untuk ku simpan, tapi aku lupa. Keesokan harinya dia tak memberiku uang lagi. Ya.. Tuhan.... Rumah tangga macam apa ini.
__ADS_1
2bulan tak terasa berjalan, aku hamil anak ke-2 ku. Tapi aku cepat lelah, kerja pun tak kuat ku berdiri. Aku meminta keringanan pada perusahaan, agar di ijinkan menggunakan kursi di area kasir, Syukurlah perusahaanku memaklumi. Saat cek kandungan yang ke tiga bulan, ternyata janinku tak berkembang dengan baik. Dokter menyarankan abortus, tapi aku tidak mau. Aku ingin mempertahankan anakku, tapi Tuhan berkata lain. Aku keguguran "lagi". Karena janin yang ku kandung tidak berkembang, hanya kantung rahimnya saja yang membersar. Ya... mungkin ini teguran lagi untukku, tapi tetap saja aku tak menghiraukannya.
Untuk kedua kalinya aku Kuret, membersikah rahim dari sisa- sisa kotoran di rahim. Terpaksa aku izin peda perusahaan tempatku bekerja. Seminggu berlalu, aku kembali beraktivitas. Seperti biasa jika ku sakit, wawan tak memperlakukanku dengan baik.
__ADS_1
Sengaja ku menutupinya, aku tak ingin ibuku memikirkan masalah rumah tangga yang ku alami. Memang selama ini yang kurasakan hanya tekanan batin dari sikap wawan, tetapi lama-lama wawan pun mulai berani memukul bahkan menghantamkan tangannya ke wajahku. Banyak bekas luka lebam di badanku akibat dari perbuatan wawan, namun sebisa mungkin ku menutupinya.
Pernah sesekali ibuku memperhatikan bagian lenganku, di situ ada luka lebam dan goresan kuku dari wawan. Namun aku mengelak saat ibuku bertanya "kenapa lenganmu,apakah suamimu yang melakukannya?", ku jawab "tidak, aku kurang berhati-hati saat berkendara dan tersrempet kendaraan lain". Syukurlah ibuku percaya. Aku berbuat demikian karna ku berfikir aib suamiku adalah aibku, jadi apapun yang terjadi kepadaku aku tak mau orang lain mengetahuinya. Apalagi orang tuaku, tak sampai hati aku menyakiti hati mereka jika mereka tau anaknya di perlakukan sedemikian rupa oleh suaminya sendiri. Biar aku simpan, semampuku pikirku. Sampai nanti aku tak kuat lagi membendungnya, entah sampai kapan waktu itu tiba akupun tak tau. Karena ku masih berharap wawan berubah, berubah jadi sosok suami yang menyayangiku.
__ADS_1