GEA

GEA
Keluar


__ADS_3

Semakin dekat dengan ruangan sang ibu jantung Gea berdetak begitu cepat,ada rasa bahagia dan rasa takut di hatinya.


namun setelah tiba tepat di depan pintu ia meminta dokter untuk berhenti,untuk mendengar apakah ibunya sudah sadar karna ia tidak ingin ibunya tahu tentang keadaan nya,dan ia juga tidak ingin siapapun tahu kalau ia sudah menjual ginjalnya.


Ia berdiri dan berjalan sendiri masuk ke ruangan itu dengan dokter dan perawat itu menunggu nya di depan.


Gea mengenakan jaket dan sendal biasa sehingga ia tidak terlihat seperti pasien rumah sakit.


Jihan dan Windi yang berada di dalam saat mendengar suara pintu di buka mereka langsung menoleh bersamaan.


Jihan begitu terkejut melihat Gea yang tampak baik-baik saja, meskipun ia ingin menangis melihat nya tapi ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Namun Windi yang tidak tahu keadaan Gea,ingin berlari menghambur memeluk nya beruntung Jihan dengan cepat menahan tangan nya.


Windi bingung kenapa Jihan menahan nya,namun Gea dengan cepat menghampiri nya dan memegang tangan nya.


"Kak Gea!ibu sudah melewati masa kritis nya tapi beberapa hari ini belum Sadarkan diri juga"ucapnya setelah Gea berdiri di samping nya.


Gea berjalan dengan perlahan mendekati brankar ibunya itu dengan air mata berkaca-kaca setelah hampir dua bulan ia akhirnya bertemu dengan ibunya lagi meskipun dengan keadaan yang tidak baik.


"Ibu"panggil nya dengan lirih setelah menyentuh tangan Qanaya yang belum Sadarkan diri juga,air mata nya tiba-tiba mengalir dengan deras dan menjadi sesegukan.


dadanya begitu sesak melihat keadaan ibunya kenapa semua itu harus terjadi pada ibunya,ibu adalah satu-satunya alasannya untuk tetap bertahan sampai saat ini tapi alasan bertahan hidup nya kini terbaring lemah.


ia duduk di samping brankar ibunya itu dan mencium tangan nya, membuat darah nya berdesir itu adalah kali pertama ia mencium tangan ibunya setelah sekian lamanya dulu saat ia masih berusia 5 sampai 15 tahun ia begitu sering diam-diam masuk ke kamar ibunya dan mencium wajah dan tangan ibunya bahkan memeluk nya namun begitu berhati-hati agar tidak ketahuan.

__ADS_1


sejak ia berusia 2 tahun ibunya tak pernah lagi peduli padanya bahkan di usianya saat itu adalah awal dimana ia tidak pernah tidur bersama ibunya lagi,dan tak memperbolehkan nya lagi untuk menyentuh ibunya mencium dan memeluk ibunya padahal pada saat itu ia masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu dan masih butuh asi.


tapi pada saat itu seolah-olah ibunya tak lagi menganggap nya ada


"aku hanya ingin melihat ibu baik-baik saja,agar aku bisa menghadapi kehidupan ini Bu"gumam nya dengan terus menangis.


membuat Jihan yang melihat nya ikut menangis,ia bisa melihat dari cara tangis Gea yang tampak begitu lemah dan sangat sedih padahal sejak ia bertemu Gea dua bulan yang lalu tak sekalipun ia melihat Gea menangis,ia hanya melihat wajah dingin Gea meskipun sedang tersenyum.


ia berbalik untuk menangis,ia tak kuasa melihat Gea.


setelah beberapa saat Gea merasakan perutnya sedikit sakit,jadi ia ingin segera pergi karna tidak ingin terlihat begitu pucat di sana.


"Windi aku...aku akan pergi dulu besok aku akan datang lagi"ucap Gea membuat Windi mengangguk,ia ingin sekali ikut dengan Gea tapi ia harus menjaga ibunya,ya meskipun Jihan ada di sana ia tidak ingin meninggalkan ibu tirinya itu.


"kak terimakasih sudah membayar hutang yang di tinggalkan kakak ku Wandi"ucap Windi dengan tersenyum ikhlas,dan memeluk Gea.


"tapi kak Gea, darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?"tanya Windi tiba-tiba.


Gea sama sekali tidak menjawab,sudah sepantasnya itu di tanyakan dan ia sudah yakin Windi akan bertanya itu,"aku meminjam nya dari beberapa teman ku dan tempat bekerja ku"ucap nya dengan serius dan terlihat tidak berbohong untuk meyakinkan Windi dan juga Jihan yang juga sudah terlanjur mendengarnya.


Gea kemudian berjalan mendekati Jihan,"terimakasih Tante sudah membantu ibu ku,aku janji akan mengganti uang untuk pengobatan ibu ku"ucapnya dengan bertahan kesakitan.


Jihan berusaha menahan air mata nya,ia juga tidak ingin Gea tahu kalau diri nya sudah mengetahui keadaan nya jadi ia mencoba tersenyum lebar dan mengangguk,ia tidak bisa berbicara karna itu hanya akan membuat air mata yang di tahan nya mengalir, padahal ia ingin mengatakan pada Gea kalau ia tidak perlu memikirkan nya.


Karna tak bisa menahan rasa sakit nya lagi ia segera pergi,tapi pada saat akan keluar ia menoleh ke arah ibunya lagi air matanya mengalir lagi tapi dengan cepat langsung keluar dan menutup pintu dan duduk di kursi roda.

__ADS_1


kemudian suster itu mendorong kursi rodanya dan meninggalkan ruangan itu.


tak Berapa lama Gea di dorong menjauh Jihan keluar dan melihat pemandangan itu sehingga air mata yang di tahan nya kembali mengalir.


***


4 hari kemudian


Gea sudah bersiap untuk pulang,ia ingin bertemu dengan ibunya yang sudah sadar saat ini dan ingin kembali ke universitas yang sudah ia tinggal kan selama satu Minggu.


Jonathan begitu senang melihat Gea yang sudah tampak sedikit baik-baik saja,ia menawarkan diri untuk mengantarkan nya tapi Gea menolak.


"terimakasih"ucapnya dengan sedikit menunduk tanda berterima kasih.


"terimakasih dokter"ucapnya.


"iya,jaga dirimu baik-baik nak dan datang lah ke rumah sakit sesuai waktu yang saya berikan"ucap dokter itu.


Gea mengangguk dengan tersenyum tipis,ia kemudian berbalik dan pergi sungguh tak sabar ia bertemu ibunya.


Jonathan yang melihat kepergian Gea hanya bisa tersenyum sedih,ia kemudian mengantarkan Gea sampai ke luar.


Gea berjalan meninggalkan ruangan itu yang sudah menjadi tempat tinggal nya selama tujuh hari.


Ia berjalan dengan lurus di koridor yang panjang itu, *kehidupan memang harus di jalani dan takdir yang sudah di tentukan harus di terima meskipun tidak begitu mudah tapi harus tetap diterima dan dijalani berharap menemukan cahaya terang dan bahagia di depan sehingga membawanya dari kegelapan yang berkepanjangan.

__ADS_1


bersambung*....


__ADS_2