GEA

GEA
Gea 68


__ADS_3

malam hari kembali Gea dan Qanaya sudah ada di rumah,ketiga nya makan bersama seperti biasa sembari bercerita.


namun Windi tak seperti biasa yang sekarang lebih banyak diam membuat Qanaya dan Gea Saling melihat.


"Windi jika kau bosan di rumah katakan saja pada ku,aku akan membawa mu jalan-jalan keluar",ucap Gea.


"terimakasih kak Gea tapi aku bosan"


"Windi apa kau ingin kembali sekolah?",tanya Qanaya juga khawatir karna Windi tak seperti biasanya.


Windi menggelengkan kepalanya,"tidak Bu,aku tidak ingin sekolah lagi"ucapnya serius memakan makanan yang di piring nya.


hal itu membuat Gea dan Qanaya menghela mereka berfikir kalau Windi bosan atau mungkin merindukan kampung mereka.


"besok aku tidak akan pergi ke kampus,bagaimana kalau kita jalan-jalan"ucap Gea untuk membuat Windi tersenyum lagi.


"itu ide yang bagus"ucap Qanaya menyambung ucapan Gea.


Windi tersenyum kecil dan mengangguk kan kepala nya.


"baiklah kalau begitu besok pagi kita akan langsung pergi,oh iya bagaimana dengan Bu apa kau akan ikut dengan kami?"tanya Gea membuat Qanaya tersenyum dan menggeleng kepalanya.


"Ibu di rumah saja,kalian saja yang pergi"ucap Qanaya yang sebenarnya ingin pergi bekerja besok.


"kenapa Bu? ikut sajalah Bu"ucap Gea berusaha membujuk sang ibu,tapi sekeras apapun ia mencoba Qanaya tetap berisi keras tidak ikut.


***


ke esokan harinya Gea dan Windi sudah bersiap-siap pergi, sebelum pergi Gea mendatangi sang ibu yang duduk di ruang tengah menonton tv.


"Bu,beasiswa ku sudah datang dan jumlah cukup besar jadi peganglah ini, tidak perlu khawatir jika ingin menghabiskan nya karna seluruh uang kuliah ku sudah di potong"Gea memberikan sejumlah uang yang cukup banyak pada Qanaya hingga membuat Qanaya terkejut.


"apakah uang beasiswa memang sebanyak in", tanyanya.


"iya memang segitu Bu,ya sudah lah kami pergi bye"Gea tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan mereka.


terpaksa ia berbohong kalau itu adalah uang beasiswa nya,padahal itu sebagian uang yang diberikan Tania sebagai bayaran ginjalnya,ia menyimpan semuanya di bank karna tidak mau ibunya curiga darimana ia mendapat kan uang sebanyak itu.

__ADS_1


kedua nya kemudian pamit pergi meninggalkan sang ibu di rumah sendiri.


Gea memesan taxi seperti biasa,ia membawa Windi ke mall.


"apakah dia adik nyonya muda?"tanya supir itu melihat Windi dari spion.


"benar dia adik ku"ucap Gea.


"oh iya aku sudah mengatakan beberapa kali sebelum nya jangan memanggilku nyonya muda"ucap Gea setiap kali ia di panggil seperti itu ia selalu geli.


supir itu tak menanggapi ucapan Gea,ia hanya diam dan berkata di dalam hati,"bagaimana bisa aku tidak memanggil mu nyonya muda sedang kan kau adalah istri masa depan tuan ku", ucapnya dalam hati.


setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai di mall,Gea dan Windi turun di ikuti oleh supir itu membuat Gea langsung melarang nya,"akh tidak perlu mengikuti kami,bapak boleh pergi saja jika aku sudah selesai aku akan menghubungi bapak lagi"ucap Gea.


supir itu mengangguk,"baiklah kalau begitu nyonya muda"ucapannya kemudian pergi begitu saja.


Gea menghela nafas kemudian menarik Windi untuk masuk ke dalam mall yang sudah di depan.


***


sedangkan Qanaya bergegas untuk pergi bekerja setelah Beberapa saat Gea dan Windi pergi.


bagaimana pun ia memutuskan untuk tidak lagi kembali ke kampung.


ia memesan Taxi untuk pergi bekerja,namun ia tidak tahu kalau ada beberapa orang ternyata mengintai nya.


tidak jauh dari taxi yang di naiki Qanaya ada sebuah mobil dimana ada tiga pria di sana.


"Kita tidak salah orang kan?"


"tidak,aku yakin itu adalah orang nya"


"bukan kah Nyonya mengatakan kalau wanita itu memang tinggal di sekitar sini,tapi untuk memastikan ikuti taxi itu jika wanita itu bekerja di tempat yang di katakan nyonya berarti kita tidak salah orang lagi"


ketiga pria itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti taxi yang membawa Qanaya.


setelah beberapa menit perjalanan Qanaya akhirnya sampai di toko,ia turun dari mobil dan segera masuk tapi sebelum ia masuk ia menoleh ke belakang dan melihat sebuah mobil hitam Lewat yang sedari tadi berada di belakang mengikuti taxi yang ia naiki.

__ADS_1


"mungkin hanya perasaan ku saja"ucapnya dalam hati kemudian masuk tidak ingin memikirkan nya lagi.


tapi baru saja ia masuk ia cukup terkejut sudah ada orang di sana, biasanya saat ia datang toko itu masih sepi belum ada pembeli.


Namun tidak ingin memikirkan nya lagi,ia segera memakai seragam kerja nya.


"Qanaya tolong antarkan ini ke orang yang ada di sana"salah seorang karyawan di toko itu menyuruh Qanaya yang sudah selesai memakai seragam nya.


Qanaya menerima nya kemudian mengantarkan cake yang baru saja di buat itu hingga masih terasa hangat.


"selamat menikmati"ucapnya meletakkan kue itu tepat di depannya.


"kenapa kau tidak memakai pakaian putih?"tanya wanita itu tiba-tiba membuat Qanaya yang sudah melangkah akan pergi berhenti.


"maaf,maksud anda apa ya?"tanya nya sopan karna wanita itu adalah pelanggan merek.


"ckck seharusnya seseorang mengetahui hari kematian nya agar tau untuk memakai pakaian putih terkahir kalinya"ucap wanita itu lagi masih menunduk dengan topi hitam nya.


Qanaya menghela nafas tidak ingin melayani nya.


"Aku sudah memakai pakaian hitam untuk seseorang yang akan mati hari ini",ucapnya lagi membuat Qanaya tiba-tiba merasakan hal yang tidak enak dan resah.


tapi ia langsung pergi tak ingin mendengar kan ucapan orang asing itu.


wanita dengan pakaian serba hitam dan mengenakan topi itu tersenyum penuh arti.


***


"aakh!!"


"Kak Gea!!?kau baik-baik saja?"Windi langsung membantu Gea yang tiba-tiba jatuh.


"tidak apa-apa hanya keseleo sedikit saja"ucap Gea berusaha terlihat baik-baik saja padahal kakinya sudah begitu sakit.


"kenapa aku begitu lalai sampai kaki ku keseleo begini"ucapnya dalam hati yang tiba-tiba merasa tidak enak dan langsung memikirkan sang ibu.


"semoga semuanya baik-baik saja"gumam nya kemudian kembali melanjut kan mengelilingi mall membeli apa yang di sukai oleh adiknya itu.

__ADS_1



bersambung.....


__ADS_2