GARIS TAKDIR

GARIS TAKDIR
Membuang Bimbang


__ADS_3

 Mungkin ia benar. Aku hanya menyerah dan melarikan diri. Aku hanya tidak siap untuk menerima kondisi yang sudah seharusnya terjadi.


" Le ni kaeranakereba naranai, Sara. Anata ga site iru koto wa machigatte imasu ." (Kamu harus pulang, Sarah. Yang kamu lakukan ini salah). ucap Akari menatapku. Ia bilang aku hanya membuang waktu tanpa tahu apa tujuanku, juga Jepang dan Indonesia bukanlah jarak yang mudah dan dekat bila di tempuh.


" Kamu harus kembali kesana. Sayang waktumu, jika kau hanya membuangnya untuk hal yang sia-sia. Kau tahu, Sarah. Hidupmu belum berakhir dan kau masih memiliki episode panjang yang harus kamu lalui ." tambahnya kali ini.


" Tapi aku merasa bersalah karena meninggalkan Abi dihari itu! ."


" Ya, aku tahu, tapi dengan kau meratap seperti itu, kau pikir semua masalah akan selesai dengan sendirinya! ."


" Hidup, Sarah. Kau harus melanjutkan hidupmu dan berdamai dengan hatimu sendiri ." jelasnya lagi. Aku hanya tertegun mendengar perkataan Akari. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan sendiri, aku merasa kalut dan merasa tidak mampu melewati ini.


Aku sungguh menyesal telah melakukan itu. Bagaimana aku bisa menetapkan hatiku. Apakah aku sekarang tampak lemah?


***


Mama memintaku menjemput Sarah ke Jepang, bukan karena kami akan kembali, tetapi sepertinya keluarga mereka sedang ada masalah. Aku cukup terkejut ketika mama memberitahukan bahwa orang tua Sarah akan bercerai.


Benar, aku tidak tahu apa masalah Sarah selama satu Tahun lebih. Aku tidak dekat dengannya atau berusaha menjadi teman. Aku bahkan sudah tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Mungkin alasan Sarah pergi sebab itu, ia seseorang yang selalu tidak siap menerima kenyataan.


Tidak hanya Sarah, aku ketika kecilpun seperti itu. Aku tidak siap menerima perpisahan itu. Perpisahan yang bahkan Ayah tidak menginginkannya. Itu yang paling menghancurkan, dan itu yang membuat aku tidak dekat dengan Ibu.


" Wajar saja jika Ayahnya ingin bercerai, ia bahkan sudah tidak mencintai istrinya. Memangnya siapa yang bisa menyalahkan cinta!? ." ucap Mama menatap ke arahku dan Bagas. Mama seperti membenarkan keputusan yang dibuat Ayah Sarah. Aku hanya tersenyum tanpa arti mendengar penuturan Mama. Tentu ia akan membenarkan, sebab yang terjadi sekarang persis seperti yang terjadi padanya dan Ayah.

__ADS_1


" Ya, Ibu paling paham tentang ini. Membenarkan semua yang salah tanpa memikirkan apa akibatnya! ."


" Apa maksudmu? Maksudmu aku salah? ." tanyanya kini yang tampak kesal.


" Tidak, aku hanya tidak tahu mengapa orang seperti itu harus membuat komitmen! ." ujarku tak mau kalah.


" Abi, jaga bicaramu. Kau membicarakan calon Ayah mertuamu! ." Bentak Ibu.


" Bahkan kau melakukannya! ." Bagas hanya diam saja melihat ketegangan yang terjadi diantara kami.


" Memangnya apa yang kau tahu, bocah tidak tahu bersyukur. Jackson, bawa ia pergi dari sini! ." Sergah Mama cepat. Bagas melihat ke arahku dan mengajak kami pergi dari sana.


Setelah dari sana Bagas menghempaskan tanganku dan melayangkannya di udara.


" Ada apa denganmu? Mengapa kau harus berdebat. Aku tidak paham Abi, mengapa Sarah begitu membuat pikiranmu kacau ."


" Aku tidak tahu apa yang kau lewati selama ini, aku minta maaf jika menyinggungkanmu tadi ." Jelas Bagas.


***


Kabar perceraian orangtuaku sudah terdengar olehku. Ah bukan, tepatnya Papa-lah yang sudah mengajukan gugatan cerai untuk Mama di Pengadilan dan akan segera menikahi selingkuhannya.


Lebih anehnya adalah ketika aku tahu jika selingkuhan Papa adalah perempuan bersuami dan sudah memiliki anak perempuan seusiaku, dan perempuan itu pun sama seperti Papa yang tengah mengajukan gugatan cerai untuk suaminya. Aku tidak habis pikir mengapa Papa melakukannya, dan Mama? Bagaimana dengan ia nanti?

__ADS_1


Mama menangis disela ia menelponku, Mama meminta maaf berkali-kali sementara aku benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Meski aku tahu, perasaanku sedih dan kecewa. Aku juga marah, tapi tidak tahu pada siapa. Apakah pada Mama ataukah juga Papa?


Aku sudah tiba di Bandara Indonesia satu jam yang lalu. Benar-benar seperti permainan hidupku yang sekarang, pulang-pergi dan begitu seterusnya. Aku melihat Papa ada disana dan melambaikan tangannya ke arahku. Senyumku seketika memudar kala aku tahu, ia tidak sendirian, ada seseorang yang tengah bersamanya. Tepatnya seorang perempuan.


Papa menghampiriku dan hendak memberi kecupan singkat seperti setiap saat kami bertemu, tapi sebelum itu, aku segera melangkah mundur hendak menjauh dari Papa.


" Kenapa Sayang? Kenapa kamu menghindari Papa? ." Tanya Papa menatapku dengan tatapan kebingungan.


" Tidak apa-apa, tapi kupikir sekarang Papa sudah tidak membutuhkan aku dan Mama ." Ucapku menoleh pada perempuan itu. Ia tampak tersenyum mendengar itu.


" Oh, jadi kamu sudah tahu, rencananya pada ingin segera meni---- ," ucap Papa terpotong karena aku segera melanjutkan ucapannya.


" Papa tidak perlu repot mengenalkan perempuanmu padaku, tapi jangan temui aku lagi setelah ini. Hubungan kita selesai! ." Ucapku begitu saja. Aku menahan amarahku dan mencoba biasa saja. Bukankah papa keterlaluan? Ia sudah berani mengenalkan wanita itu padaku bahkan sebelum proses perceraiannya berakhir. Wanita itu tak kalah tercenggangnya seperti Papa.


" Mengapa kau mengatakan itu pada Papamu! ." Tambah perempuan yang aku bahkan tidak tertarik mengetahui siapa namanya. Yang jelas yang aku tahu, ia sudah menghancurkan hubungan kedua orangtuaku dan aku membencinya. Aku berlalu dari sana tanpa mengatakan apa-apa dan tidak peduli dengan teriakan papa yang berusaha menghentikanku.


Bagiku ini nampak jelas, Papa memang tidak membutuhkanku atau pun juga mama. Aku disambut Mama di depan Rumah.


" Kenapa Ma, kenapa Mama Papa mau bercerai? ." Mama menggeleng mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa.


" Kenapa Mama tidak tahu, bukankah Papa mengatakannya pada Mama? ." Tanyaku lagi, tapi Mama masih menjawabnya dengan mengatakan bahwa ia tidak tahu, tapi entah itu seolah mengatakan, aku sedikit meragukan mama kali ini, sebab ia tampak khawatir dan berusaha menutupi sesuatu.


Tapi semoga saja aku salah. Aku segera berlari menuju ke Kamarku, dan tidak perduli kepada Mama. Ini salah mereka berdua. Sedewasa pun aku, aku tidak akan pernah siap menerima ini semua. Mereka adalah satu-satunya orang yang paling aku miliki, dan aku tidak ingin, kehilangan keduanya. Itu sebabnya kenapa aku tampak marah.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk mengurung diriku di Kamar dan tidak membukakannya untuk siapapun, termasuk Papa dan Mama, meski mereka mencoba mendekatiku.


 Bersambung,...


__ADS_2