
Di sela-sela persiapan pernikahan ku dengan eza, musibah kecil terjadi.. Anakku masuk rumah sakit karena terkena infeksi paru-paru sebab dari asap rokok teman- teman bapakku dan tidak sengaja terhirup olehnya. Seminggu lamanya dia di rawat, tak sanggup rasanya melihatnya terbaring lemah. Kurasa semakin mendekati hari pernikahan semakin ada saja hal-hal yang tak menyenangkan terjadi. huuuhhh.... Entah lah semoga saja ini bukan pertanda buruk, dan semoga aku tetap kuat untuk menjalani semua ini sendiri.
Aku harus menguatkan diri sendiri untuk menjalani semua ini, sembari bekerja aku mengurus anakku yang terbaring sakit.. ta ada yang membantu karena eza pun masih d luar pulau menyelesaikan pekerjaannya sebelum cuti menikah nanti.. hanya pagi hari ibuku datang untuk menggantikanku menjaga anakku di rumasakit, sedangkan aku bekerja. Namun di tengah waktu yang kurasa padat itu, membuatku merasa akulah yang paling repot sendiri dengan pernikahan kami, dan di tambah lagi anakku yang keadaannya tak kunjung membaik. Hal ini kadang membuatku frustasi... aaaarrrggghhh... Ya Tuhan.... kuatkan aku....
__ADS_1
Saat setelah anakku keluar dari rumah sakit pun ujian tak kunjung berhenti, tiba-tiba ada hal lagi yang mengganggu ku. Kali ini mantan suamiku datang setelah mendapat kabar bahwa anaknya baru saja keluar dari mlrumah sakit, dia bermaksut untuk merebut hak asuh anakku. Alasannya aku tak becus menjaga anakku sampai-sampai dia terkena penyakit yang cukup serius. Hhhmmm... cobaan bertubi-tubi datang padaku dan anakku.
Tak terhindarkan lagi..masalah ini sampai pada sidang untuk dia mengambil alih hak asuh anak dariku...
__ADS_1
Setelah masalah hak asuh anak, mantan suamiku membuat masalah lagi. Dia mengatakan Motor yang selama ini aku pakai ini adalah miliknya... Ya Tuhan... Apa lagi ini... Kenyataannya aku membeli kendaraanku ini dengan hasil keringatku sendiri, entah apa yang membuatnya seperti itu. Memang modus agar mengacaukan pikiran ku atau apa, aku tak paham pada pemikiran nya. Hobi sekali dia mengacaukan hidupku, tak bosan-bosannya mengusik kehidupanku.
Aku menceritakan semua pada eza, aku ingin berbagi keluh kesah. Namun ia mengatakan tak bisa mempercepat kepulangannya, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Aku nerasa tertekan, kesal, lelah, marah semua bercampur aduk di hatiku. Aku hanya ingin di temani, karena mungkin jika di hadapi bersama ini akan terasa mudah pikirku. Sayangnya eza tak bisa memenuhi permintaanku. Semakin lama aku semakin stress... keadaanku memburuk menjadi uring-uringan dan mudah kesal.
__ADS_1
Mungkin karena banyak masalah yang ku hadapi seorang diri, dan hasilnya aku jadi merasa sangat stress dan tak terhindarkan lagi aku pun meluapkan emosiku pada eza. Sempat kami bertengkar hebat karena moodku yang sering tidak bagus, namun eza yang umemahamiku mencoba mengalah. Dia mencoba mengajukan lagi cuti semua yang menjadi bahan protesku, Dia memutuskan kembali ke kota kami dan mengajukan cuti awal. Semoga saja tak hanya saat ini dia memahamiku, karena dalam rumah tangga lelaki sebaik apapun di awalnya akan bisa berubah.